Perempuan itu Sensitif

Tepat sekali kalau di era milenium ini seluruh dunia sedang berpaling pada pengarus utamaan gender. Mungkin di sana sini perempuan itu sangat sensitif dalam setiap aspek kehidupannya. Makanya ada orang berpandangan bahwa bila ingin cepat maju dalam bisnis. Maka berbisnislah berbagai keperluan perempuan. Mengapa demikian ternyata yang membeli perlengkapan perempuan mungkin tidak hanya peremuan itu sendiri tapi laki-laki juga ikut memikirkan keperluan perempuan. Dan cenderung membeli perlengkapan peremuan untuk buah tangannya.

Walau demikian ternyata perempuan itu sering merasa tidak puas dengan kondisi yang ada. Sehingga ketika berdandan hampir semua anggota tubuhnya dipenuhi dengan berbagai asesoris. Dari mulai kepala, dahi, mulut, mata, hidung, dagu, telinga, leher. Tangan, kaki dada. Wah semuanya ingin serba dipasang asesoris. Rasa sensifitas perempuan perlu mendapat perhatian khusus. Kalau tidak!, mungkin akan setiap saat terjadi perang mulat. Setiap saat akan terjadi adu mulut, silang pendapat dan persoalan sepele saja bisa jadi besar. Bisa-bisa bagi laki-laki yang tidak tahan dengan sensifitas perempuan akan lari dari persoalan. Bahkan akan mencari sensasi lain di luar sana. Ketika sudah terjadi seperti itu pasati laki-laki lagi yang akan menjadi sasaran kemarahan sang perempuan.

Sekedar gambaran ringan dari sensifitas perempuan ditemui ketika menjelang liburan Natal tanggal 25 Desember 2011. Ketika itu ada undangan pernikahan di Taman Mini Indonesia Indah. Merencanakan keberangkatan dari Bandung ke Jakarta jam 05.00 WIB. Namun yang namanya keberangkatan rombongan perempuan. Dengan berbagai macam asesorisnya untuk dipasang sehingga jam 06.30 baru bisa berangkat. Ketika di sentil sedikit saja maka keluarlah berbagai alasan pembenar. Kan permpuan itu harus menyiapkan air angat, menanak nasi, memberi makan bayi, mendandani bayi dan beribu alasan pembenar atas keterlamabatan keberangkatan. Padahal yang menjadi penyebab adalah dandannya itu.

Sesampainya di Taman Mini Indonesia Indah tidak langsung ke tempat tujuan. Masih ada kesempatan untuk survei lokasi.  Namun karena acara jam 11.30 maka sempat  keliling Taman Mini Indonesia Indah. Bahkan masuk ke musium perhubungan. Ya namanya juga perempuan tidak serta merta memaknai apa yang akan dilihat di musium. Malah Lasmaya agak bete karena sang pacarnya ga ikut rombongan itu. Bahkan ada satu ganjalan pada diri Lasmaya karena keinginan untuk pulang ke Bogor di Daerah Caringin. Tidak diperbolehkan oleh kakaknya. Sehingga suasana masuk ke musium perhubungan sempat tesendat.

Bocah cilik perempuan dengan gayanya befoto di pesawat SAR berwarna jingga. Kemudian naik ke atas kapal Garuda. Setelah itu menuju menelusuri rel kereta api dan berbagai lokomotif serta gerbong yang sudah disimpan di musium perhubungan. Ketika masuk kemusium ternyata mengasikkan melihat berbagai perkembangan alat transportasi sungai, danau, dan perairan laut. Betapa brilyannya ide Ibu Tien Soeharto untuk membuat TMII. Karena disana penuh edukasi dan contoh konkrit bagi anak dan remaja yang mungkin di masa depannya akan menjadi pekerja yang militan. Atau jadi pegawai asal-asalan.

Di musium perhubungan tidak hanya aneka ragam alat transportasi. Tapi pakaian dinas pun dipamerkan disana dengan berbagai warna, ada yang putih, telur asin, abu-abu, ungu dengan berbagai atributnya. Daya imajinasi anak-anak yang berkunjung ke musium sangat cerdas untuk membaca dan memaknai setiap gambar dan pampangan berbagai alat dari mulai terbang pakai kelelawar, capung, sampai pada armada airbus. Dari mulai beca, sampai kendaraan bermotor di musium perhubungan itu ada. Yang unik ketika melihat stand DAMRI ( Djawatan Angkutan Motor Republik Inonesia ) di tahun 1945 menggunakan gerbong dari bambu  dianyam pakai atap rumbia ditarik dengan sapi. Melalui jalan yang serba becek.

Ketika ditanyakan kepada anti salah seorang perempuan yang berkarir di ASDP. Bahwa kini semua transportasi berada di dalam naungan Kementrian Perhubungan. Dan beruntunglah mereka yang menjadi karyawan dan karyawti di Perhubungan. Karena kini ada yang berada dalam pengelolaan BUMN dengan penggajian menggunakan standar kompetensi. Yang kompetensinya tinggi pasti gajinya besar. Bahkan kini miniatur alat transportasi di ‘Taman Mini Indonesia Indah itu ada. Dari mulai speda ontel, sampai pada monorel bahkan kendaraan danau ada pula di sana dengan modifikasi menarik seperti angsa. Ya harganya aneka ragam dari mulai 7.500, 15.000 sampai dengan puluhan ribu juga ada.

Walaupun BUMN yang mengelola transportasi itu menggunakan standard kompetensi teknis. Namun bukan berarti perempuan alumni Fakultas Ekonomi tidak bisa berkiprah di BUMN tersebut. Karena dalam pengelolaannya memerlukan prinsip ekonomi, jelaslah sarjana ekonomi di perlukan pula di BUMN yang bergerak di ASDP. Ataupun di kedirgantaraan, di Kelautan. Semua ilmu pasti ada gunanya. Bahkan Nina seorang pegawai tetaladan yang ramah itu pun mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat untuk menikmati layanan perjalan ASDP.

Lain lagi ceritanya dengan  Iman yang seharian bekerja di bidang perhubungan hampir tidak ada waktu untuk bercengkrama bersama keluarganya. Malahan istinya yang sangat sensitif ingin mendapatkan perhatian khusus. Apalagi di saat libur Natal tanggal 25 Desember 2011 mengajaknya pergi ke pantai untuk bercengkrama dengan keluarganya. Apalagi mereka pernah merasakan pahit getirnya mengarungi rumah tangga dari mulai merangkak. Sampai menjadi orang yang serba ada. Tapi bila tidak mendapatkan perhatian di hari libur pasti akan ngambek juga.

Apalagi ketika ombak berdeburan terdengar ke tempat penginapan. Perempuan sensitif dengan rasa ketakutannya dan dari rasa takut itu memerlukan orang yang mampu memberikan pertolongan dan perlidungan yang menyejukan. Minimal dengan kata-kata. Apalagi dengan dekapan kehangatan layaknya sebuah keluarga yang harmonis. Biasanya ketika ada kesulitan dan rasa takut mengganggu sang perempuan pasati meminta tolong kepada setiap orang yang dikenalnya mampu memberikan pertolongan. Makanya sesibuk apapun sang suami harus mampu mengayomi rasa sensitifitas sang perempuan. Bila tidak masing-masing akan mencari sensasi masing-masing dengan gayanya masing-masing.

Ketika sebuah kebahagiaan berlibur di pantai diabadikan dengan sebuah kamera. Namun ketika keduanya ada ketidak tulusan maka tidak sadar kamera. Bahkan berpose pun tidak nampak manis dipandang mata seperti keduanya penuh ke pura-puraan dan kamoplase belaka. Nampak keterpaksaan. Akhirnya sang perempuan bisa mengurung diri di kamar peristirahatan sambil memandang keayuan tubuhnya di depan kamera sambil telungkup/tengkurep memeluk bantal. Sorot matanya penuh kecewa dan ketidak ceriaan karena dipikirannya tidak fokus pada sang pendamping. Dikarenakan sang pendamping pernah menyakiti dan menghianati di depan mata. Rasa dendam sang perempuan bisa diekpresikan dengan kesensitifannya untuk menggapai sebuah kenyamanan dari pihak lain.

Begitu habis masa liburan di laut, segera meluncur kembali kerumah yang berada didaerah penyangga ibu kota. Dengan harapan bisa kembali bercengkrama bersama teman-teman dekat yang sering monitor satu hoby satu komunitas. Sambil menunggu rasa kantuk ditampilkanlah berbagai penampilan ekspresi raut muka dan warna gaun dari mulai gaun ungu, gaun merah, gaun biru. Terus saling berganti supaya indah dipandang mata. Tentunya keanggunan perempuan akan nampak serasi ketika perempuan muslimah itu menggunakan jilbab yang dipadukan dengan bros dan asesoris lainnya. Pakaian lapis dalamnya putih dipadukan dengan merah jambu nampak manis.

Rasa sensifitas perempuan menggunakan gaun, selalu dipadukan dengan situasi dan kondisi yang mempengaruhinya. Apakah lagi santai ,  lagi bercengkrama, lagi memandang orang. Bahkan sorotan mata perempuan itu bisa menggiurkan laki-laki lain yang melihatnya. Apalagi ketika menggunakan gaun biru dengan kerudung yang serasi nampak sorot matanya menantang penuh pengertian dan memerlukan perhatian setiap orang yang melihatnya. Dengan mendengarkan puisi cinta tapi jangan dib ayang bayangi  seperti diris sembilu.

Banyak Manusia Mengejar Amanah

Bagi umat Islam tidak akan pernah aneh bila melihat manusia berlomba-lomba ngejar amanah. Karena di dalam Al-qur’an telah dijelaskan “ketika amanah itu di sampaikan kepada langit, ditolaknya, disampaikan kepada bumi, ditolaknya. Tapi ketika disampaikan kepada manusia menerimanya”. Bahkan dalam perkembangannya manusia semakin dinamis. Bukannya menerima amanah. Malah mengejar amanah dengan berbagai dalih dan jargon. Tapi ujung-ujung-nya adalah girah untuk berkuasa. Bahkan ketika berkuasa lupa diri bahwa di depan akan bertemu dengan permintaan pertanggung jawaban.

                Ketika diminta pertanggung jawaban. Pasti dilempar pada orang lain, bahkan bersembunyi di  balik aturan yang dibuat-nya sendiri. Namun juga tidak sedikit para penguasa malah terjebak oleh suatu aturan dan kebijakan yang dibuat-nya. Dikira bahwa aturan itu akan menyelamatkan dirinya. Padahal yang akan menyelamatkan adalah akhlaq dan budhi pekerti diimbangi oleh kasih sayang. Aturan itu penting sebagai ukuran dan batasan untuk bertingkah laku supaya berakhlaq mulia. Sedangkan akhlaq mulia itu harus ibda binafsih.

                Situasi pasca reformasi rasanya sulit menemukan orang yang menjadi suri tauladan. Karena hampir disana sini terus ditayangkan berbagai temuan kejahatan dengan jargon KKN. Dengan ampuhnya jarogon kolusi, korupsi dan nepotisme. Maka orang yang ingin mempertahankan kekuasaannya berlindung di bawah jargon itu. Bahkan ketika menemukan orang yang menjadi rivalnya, akan dijerat dengan jargon tersebut. Lupa bahwa tugas manusia di muka bumi ini bukan untuk saling menghukumi. Tapi untuk memperbaiki akhlaq dan li-taarrofu. Menyebarkan kasih sayang-Nya Allah.

                Tantangan apa yang mesti dihadapi ke depan bagi bangsa ini. Tentunya memperbaiki akhlaq supaya tidak haus kekuasaan. Menghilangkan hujat menghujat. Memulihkan defisit anggaran. Menempatkan orang sesuai dengan keahliannya. Membuat orang nyaman di dalam institusi dengan budaya organisasi saling menopang dan saling menunjang. Menutupi aurat yang telah dibuka dan ditelanjangi oleh jargon transparansi dan akuntabilitas. Memulihkan trauma individu dan kelomok dari berbagai tuduhan miring. Memulihkan rasa percaya diri bahwa setiap individu punya potensi diri untuk dikembangkan menjadi sebuah manfaat bagi kesejahteraan umat manusia. Minimal bermanfaat bagi kesejahteraan dirinya sendiri.

                Budaya demokrasi seharusnya jangan meniru barat atau timur. Tapi kembangkan konsep “Inna aqromakum indallohi atqokum”. Jangan kembangkan demokrasi dengan hanya memperbanyak sesuatu. Apakah banyak “uang, suara, dukungan, koneksitas,”. Apalagi bila seseorang yang secara administrative memenuhi syarat, kemudian dikalahkan oleh seseorang yang banyak uang, oleh seseorang yang banyak suara melalui demontrasi, banyak dukungan karena intimidasi, banyak koneksitas karena sepaham. Terlebih lebih bila dukungan dan koneksitas itu sebagai akibat dari membeli suara dengan uang. Karena bila berawal dari uang pasti ujung-nya uang harus kembali.

                Ketika filosofi uang harus kembali maka hukum ekonomi akan mendominasi, hukum bisnis akan mewarnai kekuasaan seseorang. Mengapa demikian?karena hukum bisnis pasti berhubungan dengan jual beli. Ketika orang sudah beranjak dari musyawarah ke jual beli maka yang menjadi obsesinya mesti untung. Tentunya memperoleh untung itu dengan berbagai upaya dan strategi mengembalikan pulang modal dan mencari benefit. Sedangkan jual beli masa kini sudah bergeser dari system barter pada system valas. Maka orang akan lebih berfikir abstak dibandingkan dengan berfikir konkrit. Sehingga hanya memutar-mutar surat berharga seolah mendapat untung. Terjadilah ekonomi penggelembungan. Sehingga orang enggan berkiprah di sector produksi. Disebabkan bahan baku dan biaya produksi lebih rendah dibandingkan dengan keuntungan para delivery ataupun broker.

                Disaat tidak terjadi hubungan langsung antara penjual dengan pembeli maka perantara atau reveransir lebih lihai untuk mengeruk keuntungan. Untuk mengamankan keahlian dan keuntungan yang dikeruknya maka bermain lah dengan para oknum penegak hukum, oknum media, oknum pemasaran.oknum penguasa.  Akibatnya persaingan dan perdagangannya tidak sehat. Tidak muncul sifat antarodin ( tidak terjadi rido, pada rido ). Yang ada malah semua pihak merasa dirugikan. Muncul lah perantara yang bergerak di perlindungan konsumen. Sehingga sengketa terjadi dimana-mana. Anehnya di era reformasi itu tidak bisa Pengguna Anggaran berhubungan dengan pihak produsen. Semuanya harus melalui jasa pihak ke tiga. Dengan system pengadaan barang dan jasa. Bahkan memilih penyedia barang dan jasa saja harus melalui pihak lain yang dikemas dalam istilah ULP ( Unit Layanan Pengadaan). Maksud pengadaan barang dan jasa melalui ULP untuk menghindari jargon KKN. Tapi esensi bergeser dari cepat pada lambat.

                Itu semua muncul dari efek domino terlalu meratifikasi hukum internasional yang berhubungan dengan perdagangan internasional dan perdagangan bebas. Anehnya perdagangan local saja jadi ikut-ikutan menerapkan aturan internasional. Bisa dibayangkan pembangunan rehab posyandu saja sebanyak 7 unit masing-masing senilai Rp 10.000.000. Ketika jaman sebelum reformasi bisa di swadayakan oleh masyarakat. Namun setelah reformasi harus di laksanakan oleh pihak ke tiga atas putusan ULP. Sehingga nilai gotong royong dan kebersamaan antara warga yang ingin menyumbang untuk pembangunan posyandu jadi tersumbat.

