Teror Via Seluler

Semua orang akan tersugesti oleh troma masa lalu. Dari troma itu bisa mempengaruhi kondisi fisik dan jiwa. Walaupun troma itu hanya dialami melalui terror via seluler. Namun upaya yang dilakukan untuk mematikan seluler bisa berdampak pada jalinan komunikasi yang tersendat. Ketika jalinan komunikasi tersendat maka terjadilah salah persepsi, salah tapsir dan salah duga. Ketika salah menduga maka akan salah mengambil keputusan. Apalagi ketika dibarengi dengan emosional dan perasaan yang tidak tulus. Sehingga sebaik apapun pengabdian yang dilakukan oleh seorang staf akan dicampakkan begitu saja. Bahkan setiap masukan yang di sampaikannya akan dicuekin. Serta dingin seolah tidak bermakna.

                Fenomena seperti itu sangat pribadi, namun mungkin saja bisa dirasakan oleh para pembaca walaupun kadar dan kasusnya berbeda. Bahkan ketika troma itu sudah membekas di otak , maka sangat mengganggu kinerja dan pola tindak yang seharusnya normal. Malah bisa menjadi abnormal, dan tidak seimbang dalam kerkarya serta berinovasi. Termasuk daya kekebalan menghadapi stress akan terganggu, atau keberanian menghadapi resiko akan sedikitnya menurun. Apalagi bila mengabdi pada pimpinan yang mempunyai masalah keluarga. Sehingga akan bercampur aduk antara kepentingan pribadi dengan kepentingan profesi. Salah -salah akan terus berhadapan pada istilah “BOS ANGIN BARAT SAJA”.

                Ketika kemarahan itu diekpresikan oleh sang Bos, maka staf akan merasa kaku dan merasa serba salah apa yang mesti dilakukan. Bahkan nilai kesetiaan dan sikap loyalitas yang dilakukan berpuluh puluh tahun akan terasa hampa. “halodo sataun bisa lantis ku hujan sapoe”. Bisa saja muncul sumpah serapah di dalam hati staf dan memicu sakit hati yang terpendam. Walaupun staf tidak mampu melawan secara prontal bisa saja doa di dalam hatinya di dengar oleh Allah SWT. Sehingga berbalik pada sang bos itu sendiri. Namun karena sang bos itu sedang berkuasa. Mungkin saja tidak akan pernah dirasakan oleh sang bos. Dirasakannya mereka tidak akan pernah jatuh dan tidak akan merasakannya sakit seorang staf. Bahkan dirinya lupa masa lalunya pernah jadi staf juga. Serasa mereka menjadi bos bukan jasa staf, dan merasa setelah jadi bos tidak perlu dukungan staf. Bisa saja dibilang “ siapa elu”. Yang ditujukan kepada stafnya.

                Tidak cukup hanya sampai disitu bahkan bos yang mempunyai masalah keluarga akan berimplikasi pada gaya kepemimpinannya, baik dalam mengatur komflik, mengatur keuangan, mengatur sarana prasarana. Semuanya manis di mulut ketika orasi, tapi ketika dirasa bisa menyakitkan hati yang mendalam. Mereka bisa menganak tirikan stafnya. Sehingga konsep kebersamaan hanya didengar di telinga ketika menjadi orator. Ketika mengimplementasikan kebijakannya terjadi jurang pemisah antara anak yang disayang dengan anak yang di sanjung serta anak yang dibenci atau anak angkat yang diadopsi. Kenapa troma yang dirasakan staf yang di anak tirikan selalu membekas. Kenapa istilahnya di asosiasikan pada anak tiri. Dan cerita anak tiri itu selalu ditanamkan oleh masyarakat sebagai peristiwa yang mencekam. Ketika ada sebuah ketidak adilan dari sang bos biasa dipinjam istilah anak tiri.

                Perilaku organisasi yang normal dengan menggunakan standar pelayanan minimal. Atau total quality manajemen. Kinernyanya akan terukur secara matematis. Namun ketika sebuah organisasi itu menggunakan standar ganda. Maka akan terasa ketimpangan dalam output ataupun outcome yang abstrak bersifat kualitatif. Disanalah akan dirasakan budaya organisasi yang menganak tirikan. Kalau dalam anekdot para staf government itu ada jabatan basah ada jabatan kering. Ada anak emas ada anak Loyang. Lama kelamaan akan berdampak pada menurunnya kepuasan pelanggan. Karena pelayanan yang diberikan staf tidak optimal. Rasa takut dan disiplinnya jadi semu. Dan kalau budaya menganak tirikan terus dipelihara maka kalau dalam perusahaan pasti akan cepet ambruk dan mengalami kebangkrutan.