                Kondisi ketersumbatan kreasi dan partisipasi masyarakat bisa berakibat pada prasangka, praduga yang tidak menerapkan lagi azas praduga tak bersalah. Sehingga terjadi instabilitas di internal maupun ekternal. Karena gampang saja orang dijadikan tersangka dan dipenjarkan. Efek negatifnya berdampak pada pemegang amanah. Sehingga dituduhkan para penguasa sudah tidak amanah lagi. Untuk menghindari itu semua maka aturan setiap saat diubah-ubah untuk melindunginya. Bahkan tidak cukup aturan yang harus dirubah. Malahan Undang-undang Dasar saja, yang dulu ketika orde baru dianggap sakral harus murni dan konsekwen. Malah sekarang terus di amandemen. Kalau di dalam Islam bila umatnya sudah berani mengubah Al-Qur’an dikatakan aliran sesat dan bisa dikatakan murtad.

                Muncul pertanyaan apakah bangsa Indonesia ini masih setia pada Pancasila dan UUD 45 atau malah sudah tidak mampu menjalankan Pancasila dan UUD 45. Kalau undang-undang dasar 1945 sudah dirubah beberapa kali apa masih ada Negara Indonesia ini?  Kalaulah NKRI ini harga mati, kenapa ketika beberapa pulau hilang dan ada pulau yang dicaplok oleh bangsa dan Negara lain malah memilih damai untuk memberikan daerah yang dicaplok itu. Dimana sebenarnya harga mati itu? Bukankah  banyak manusia mengejar amanah itu untuk mengabdi pada bangsa ini!. Atau hanya untuk memperoleh kekuasaan di dalam negeri  tapi tidak mampu berkuasa di luar negeri, dan tidak mampu berkuasa di dunia global. Kenapa urutan Indonesia bergeser dari urutan ke 107 kini menjadi urutan ke 124.??????

                Kepada siapa kegurdahan ini harus disampaikan? Apa masih ada pembela tanah air ini. Tegakah kita membiarkan pengorbanan para pejuang terdahulu merebut kemerdekaan dengan cucuran darah dan keringat. Sehingga harus mati menjadi suhada!. Bisakah sikap patriotism dan nasionalisme ini muncul dari setiap hati sanubari? Apakah kita semua sudah terbelenggu dengan jargon KKN? Sehingga semuanya takut dan duduk termenung memikirkan nasib bangsa ini? Ya Allah aku ini mahluk lemah! Tapi aku takut atas azab-Mu ya Allah. Janganlah Kau pikulkan ke pundak kami tugas dan amanah yang berat sekiranya akan menambah dosa dan rusaknya bumi ini. Apabila aku harus menjadi suhada aku siap asal ada dalam ridho dan lindungan mu ya Allah.  Cepat atau lambat aku harus kembali lagi ke pangkuan-Mu ya Allah. Ampuni segala dosa ku dan orang orang yang sholeh.

Gerakan Pramuka Menggeliat

Bagi aktivis gerakan Pramuka patut bersyukur dan merasa bahagia dengan diterbitkannya Unndang-undang nomor 12 tahun 2010. Karena dengan aturan itu akan mampu mendorong pencitraan gerakan pramuka. Karena di dalam konsiderannya dinyatakan bahwa Kesejahteraan Masyarakat bisa diperlolah melalui pendekatan; akhlak mulia, pengendalian diri dan kecakapan hidup. Yang nantinya akan mampu mencerminkan kepribadian manusia Indonesia potensial, terdidik dan berpengalaman mengarungi hidup dan kehidupan yang terjal ini.

                Mengapa gerakan pramuka mulai banyak diminati oleh OPD atau Institusi TNI atau Polri untuk mendidik karakter bangsa dengan jiwa patriotism dan wawasan kebangsaan yang menjunjung tinggi sikap nasionalisme. Karena gerakan pramuka merupakan organisasi yang mampu menyelenggarkan pendidikan kepramukaan untuk mengamalkan satya pramuka dan dharma pramuka. Sebagai proses pembentukan kepribadian, kecakapan hidup dan akhlak mulia. Secara berjenjang dari mulai gugus depan, komunitas, profesi, aspirasi bahkan agama sampai pada Kwartir Tingkat Nasional.

                Sebelum ada undang-undang nomor 12 tahun 2010 di Kota Sukabumi baru ada 4 Satuan Karya. Yaitu Saka Bhayangkara, Saka Bakti Husada, Saka Wanabakti dan Saka Kencana. Namun setelah dilakukan sosialisasi undang-undang kepramukaan mulai muncul Saka Wirakartika merupakan pramuka dewasa yang berpangkalan pada gugus darma kekaryaannya diorientasikan pada materi pembinaan kepemudaan. Tentunya tidak terlepas dari unsur pendidikan, pelatihan, pengembangan, pengabdian masyarakat dikemas dengan berbagai permainan  berorientasi pendidikan kepramukaan.

                Pencitraan gerakan pramuka mesti mengedepankan, kepribadian, keimanan, ketaqwaan, akhlak mulia, jiwa patriotism, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai bangsa, kecakaan hidup, mengamalkan pancasila serta melestarikan lingkungan hidup. Melaui pencitraan tersebut diharapkan akan mampu mempertahankan nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME. Cinta pada alam dan sesama manusia. Kecintaan pada tanah air dan bangsa. Kedisiplinan, keberanian dan kesetiaan. Tolong menolong, bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Jernih dalam berpikir, perkataan dan perbuatan. Hemat, cermat dan bersahaja bahkan rajin serta terampil dalam berkarya.

                Esensi pokok dalam gerakan kepramukaan bagaimana generasi muda mampu hidup mandiri, sukarela dan tidak memihak pada salah satu golongan. Untuk itu ketika dilakukan pelantikan Saka Wirakartika di Bumi Perkemahan Cikundul diperkenalkan dihadapan para peserta upacara beberapa media pencitraan pramuka mulai dari pengenalan. Lambang, Bendera, Panji, Himne dan berbagai pakaian seragam pramuka.

                Khusus bagi Bidang Humas dan Abdimas berupaya pada gerakan pramuka melakukan pencitraan melalui beberapa media diantaranya Blog, Facebook dengan alamat ”pramuka humas smi” kemudian email phumassmi@yahoo.com. Pembuatan spanduk dan baligo dalam setiap event bahkan memanfaatkan media radio dan bila memungkinkan pada media visual/TV. Upaya penctraan gerakan pramuka tiada lain untuk meningkatkan minat dan semangat para generasi muda bergabung pada gerakan pramuka. Karena terjadinya penyimpangan perilaku generasi muda disebabkan oleh kekosongan ruang bermain dan ruang berekspresi.

                Ide lain yang akan dikembangkan oleh Bidang humas dan Abdimas adalah melakukan keterpaduan kegiatan Bhakti TNI KB/Kes dengan gerakan Pramuka, Karya Bhakti untuk melibatkan pramuka, BSSMS digabungkan dengan gerakan pramuka. Bahkan kegiatan Bulan Bakti Gotong Royong juga bisa melibatkan pramuka. Tentunya dari gabungan saka yang sudah ada di Kota Sukabumi. Satu hal yang sangat menggembirakan gerakan pramuka di Kota Sukabumi adalah perhatian dan bantuan Walikota Sukabumi yang selalu memantau dan memberikan dorongan bagi aktivitas gerakan pramuka. Bahkan pada saat akan dilakukan event-event gerakan pramuka termasuk disaat akan dilakukan pelantikan Saka Wirakartika dipantau langsung oleh  Walikota. Maka wajar bila H. Mokh Muslikh Abdusyulkur, SM, Msi dianugrahkan sebagai Bapak Pramuka Kota Sukabumi.

                Secara berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya bahwa pramuka Kota Sukabumi terus ada progress dari mulai H. Udin Koswara sebagai Ka Mabicab maka Pramuka Kota Sukabumi diberikan Bangunan Sekretariat di seputar Gelanggang Remaja Sukabumi. Ketika kepemimpian Hj. Molly Mulyahati Djubaedi  dianugrahkan tempat yang representative berupa Bumi Perkemahan di Cikundul. Kepemimpinan H. Mokh Muslikh Abdusyukur dibuatkan Mesjid di Buper dan beberapa ruang secretariat Buper. Bahkan telah mengembangkan Dana Abadi Pramuka. Beruntung bagi Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Sukabumi mendapatkan pimpinan daerah yang peduli terhadap gerakan pramuka.

                Apabila Kwartir Gerakan Pramuka Sukabumi diberikan julukan sebagai kwartir tergiat. Karena setiap aktivitas gerakan pramuka tak pernah terlewatkan. Bahkan untuk periode tahun 2011-2016 telah direkomendasikan beberapa Kepala SKPD untuk ikut mewarnai gerakan pramuka. Diantaranya Sekretaris Umum, Waka Sarana dan Dana, Waka Organisasi dan Hukum, Waka Humas dan Absimas. Waka Bina Muda. Mermodalkan kepengurusan seperti itu diharapkan gerakan pramuka di Kota Sukabumi akan lebih maju dan lebih melangkah pasti.

                Tugas yang sangat mendesak dari kepengurusan Kwarcab periode 2011-2016 adalah untuk menyelesaikan hak kepemilikan atau hak penggunaan Buper. Karena dari hari ke hari semakin banyak organisasi ataupun masyarakat yang berkehendak untuk ikut mengelola dan mendayagunakan bumi perkemahan pramuka.  Di sisi lain adalah penataan kerindangan Buper dan penataan kecukupan air untuk pelaksanaan perkemahan.

                Selain masalah tersebut di atas juga perlu ada pembinaan penataan administrasi pengelolaan,kwartir, gugus depan, dan saka. Karena dari hari kehari ternyata APBN dan APBD semakin berpihak pada gerakan pramuka. Oleh karena itu untuk mempertanggung jawabkan keuangan yang transparan dan akuntabel diperlukan penataan pengadministrasian dan pelaporan secara sistimatis dan sistemik. Apalagi yang namanya pengelolaan keuangan yang bersumber dari APBN atuapun APBD sangat super ketat dalam pengawasan dan berlapis system pemeriksaannya. Beda lagi ketika anggaran dari dan oleh anggota. Maka pemeriksaan cukup dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan Internal Pramuka. Yang disesuaikan dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Tapi kalau sekarang harus mengacu pada undang-undang yang mengatur tentang pengelolaan keuangan negera.

Mengenang Pahlawan KB

Pasca reformasi semua persoalan dituduhkan pada kesalahan orde baru. Sehingga pembeda itu selalu dijadikan alat pemukul bagi orang-orang yang tidak mampu mengenang jasa para pendahulunya. Padahal orang yang besar adalah orang yang mampu menghargai jasa para pahlawan. Termasuk bagaimana mengenang pahlawan KB. Makanya kurang arif bila orde baru selalu dipojokan, karena banyak konsep-konsep global yang digulirkan di orde baru. Termasuk Pak Harto telah mampu menembus dunia untuk menggelar program KB. Pak Haryono sampai saat ini masih produktif untuk menggulirkan Posdaya. Pak Hertog di Jawa Barat, Pak Muhyi, Pak Bunyamin, Pak Rukman Heryana yang telah mampu menjadi advocator ulung dibidang KB. Saud Munte, Maryati, Nino, Aan Tisna, Amed Sudiyana, Hidayat Sukanda. Dan yang terkini di hari Pahlawan tanggal 10 November 2011 telah dilepas Saudara H. Nandang sebagai Kabid KB dari Kota Sukabumi.

Disaat dilakukan pisah sambut para mantan pegawai BPMPKB oleh Drs.H.A.Hamdan, MM, baik yang pensiun maupun yang mutasi terasa ada nuansa keakraban dan kekeluargaan. Dengan gaya dan ekpresi masing-masing. Bahkan ada satu mutiara yang diungkapkan oleh H.Nandang.  Bercerita tentang kenangan masa lalu dari mula bekerja sampai pada masa pensiun. Ternyata segala sesuatu tidak bisa diperoleh begitu saja, bahkan perlu proses dan dinamika. Ada suatu pengakuan yang tulus, ketika mereka dihadapkan pada persoalan gaya kepemimpin yang tidak sama persepsinya dengan staf. Beliau melakukan berbagai koordinasi dan menghimpun kekuatan untuk mengingatkan gaya kepemimpinan yang tidak disetujui-nya. Walaupun akibatnya tidak mampu menghantarkan Pak Hidayat Sukanda pada penyelesaian pensiun di KB. Intrik staf yang kurang kondusif bisa membawa mala petaka baik pada yang melakukan intrik, maupun yang jadi sasaran intrik.

Disinilah perlu dilakukan pembinaan jiwa patriotism, penuh ketegasan dengan menggunakan hukum, perlu penteladanan dengan memperbaiki akhlaq, perlu melakukan kasih sayang dengan kecintaan yang terpatri antara staf dengan pimpinan. Sehingga tepat bila momentum 10 november 2011 di BPMPKB dilakukan pisah sambut para pejuang KB. Baik yang pensiun untuk menggerakan IMP masyarakat. Yang pindah instansi untuk melakukan koordinasi , intergrasi dan singkronisasi program. Supaya satu sama lain saling bergerak pada pencapaian visi, misi dan program, serta kegiatan yang mampu memilah, memilih dan memprioritaskan mana yang termasuk kebutuhan untuk ( nasi, prestasi,mutasi, rekreasi ataupun rotasi ). Jangan sampai anggaran untuk bidang KB tidak bermakna untuk mencapai nilai-nilai kepahlawanan KB.

Mengapa pengaturan anggaran itu harus memenuhi berbagai aspek. Karena setiap kegiatan itu harus memenuhi aspek filosofis, ekonomis, sosiologis, politis dan juga agamis. Tentunya anggaran itu harus terkoordinasi dengan berbagai pihak. Yang namanya koordinasi tidak akan pernah terlepas dari masalah roko, duit, nasi. Bohong besar bila mengkoordinasikan kegiatan hanya dengan komunikasi dan imformasi verbal. Tak akan berhasil kalau hanya dengan omong belaka. Sebab kebiasaan orang Indonesia masih berkutat pada masalah Perut, diatas lutut, walau mukanya samutut menghadapi masalah bangkrut. Akan tetap berseri bila mendapatkan seleri walaupun dapat nyuri. Sehingga akhlaqnya tidak terpuji, banyak berjanji, walaupun harus berhadapan dengan jeruji. Karena hidupnya tak pernah bersyukur, sehingga penglihatannya kabur, tidak pernah mau jujur. Sehingga hidupnya tidak akan pernah mujur, doa-nya tidak manjur.

Supaya Indonesia ini maju dan setara dengan Negara-negara yang dianggap maju oleh manusia. Maka penulis dan pembaca mesti kembali pada rujukan Qur’an dan Hadits dengan akhlaq yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW. Hindari saling ejek, dan hindari sikap tidak percaya pada orang. Yang lebih arif bila saling membesarkan dan saling mempercayai. Kurang  baik bila karakter penyelidik dan penyidik yang mengembangkan sikap curiga dan tidak percaya pada orang, digulirkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena akan muncul intrik dan fitnah melalui surat budge. Ketika surat budge dipercaya dan dijadikan alat bukti untuk melakukan penyelidikan ataupun penyidikan. Maka akan muncul sikap orang munafiq dan pengecut. Sehingga orang akan berlindung di bawah intrik dan surat kaleng demi kepentingan dan keuntungan pribadi.

Hentikan mewariskan pekerjaan yang tidak akurat dan tidak berdasarkan data logis. Karena akan terjadi pada program yang tidak realistis. Mualai ambil alih tanggung jawab untuk meluruskan dan menemukan solusi pemecahan masalah. Karena bila selamanya melakukan pendekatan siapa yang salah dan dimana letak kesalahan itu akan terjadi dendam dan pertentangan, perbedaan pesepsi. Yang akahirnya tidak akan memajukan program, malah akan menghambat program. Orang saat ini belum tentu lebih baik dari generasi lalu. Dan orang terdahulu belum tentu yang menajdi penyebab salahnya penyimpangan perilaku. Tapi yang lebih baik adalah saling mendekat dan daling mengakui kelemahan dan saling mengakui kelebihan dari setiap generasi. Kalau orang tua ingin dijadikan pahlawan oleh generasi mendatang, atau generasi saat ini . maka ketika berjaya harus bisa memberikan peluang pada generasi di bawahnya supaya mendapat   karir yang lebih baik di masa mendatang.

Jangan harap generasi terdahulu dijadikan pahlawan apabila ketika berjaya dan berperan mematahkan semangat para generasi muda di masa-nya. Ketika PLKB tidak diberikan peluang untuk maju dan berinprovisasi mengembangkan program. Maka ketika PLKB sudah jadi pejabat tidak akan tergugah pikirannya mengembangkan KB. Ketika PLKB yang sudah jadi pejabat tidak memperjuangkan gerakan KB baik dari mulai pendataan keluarga, pembinaan akseptor, pembinaan IMP KB. Maka karirnya kan mentok sampai di situ. Tidak akan naik mencapai puncak karir yang semestinya bisa diraih. Ketika PLKB sudah jadi Lurah, Subag, Subid, Sekretaris, Kabid, Sekmat bahkan jadi Kadis, Kaban ataupun Kanwil. Jika tidak konsisten peduli memperjuangkan program KB maka jangan harap dianggap jadi pejuang KB.

Kata dan istilah pejuang yang dinobatkan pada seseorang bukan muncul dari kehendak dirinya.  Tapi akan terus diperjuangkan oleh genersai berikutnya yang merasakan manfaat dari perjuangannya. Baik dari ide, gagasan, sifat, karakter, militansi, kreasi ataupun pemikiran orginalnya untuk memperjuangkan program. Apalagi program KB itu mengarah pada norma keluarga kecil bahagia sehat sejahtera mampu mendongkrak terhadap ketahanan keluarga, kesejahteraan keluarga. Sehingga terasa menjadi keluarga harmonis. Ketika PLKB, PKB, IMP KB dan para staf BPMPKB menjadi contoh dan suri tauladan di tengah-tengah masyarakat, maka akan muncul secara otomatis kepercayaan dari masyarakat untuk mentokohkannya. Ketokohan keluarga besar BKKBN yang kini di Kota Sukabumi menjadi BPMPKB sangat dinatikan oleh masyarakat. Karena secara keilmuan dan pengalaman sudah cukum untuk membentuk family planning, tinggal implementasi yang diterapkan pada dirinya mesti selaras.

Teror Via Seluler

Semua orang akan tersugesti oleh troma masa lalu. Dari troma itu bisa mempengaruhi kondisi fisik dan jiwa. Walaupun troma itu hanya dialami melalui terror via seluler. Namun upaya yang dilakukan untuk mematikan seluler bisa berdampak pada jalinan komunikasi yang tersendat. Ketika jalinan komunikasi tersendat maka terjadilah salah persepsi, salah tapsir dan salah duga. Ketika salah menduga maka akan salah mengambil keputusan. Apalagi ketika dibarengi dengan emosional dan perasaan yang tidak tulus. Sehingga sebaik apapun pengabdian yang dilakukan oleh seorang staf akan dicampakkan begitu saja. Bahkan setiap masukan yang di sampaikannya akan dicuekin. Serta dingin seolah tidak bermakna.

                Fenomena seperti itu sangat pribadi, namun mungkin saja bisa dirasakan oleh para pembaca walaupun kadar dan kasusnya berbeda. Bahkan ketika troma itu sudah membekas di otak , maka sangat mengganggu kinerja dan pola tindak yang seharusnya normal. Malah bisa menjadi abnormal, dan tidak seimbang dalam kerkarya serta berinovasi. Termasuk daya kekebalan menghadapi stress akan terganggu, atau keberanian menghadapi resiko akan sedikitnya menurun. Apalagi bila mengabdi pada pimpinan yang mempunyai masalah keluarga. Sehingga akan bercampur aduk antara kepentingan pribadi dengan kepentingan profesi. Salah -salah akan terus berhadapan pada istilah “BOS ANGIN BARAT SAJA”.

                Ketika kemarahan itu diekpresikan oleh sang Bos, maka staf akan merasa kaku dan merasa serba salah apa yang mesti dilakukan. Bahkan nilai kesetiaan dan sikap loyalitas yang dilakukan berpuluh puluh tahun akan terasa hampa. “halodo sataun bisa lantis ku hujan sapoe”. Bisa saja muncul sumpah serapah di dalam hati staf dan memicu sakit hati yang terpendam. Walaupun staf tidak mampu melawan secara prontal bisa saja doa di dalam hatinya di dengar oleh Allah SWT. Sehingga berbalik pada sang bos itu sendiri. Namun karena sang bos itu sedang berkuasa. Mungkin saja tidak akan pernah dirasakan oleh sang bos. Dirasakannya mereka tidak akan pernah jatuh dan tidak akan merasakannya sakit seorang staf. Bahkan dirinya lupa masa lalunya pernah jadi staf juga. Serasa mereka menjadi bos bukan jasa staf, dan merasa setelah jadi bos tidak perlu dukungan staf. Bisa saja dibilang “ siapa elu”. Yang ditujukan kepada stafnya.

                Tidak cukup hanya sampai disitu bahkan bos yang mempunyai masalah keluarga akan berimplikasi pada gaya kepemimpinannya, baik dalam mengatur komflik, mengatur keuangan, mengatur sarana prasarana. Semuanya manis di mulut ketika orasi, tapi ketika dirasa bisa menyakitkan hati yang mendalam. Mereka bisa menganak tirikan stafnya. Sehingga konsep kebersamaan hanya didengar di telinga ketika menjadi orator. Ketika mengimplementasikan kebijakannya terjadi jurang pemisah antara anak yang disayang dengan anak yang di sanjung serta anak yang dibenci atau anak angkat yang diadopsi. Kenapa troma yang dirasakan staf yang di anak tirikan selalu membekas. Kenapa istilahnya di asosiasikan pada anak tiri. Dan cerita anak tiri itu selalu ditanamkan oleh masyarakat sebagai peristiwa yang mencekam. Ketika ada sebuah ketidak adilan dari sang bos biasa dipinjam istilah anak tiri.

                Perilaku organisasi yang normal dengan menggunakan standar pelayanan minimal. Atau total quality manajemen. Kinernyanya akan terukur secara matematis. Namun ketika sebuah organisasi itu menggunakan standar ganda. Maka akan terasa ketimpangan dalam output ataupun outcome yang abstrak bersifat kualitatif. Disanalah akan dirasakan budaya organisasi yang menganak tirikan. Kalau dalam anekdot para staf government itu ada jabatan basah ada jabatan kering. Ada anak emas ada anak Loyang. Lama kelamaan akan berdampak pada menurunnya kepuasan pelanggan. Karena pelayanan yang diberikan staf tidak optimal. Rasa takut dan disiplinnya jadi semu. Dan kalau budaya menganak tirikan terus dipelihara maka kalau dalam perusahaan pasti akan cepet ambruk dan mengalami kebangkrutan.

                Ketika akan mengarah pada kebangkrutan. Semua akan berjalan sendiri sendiri menyelematkan diri masing masing untuk bisa tetap hidup mencari nutrisi. Kalau perlu akan terjadi budaya kanibalisme. Sehingga persaingan antar divisi tidak sehat, persaingan antar lembaga tidak nyaman, semuanya saling curiga dan semuanya saling cari muka. Terjadilah budaya asal bapak senang”ABS”. Bos akan lebih suka mendengar anak emas dan ring terdepan ketimbang mengkaji jeritan hati nurani rakyat. Makanya jangan aneh ketika bos tidak mendengar jeritan rakyat atau stafnya yang merasa teraniyaya. Akan muncul budaya demonstrasi dengan mempertontontan sadisme mengarah pada anargis. Atau sikap skeptic dan apatis dari rakyat dan stafnya. Rakyat dan staf yang tidak berdaya dan tidak termasuk anak emas menunggu dengan sabar samapi hancurnya sebuah rejim untuk diganti dengan rejim yang baru.

                Kenapa demikian karena bos kerika berkuasa sering lupa bahwa sekuat apapun manusia memimpin, sebaik apapun strategi yang digulirkan. Apabila sudah banyak staf yang merasa terdholimi. Maka akan berhadapan dengan kehancuran contoh bagaimana Kadafi berkuasi, bagaimaan Ben Ali berkuuasi, bagaimana Soekarno berkuasa, bagaimana Soeharto berkuasa, bagaiman  John F Kenedi berkuasa akhirnya harus berhadapan dengan kehancuran. Dan dihancurkan oleh barisan sakit hati. Namun ketika bos berkuasa maka dalam lingkaran rejim itu ikut-ikutan berkuasa. Dari mulai istrinya, anaknya, saudaranya, sopirnya, bahkan istri penghiburnyapun ikut-ikutan berkuasa mempengaruhi kebijakan sang bos.

                Di saat bos berkuasa jangankan kesalahan besar, kesalahan yang tidak prinsip saja bisa menghancurkan karir seorang staf yang mempunyai idealism, disiplin murni, prestasi orginal. Dikala bos dibisiki oleh orang-orang di sekeliling rejimnya dengan informasi yang disesatkannya sendiri. Maka bos akan mendengar dan merubah kebijakan dengan seketika. Kendatipun informasi yang sampai pada sang bos hanya sebuah terror via seluler, dikala yang menyampaikannya orang di sekeliling rejimnya akan dijadikan informasi yang bernilai emas. Ketika informasi dan saran staf disampaikan dari staf yang intensitas komunikasinya rendah/jarang. Maka akan di abaikan begitu saja. Mengapa demikian? Karena tokoh dan agamawan juga telah berpendapat bahwa “menjadikan pemimpin di Indonesia ini tidak cukup hanya dengan nilai kesholehan” bahkan sering di munculkan suatu pemahaman “lebih baik suatu daerah dipimpin oleh orang jahat ketimbang tidak ada pemimpin”.

                Pemahaman seperti itu rupayanya tidak tuntas. Justru di Indonesia itu bila ingin pulih harus mencari pemimpin yang sholeh dan. Daerah itu akan lebih baik dan maju bila dipimpin oleh orang yang mampu merubah orang jahat jadi orang baik.  Bahkan harus disadari menjadi bos itu sebagai wujud dari tanggung jawab manusia di muka bumi ini untuk memperbaiki akhlaq. Jika segala sesuatu mulainya dari perbaikan akhlaq, maka akan membangun sebuah pondasi kokoh berdirikan bangunan di atas gelombang badai samudra kehidupan yang begitu ganas dan buas.

                Betapa gagah beraninya TNI, betapa pandainya Pemuka Agama jadi orator dalam berceramah, betapa cerdasnya Kaum Cerdik Cendekia menganalisis keilmuan, betapa makmurnya dan sejahteranya suatu Bangsa. Betapa lamanya rejim berkuasa. Dikala yang diprioritaskan bukan memperbaiki akhlaq maka akan ketemu juga dengan kehancuran dan mundur seratus delapan puluh derajat dari peradaban duni. Ketika penulis dan pembaca sedang diberikan kesempatan oleh Allah SWT menjadi bos. Harus diingat bahwa itu amanah dari Allah SWT yang harus dipertanggung jawabkan di dunia dan akhirat. Janganlah merasa hebat ketika berdekatan dengan sebuah rejim. Apalah artinya sebuah kekuasaan jika tidak dibarengi dengan akhlaq mulia. Silahkan berkuasa dimuka bumi ini tapi barengi dengan akhlaq mulia. Jangan menteror orang ketika sedang berkuasa atau berdekatan dengan rejim kekuasaan walaupun hanya melakukan teror via selurer.

                Gunakanlah kekuasaan dan kedekatan dengan penguasa untuk memuliakan manusia dan jangan sekali kali menakut nakuti manusia. Karena manusia yang semakin terpojok akan mengerahkan segala kekuatan daya dan tenaganya dalam keterpojokan menjadi sebuah kekuatan yang  sangat dahsyat untuk menghancurkan kekuasan yang semu itu.

Mengapa Indonesia Terlambat Maju

Sudah hampir 67 tahun Indonesia merdeka, bahkan bila dilihat dari sumpah pemuda sudah mencapai 83 tahun sejak tangggal 28 Oktober 1928. Namun kenapa beda perkembangannya jika dibandingkan dengan manusia 67 tahun, pasti sudah jadi kake-kake. Mestinya harus lebih bijak menyikapi persoalan kenegaraan. Namun nyatanya di sana sini masih terdapat gejolak dari kulminasi ketidak puasan. Karena segala sesuatu disikapi dengan emosional dan terlalu mengedepankan sikap politik ketimbang kenegarawanan. Atau kearifan dan kebijakan yang penuh kasih sayang. Kenapa demikian karena sudah kadung menggelorakan semboyan sebagai Negara hukum. Namun dalam mendefinisikannya bukan keterarutan, atau ketaatan untuk memperbaiki akhlak manusia. Melainkan bagaimana menggiring orang supaya  masuk ke penjara. Walaupun hanya berdasarkan pada surat kaleng. Surat budeng. Bahkan surat budeg itu sendiri bisa saja dibuat oleh oknum yang rakus dan serakah untuk memeras sesama eksekutif.

Jangan aneh bila kini dipersepsikan era saling balas dendam. Semua orang mencari kelemahan untuk membalas orang yang pernah menyeretnya menjadi terpojok dan tidak berdaya. Semua orang lupa bahwa semakin orang itu terpojok dan dipojokan akan muncuk kekuatan diluar batas kewajaran untuk mengumpulkan enerji membalas dendam. Sehingga tidak ada satu kebijakan yang mampu meredakan situasi dan kondisi membuat orang  bisa tenang berekpresi, berimajinasi dan kreatif. Semua orang merusaha mencari aman. Supaya tidak menanggung beban resiko dituduh melanggar hukum. Dan melanggar aturan. Memang semua orang sudah merasa puas dikala mampu mengeluarkan aturan, jika mampu mengeluarkan surat keputusan. Walaupun pada akhirnya surat keputusan itu akan dijadikan alat pemukul jika ada orang yang menghujat tidak terpenuhinya kebutuhan dasar.

Kebutuhan dasar itu bukan disikapi oleh orang, oleh barang, oleh anggaran. Tapi disikapi oleh peraturan apakah dalam bentuk Undang-undang, dalam bentuk KepPres, dalam bentuk KepMen, KepGub, KepWal, Kep Bup atau PerPres, PerMen, PerGub, Per Bub, Per Wal. Seolah olah bila sudah keluar surat keputusan maka bebas dari kewajiban memenuhi kebutuhan dasar. Contoh dikala ada program Wajar Dikdas. Maka keluarlah UU nomor 20 tahun 2003. Dijabarkan dengan setumpuk peraturan. Namun ketika mentok masalah anggaran ternyata tidak tuntas menyikapinya. Bahkan kini yang sedang dirasakan oleh Sekolah-sekolah swasta adalah terlalu seringnya BOS terlambat. Di sisi lain ada larangan untuk meminta sumbangan pada orang tua siswa. Ketika ada masalah tawuran pasti dituduhkan pada ketidak becusan sekolah mendidik siswa.

Ketika kualitas pendidikan menurun maka sekolah yang menjadi bulan-bulanan. Bahkan kini disinyalir oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang dilansir salah satu surat kabar terbitan Sukabumi di halaman 2 kolom 7 tanggal 29 oktober 2011”Mayoritas Kada Salah Pilih Kadis Pendidikan”. Di sisi lain para pakar pendidikan bukan berkiprah di dunia pendidikan. Malahan banyak memilih terjun ke dunia politik. Dipihak lain malah banyak Kepala sekolah dan guru yang gusar. Karena terus-terusan dipanggil oleh oknum penegak hukum tentang DAK, BOS dan berbagai tuduhan Pungutan liar. Ya pantas kalau dulu Guru itu konsen mendidik anak. Sedangkan inspeksi dilakukan oleh Penilik. Tapi sekarang yang memeriksa Sekolah itu setumpuk. Bahkan bantuan itu bila dihitung secara ekonomis mungkin habis dipergunakan untuk bolak balik ngurus berbagai pemeriksaan. Dari mulai pemeriksaan internal, pemeriksaan fungsional aparat pemeriksa, pemeriksaan dari oknum media.

Tidak hanya sebatas di sekolah. Malah semua program pembangunan terlalu banyak yang mempunyai kepentingan dengan dalih pengawasan masyarakat. Dengan dalih transparansi, dengan dalih Undang-undang keterbukaan Informasi. Bahkan semua pekerjaan harus di tender, semua pekerjaan harus dipihak ketiga kan. Ketika dilakukan swakelola maka pemeriksaannya bertubi-tubi bahkan diakali oleh oknum-oknum menjadi sebuah alat sapi perahan. Anehnya ketika mau diadukan malah tersendat. Dikarenakan oknum yang sudah terbiasa menakut-nakuti mempunyai jaringan berlapis. Dari mulai oknum pengusaha, oknum media, oknum pemeriksa seperti jaringan gurita yang sulit dibuktikan. Bahkan ketika meminta uang mampu menolak memberikan tanda bukti.

Wajar kalau Indonesia terlambat maju. Karena orang yang konsentrasi kepada pekerjaan saja akan terganggu ketenangan dan kreatifitasnya oleh oknum yang gentayangan mencari mangsa yang bisa dijadikan ATM atau dijadikan tumbal untuk dimasukkan ke penjara. Oknum penegak hukum mempunyai dua mata pisau yang sama tajamnya. Ketika mereka lunak tidak menanggapi surat kaleng yang dibuat oknum tertentu maka konpensasinya jadi ATM. Ketika memegag prinsip  tidak siap jadi ATM. Maka dikorek sampai bisa ada alasan untuk dijadikan tersangka. Yah yang namanya manusia di alam sekarang tidak mungkin ada yang sempurna dari sebuah kesalahan karena sangat banyak aturan yang siap menjerat.

Berkembanglah anekdot bahwa unsur pertama tindakan pidana adalah ketauan oleh oknum penegak hukum. Yang tidak terpidanan adalah orang yang sepaham dengan oknum penegak hukum. Permainan oknum penegak hukum adalah mengoper-oper mangsa dari orang yang satu ke orang yang lain. Selama masih sepaham dia dekapi. Ketika sudah tidak dijadikan ATM maka dilempar ke orang lain. Sementara oknum penegak hukum yang melanggar, paling banter bukan diperksa, mereka paling juga dipindahkan ke tempat lain. Kenapa demikian karena memang tujuannya bukan untuk membuat orang berakhlak mulia tapi bagaiman orang supaya sepaham. Kalau tidak sepaham dijadikanlah tumbal penjara untuk memenuhi target perkara.

Jangan aneh kalau banyak orang yang skeptic dan apatis tidak menghiraukan prestasi ataupun kreatifitas. Yang penting aman dan selamat tidak tersentuh oknum aparat hukum. Namun bagi orang yang yakin akan pertolongan Allah jangan gusar dan jangan takut oleh oknum penegak hukum. Sebab kejelekan yang dia lakukan pasti suatu saat akan kena pula pada dirinya. Hal ini sudah banyak di lansir oleh berbagai media masa. Oknum penegak hukum yang terjerat dan dijerat untuk masuk jadi penghuni penjara. Di satu sisi sebagai pembuktian bahwa keadilan pasti datang dari Allah SWT. Di sisi lain seorang oknum penegak hukum yang dholim menjerat orang pasti suatu saat akan ada orang yang menjerat pula. Dan yakin bahwa Allah tidak akan mematikan seseorang sebelum dirinya merasakan sakitnya di dunia atas kedholiman yang dibuatnya sendiri. Jadi kenapa Indonesia terlambat maju. Karena terlalu banyak orang yang berbuat dholim antara sesamanya dengan dalih penegakan hukum. Namun yang jadi pertanyaan siapa yang dihukum, kenapa dihukum, benarkah dia harus dihukum.

Kalau ingin Indonesia cepet maju coba dikedepankan kasih sayang dan kecintaan antar sesama. Yang harus dikedepankan adalah akhlak bukan semua orang digiring ke penjara. Sekeras apapun hukuman dijatuhkan oleh hakim dikala tidak mampu memperbaiki akhlaq maka yang muncul hanyalah residivis. Bukan efek jera malah menjadi kebal. Bahkan bisa terjadi, orang jadi keras setelah keluar dari penjara. Yang muncul bukan cinta kasih tapi sadisme dan hilang sifat kemanusiaan.

 Ketika sifat kemanusiaan itu terkikis dan menjadi sirna. Maka manusia tidak akan punya harga.ketika tidak mampu menghargai otak dan pemikiran manusia maka kemajuan Indonesia akan semakin terhambat. Sebaik apapun hasil teknologi, sebagus apapun hasil pertanian, secerdas apapun binatang. Tidak akan mampu menyamai kecerdasan manusia, tidak akan secanggih otak manusia yang mampu menyimpan memori dan menghasilkan anti bodi yang canggih. Namun ketika manusia hanya jadi objek oknum penegak hukum untuk dipenjarakan maka akan sirna pula harapan Indonesia jaya di masa depan. Bahkan akan muncul dimana mana orang menaruh dendam dan bisa saja Indonesia tercabik-cabik menjadi beberapa Negara bagian. Atau bahkan bisa saja ingin memerdekakan diri masing masing.

Karena NKRI itu harga mati maka para pakar hukum bisakan menegakkan hukum internasional. Supaya kedaulatan Indondonesia benar benar diakui oleh Negara tetangga. Bisakah menghukum bangsa lain yang mencaplok wilayah Indonesia. Bisakan menghukum bangsa lain yang mengambil kekayaan alam dari negera Indonesia. Bisakah pakar hukum menghukum bangsa lain yang mencuri ikan di perairan Indonesia. Jadi kalu ingin maju jangan berani menghukum dan memenjarakan bangsa sendiri. Tapi bangsa lain yang melanggar itu yang harus di hukum. Bisakah menghukum bangsa lain yang memasok narkoba ke Indonesia.

Bila Indonesia ingin cepat maju jangan hanya berani memenjarakan bangsa sendri. Coba berani kepada bangsa lain. Jadi jangan dibalik balik kalau ke bangsa sendiri kejam kalau ke bangsa lain ingin selalu damai. Dimana letak keberanian bangsa ini. Kalau dengan bangsa lain ingin memainkan diplomasi. Tapi terhadap bangsa sendiri ingin saling jegal. Yu kembangkan rasa kasih sayang antar sesama suku bangsa, antar sesame daerah, antar sesama pegawai, antar sesama politisi, antar sesama agama. Sehingga menjadi satu kesatuan sebagai bangsa yang besar sesuai dengan kebesarannya.

Jangan terlalu mengadopsi hukum orang lain. Kalu terlalu meratifikasi hukum internasional pasti akan selamanya ketinggalan dan di asingkan oleh kesepakatan yang diminta hukum bangsa lain. Yu kembali pada jati diri bangsa yang “silih asah, silih asuh, silih asih. Kacai jadi saleuwi kadarat jadi salebak”. Hentikan saling menghujat, hentikan saling memeras, hentikan saling menghukumi, hentikan sikap saling balas dendam. Yu melakukan rekonsiliasi. Damai dengan bangsa sendiri itu indah. Berani menghadapi bangsa lain itu anugrah.

Pendidikan Kepramukaan

Sejak Keluarnya UU nomor 12 tahun 2010 tentang kepramukaan, maka ada dua hal pokok yang mesti  dipahami oleh anggota pramuka.  Pertama adalah satia dan dharma. Oleh karena itu kesetiaan anggota pramuka harus diawali dengan baca,hayati, pahami dan amalkan. Sehingga nantinya menjadi dharma pramuka. Kalau itu sudah terjiwai maka di mana-mana akan berkumandang lagu disana senang di sini senang dimana mana kita senang.

Ketika semuanya sudah merasa senang maka akan muncul pemikiran yang matang dan karya dapat dipertanggungjawabkan. Itu semua tercermin jalam jiwa kepemimpinan. Oleh karena itu pasca Muscab Pramujka tanggal 13 Mei 2011 dilakukan berbagai program dari mulai penyusunan pengurus, sosialisasi program dan pelantikan pengurus kwartir cabang pramukan. Tentunya hal ini merupakan suatu langkah revitalisasi Kepramukaan di Kota Sukabumi. Yang bercita-cita ingin menjadikan kota sukabumi sebagai Kota Pramuka.

Awal pelaksanaan kegiatan kepramukaan tahun 2011 dilaksanakan kegiatan Jambore Nasional tahun 2011 di Propinsi Sumatera Selatan. Berlanjut pada kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun Pramuka. Pelaksanaan kegiatan berikutnya melaksanakan Gladian Pinru. Kursus Mahir Dasar yang diikuti oleh Guru-guru pembina pramuka yang ada di Induksi. Pelaksanaannya di STIE Penguji. Kenapa perlu melakukan gladian pinru. Dikarenakan pramuka diharapkan mampu melahirkan para pemimpin di masa mendatang.

Kenapa setiap regu jumlahnya 8 orang. Hal ini untuk memudahkan rentang kendali. Sehingga setiap anggota regu bisa terawasi, terarahkan, dan terbimbing dalam setiap derap dan langkah. Ketika ada satu semboyan dalam pemerintahan Ramping struktur Kaya Fungsi. Ternyata tidak bisa mengendalikan berbagai ekses yang terjadi dalam setiap organisasi. Dikarenakan terlalu banyak masalah yang muncul dan terlalu banyak persoalan yang mesti diatasi dalam setiap aktivitas manusia yang serba dinamis.

Dalam pelaksanaan gladian Pinru ada sesuatu yang membuat orang terkaget-kaget karena direncanakan yang akan membuka adalah Wakil Walikota. Ternyata undangan tidak sampai pada Ajudan. Namun dengan inisiatif  Waka Hukum dan Organisasi langsung menginformasikan pada Wakil Walikota untuk hadir. Tetapi di pramuka itu tidak pernah ada satu kendala yang tidak diatasi. Begitu ada keterlambatan waktu pembukaan. Maka Ka Kwarcab langsung mengambil over pelaksanaan kegiatan pembukaan dengan laporan kegiatan penyelenggaraan dilaksanakan oleh Waka Bina Muda.

Setelah selesai Ka Kwarcab membuka maka dilanjutkan oleh Waka Kwarda Jawa Barat  yang hadir pada pembukaan itu. Yaitu Waka Bina Muda. Dengan semangatnya para peserta gladian pinru mengikuti pengarahan yang disampaikan oleh Waka Bina Muda. Namun setelah selesai pengarahan terjadi hujan lebat. Sehingga setiap peserta masuk pada tenda komando yang dipinjam dari Dinas Sosial Kota Sukabumi. Sedangkan para pembina ada di panggung utama. Tidak lama muncul Wakil Walikota selaku Wakil Mabicab Gerakan Pramuka.

Sebagai suatu kehormatan pada Wakil Walikota maka diberikan kesempatan untuk memberikan pengarahan. Arahan yang disampaikan terungkap masalah seminar dan penelitian kepurbakalaan yang berhubungan dengan Musium Prabu Siliwangi yang digagas oleh DR. Fajar Laksana, MM. Hal ini menggugah para anggota pramuka yang sering melakukan pengembaraan peduli terhadap lingkungan yang ada dan respek terhadap hal-hal yang ditemukan kertika melakukan pengembaraan. Permainan pertama yang di bawakan oleh para pelatih adalah mengenai dinamika kelompok dan berani tampil menyajikan tampilan menarik di hadapan publik. Apakah nyanyian, gagasan, ataupun yel yel yang diciptakan oleh kelompok barunya itu.

Dari beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh para pembina dan pengurus kwarcab pramuka. Ada satu hal yang perlu dimasukan dalam setiap latihan kepramukaan. Yaitu selain unsur tehnik kepramukaan yang disampaikan oleh para pelatih dari masing-masing Mahir. Juga mesti disampaikan ceramah umum dan pengetahuan manajemen kepramukaan. Jangan sampai terampil tapi tidak tertata dengan baik. Sehingga bila tidak di minij akan terkesan jalan di tempat. Buat apa diundang dan dihadirkan para Waka dan andalan yang membidangi Bina Wasa, Bina Muda, Sarana Usaha, Humas, Abdimas, Hukum dan Organisasi. Bila setiap acara hanya sebagai tamu kehormatan. Tanpa diberikan kesempatan untuk memberikan ilmunya pada para penggalang, penegak, padega ataupun kepada para pembina.

Sebaik apapun tahnik kepramukaan dipahami manakala  manajemennya tradisional maka perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat tidak akan terserap di kepramukaan. Di sini diperlukan suatu kolaborasi antara tehnik kepramukaan dengan ilmu terapan lainnya. Apalagi bila para pembina ingin mengembangkan dan meningkatkan peran saka. Ketika hal itu tidak dilakukan maka saka yang berdiri hanya tinggal bendera dan hanya tinggal nama. Ketika dikompetisikan dengan kwarcab lain baik dalam LT IV, LT V ataupun dalam Raimuna. Maka semuanya akan sirna tak membekas sebagaimana pramuka tangguh yang diharapkan.

Semakin pramuka memberikan ruang yang lebih luas pada para anggota dan pembinaannya untuk mendapatkan ilmu baru dari berbagai saka atau dari setiap waka. Maka wawasannya akan semakin luas. Dan pramuka akan bisa dijadikan labolatorium pelatihan kepemimpian yang mampu bergerak di berbagai sektor. Baik di teknis fungsional, maupun di dalam kebijakan makro dan internasional. Dikala membesarkan pramuka hanya ingin wah dalam acara seremonial dan ingin didukung oleh semua lini apabila tidak terbuka memberikan peluang kepada pihak luar bisa ikut mewarnai gerakan pramuka maka pramuka akan berjalan stagnan tidak gencar seperti yang diinginkan para fonding father. Apalagi bila pramuka tidak mengembangkan informasi dan pengabdian yang bisa betul-betul dirasakan oleh masyarakat luas. Yo kita perbaiki bersama manajemen kepramukaan supaya lebih maju