                Ketika akan mengarah pada kebangkrutan. Semua akan berjalan sendiri sendiri menyelematkan diri masing masing untuk bisa tetap hidup mencari nutrisi. Kalau perlu akan terjadi budaya kanibalisme. Sehingga persaingan antar divisi tidak sehat, persaingan antar lembaga tidak nyaman, semuanya saling curiga dan semuanya saling cari muka. Terjadilah budaya asal bapak senang”ABS”. Bos akan lebih suka mendengar anak emas dan ring terdepan ketimbang mengkaji jeritan hati nurani rakyat. Makanya jangan aneh ketika bos tidak mendengar jeritan rakyat atau stafnya yang merasa teraniyaya. Akan muncul budaya demonstrasi dengan mempertontontan sadisme mengarah pada anargis. Atau sikap skeptic dan apatis dari rakyat dan stafnya. Rakyat dan staf yang tidak berdaya dan tidak termasuk anak emas menunggu dengan sabar samapi hancurnya sebuah rejim untuk diganti dengan rejim yang baru.

                Kenapa demikian karena bos kerika berkuasa sering lupa bahwa sekuat apapun manusia memimpin, sebaik apapun strategi yang digulirkan. Apabila sudah banyak staf yang merasa terdholimi. Maka akan berhadapan dengan kehancuran contoh bagaimana Kadafi berkuasi, bagaimaan Ben Ali berkuuasi, bagaimana Soekarno berkuasa, bagaimana Soeharto berkuasa, bagaiman  John F Kenedi berkuasa akhirnya harus berhadapan dengan kehancuran. Dan dihancurkan oleh barisan sakit hati. Namun ketika bos berkuasa maka dalam lingkaran rejim itu ikut-ikutan berkuasa. Dari mulai istrinya, anaknya, saudaranya, sopirnya, bahkan istri penghiburnyapun ikut-ikutan berkuasa mempengaruhi kebijakan sang bos.

                Di saat bos berkuasa jangankan kesalahan besar, kesalahan yang tidak prinsip saja bisa menghancurkan karir seorang staf yang mempunyai idealism, disiplin murni, prestasi orginal. Dikala bos dibisiki oleh orang-orang di sekeliling rejimnya dengan informasi yang disesatkannya sendiri. Maka bos akan mendengar dan merubah kebijakan dengan seketika. Kendatipun informasi yang sampai pada sang bos hanya sebuah terror via seluler, dikala yang menyampaikannya orang di sekeliling rejimnya akan dijadikan informasi yang bernilai emas. Ketika informasi dan saran staf disampaikan dari staf yang intensitas komunikasinya rendah/jarang. Maka akan di abaikan begitu saja. Mengapa demikian? Karena tokoh dan agamawan juga telah berpendapat bahwa “menjadikan pemimpin di Indonesia ini tidak cukup hanya dengan nilai kesholehan” bahkan sering di munculkan suatu pemahaman “lebih baik suatu daerah dipimpin oleh orang jahat ketimbang tidak ada pemimpin”.

                Pemahaman seperti itu rupayanya tidak tuntas. Justru di Indonesia itu bila ingin pulih harus mencari pemimpin yang sholeh dan. Daerah itu akan lebih baik dan maju bila dipimpin oleh orang yang mampu merubah orang jahat jadi orang baik.  Bahkan harus disadari menjadi bos itu sebagai wujud dari tanggung jawab manusia di muka bumi ini untuk memperbaiki akhlaq. Jika segala sesuatu mulainya dari perbaikan akhlaq, maka akan membangun sebuah pondasi kokoh berdirikan bangunan di atas gelombang badai samudra kehidupan yang begitu ganas dan buas.

                Betapa gagah beraninya TNI, betapa pandainya Pemuka Agama jadi orator dalam berceramah, betapa cerdasnya Kaum Cerdik Cendekia menganalisis keilmuan, betapa makmurnya dan sejahteranya suatu Bangsa. Betapa lamanya rejim berkuasa. Dikala yang diprioritaskan bukan memperbaiki akhlaq maka akan ketemu juga dengan kehancuran dan mundur seratus delapan puluh derajat dari peradaban duni. Ketika penulis dan pembaca sedang diberikan kesempatan oleh Allah SWT menjadi bos. Harus diingat bahwa itu amanah dari Allah SWT yang harus dipertanggung jawabkan di dunia dan akhirat. Janganlah merasa hebat ketika berdekatan dengan sebuah rejim. Apalah artinya sebuah kekuasaan jika tidak dibarengi dengan akhlaq mulia. Silahkan berkuasa dimuka bumi ini tapi barengi dengan akhlaq mulia. Jangan menteror orang ketika sedang berkuasa atau berdekatan dengan rejim kekuasaan walaupun hanya melakukan teror via selurer.

                Gunakanlah kekuasaan dan kedekatan dengan penguasa untuk memuliakan manusia dan jangan sekali kali menakut nakuti manusia. Karena manusia yang semakin terpojok akan mengerahkan segala kekuatan daya dan tenaganya dalam keterpojokan menjadi sebuah kekuatan yang  sangat dahsyat untuk menghancurkan kekuasan yang semu itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: