Manfaat Pembinaan PEKKA

Tidak semua orang mempunyai nasib baik dan mulus sebagaimana yang diharapkan oleh orang normal, untuk membentuk keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah. Sejahtera lahir dan batin. Karena pada kenyataannya perjalanan hidup seseorang sangat rumit, jelimet dan beraneka ragam tantangananya. Maka yakin betul bahwa “jodo, pati bagja jeung cilaka” hanya Allah yang mengatur dan semua tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi-Nya. Ternyata yang menjadi korban kepahitan kehidupan biasanya dialami oleh perempuan. Walaupun ada laki-laki yang harus mengarungi pahitnya kehidupan dunia tetap saja yang nampak ke permukaan banyak perempuan yang menjadi korban kegagalan berumah tangga.  Yang mencengangkan ternyata di Kota Sukabumi dari tahun ke tahun jumlah perempuan kepala keluarga terus bertambah sesuai dengan bertambahnya penduduk. Yaitu tahun tahun 2006 ada 7.635 orang, tahun 2007 terdapat 8.178 orang, tahun 2008 ada 9.710 orang tahun 2009 berjumlah 9.700 bahkan pada tahun 2010 terdapat 10.448 orang . istilah kerennya “single faren

                Walaupun kebanyakan dari perempuan kepala keluarga itu sebagian besar ditinggal mati. Tapi ada pula yang di cerai. Ada yang masih berstatus punya suami tapi berpuluh-puluh tahun diterlantarkan. Ada pula yang mempunyai suami tapi suaminya tidak berdaya. Bahkan ada pula yang masih belum pernah menikah tapi sudah terbiasa kawin. Tapi kultur masih tetap memberikan predikat yang kurang enak di telinga dengan sebutan janda herang atau janda jomlo. Atau parawan jekekan. Bahkan ada pula yang diberi julukan sengseong. Terutama yang kehidupan sehariannya mencari nafkah dari kawin tanpa status. Kondisi sosial tersebut merupakan aib pribadi, aib keluarga bahkan aib suatu daerah sehingga tidak akan ada orang yang tertarik mendata masalah tersebut. Mengapa ini perlu di amati. Karena program KB sudah lama dirasakan masyarakat dan dipahami oleh masyarakat sehingga PUS sudah menyadari anaknya tidak lebih dari dua.

                Namun ketika dilakukan sensus kenapa di Indonesia itu terus bertambah jumlahnya. Padahal menurut teori bila PUS hanya mempunyai anak dua berarti terjadi pertumbuhan penduduk seimbang. Ketika orang tuanya meninggal maka sudah ada pengganti dengan jumlah yang sama. Tapi kenapa TFR masih tinggi?. Mungkin masih terdapat anak yang dilahirkan oleh wanita yang termasuk katagori PEKKA. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beraneka ragam cara. Cara mereka ada yang menjadi pembantu, ada yang menjadi buruh, ada yang menjadi pegawai, tapi ada pula yang menjadi wanita panggilan. Situasi seperti itu ya wanita lagi yang jadi korban. Masih untung kalu hanya jadi penjaga bar atau penyanyi di tempat hiburan sehingga menjadi wanita penghibur.

                Kondisi yang terjadi di masyarakat pasti dituduhkan kepada pemerintah yang tidak becus menertibkan atau tidak becus merubah jadi wanita baik-baik. Semuanya menghujat dan mencemoohkan dikala suatu daerah dipenuhi dengan wanita penghibur. Namun tidak ada yang berfikir dan siap untuk mencari solusi semuanya sudah menganggap sampah. Padahal sampah itu jika tidak diolah dengan baik maka dampaknya akan kemana-nama. Namun yang sangat lucu dikala didata atau ditangani ditudingkan bahwa mereka bukan penduduk asli. Padahal didaerah manapun pasti terdapat PEKKA. Yang jadi persoalan adakah alokasi dana untuk memproiritasikan program pembinaan PEKKA. Yang ada malah saling menyudutkan dan mencari kambing hitam.

                Aktifita PEKKA ada pula yang menjadi briker, facebooker, bahkan teleponer. Bahkan oleh orang yang cerdas diorganisir dengan teori pemasaran melalui media tele atikan seperti halnya dalam komunitas mig 33, whotsApp, Ym, My spce, winndow talk, google talk, bbm, dan saih banyak lagi program yang diciptakan oleh ahli teknologi. Aktivitas mereka bila dikorek menggunakan UU nomor 44 tahun 2008 pasti akan dikenakan pasal. Tapi apa itu akan mampu membentengi mereka dari kebutuhan bersosial dan berkumpul untuk saling memuaskan dan saling dipuaskan melalui obrolan-obrolan suuur.

                Apakah mereka harus dibumi hanguskan atau dicari solusi untuk melakukan pembinaan PEKKA. Mungkin jika pendekatannya melalui hukum sariah ataupun hukum negara akan dikenakan pasal. Namun ketika dihukumi dan dikenakan pasal apakah akan mampu membuat jera atau menjadi lebih cerdas. Kalau jaman nabi lut dikenal dengan homosek, lesbian dan sodomi. Tapi di alam teknologi canggih para PEKKA banyak yang menggunakan media komunikasi elektornik melakukan hubungan biologis tanpa ketemuan. Bagaimana caranya untuk mengetahui kondisi sosial yang sedang tejadi di alam global dari komunitas PEKKA tentu melalui observasi dan orientasi. Tapi awas jangan malah terjerumus dan ketagihan mengidap penyakit menghayal dan malas seperti morpinis dan narkoba. Tentunya harus cukup ilmunya, kuat imannya, teguh pendirian dan semata-mata diniati untuk menemukan ilmu, solusi menggiring korban pada aktivitas PEKKA yang konstruktif, produktif serta tidak merugikan orang lain.

                Mengapa perlu ada ide atau gagasan yang lebih konstruktif membina PEKKA. Karena progarm PUG ataupun Pemberdayaan Perempuan baru bersifat normatif dan idealis. Tanpa diimbangi dengan praktis dan implementatis menjawab persoalan yang sedang terjadi dalam dunia global. Dikarenakan sangat sensitif ketika melakukan pembinaan yang mendalam terhadap wanita rawan sosial. Yang ada hanya merupakan pengguguran kewajiban sehingga hasilnya “puraga tamba kadenda” karena tidak ke titik sentralnya atau ke sumber masalah maka yang terjadi hanya merupakan obat penawar sakit. Sedangkan penyakit sosial masyarakat yang sebenarnya tidak akan tersentuh dan tidak akan bisa tersentuh.

                Memang sangat sulit untuk berlaku empati terhadap persolan wanita rawan sosial. Sebab daya magnitnya untuk bisa terjerumus pada lobang yang sama sangat memungkinkan. Apalagi bila disertai oleh sifat “purunyus”. Sedangkan kenyataan yang sesungguhnya tidak ada satu daerah kota atau kampung yang terbebas dari permasalahan wanita penghibur. Yang jadi persoalan bisakah di arahkan kepada pembinaan PEKKA atau bisakah dilokalisir supaya tidak merambah pirusnya ke mana-man. Karena ketika sudah menjalar kemana-mana bagaikan masuk dalam aliran darah akan serba salah dan semua menjadi bingung untuk mengatasi atau membatasinya. Bahkan akan terjadi kompikasi berbagai masalah sosial.

                Walaupun masalah sosial itu sulit, jelimet dan memerlukan kecerdasan. Namun yang menjadi rating tertinggi penghargaan negara ataupun opini masyarakat terhadap pendidikan adalah jurusan ilmu pasti seperti halnya jadi Insinyur, jadi Dokter. Bahkan perhatian pemerintah terhadap ilmu sosial masih rendah. Bisa dibayangkan ketika ada program yang dialokasikan dalam belanja modal atau belanja publik pasti didorong untuk membuat infra struktur atau menyembuhkan penyakit. Sedangkan perhatian kepada pemeliharaan atau pencegahan terjangkitnya penyakit tidak menjadi prioritas bahkan dianggap penghamburan. Sayangnya  proyek-proyek fisik disinyalir paling rentan terhadap penyimpangan dan penyunatan. Padahal untuk melakukan pembinaan PEKKA sangat strategis dan mendasar. Sebaik apapun program untuk memperbaiki infrastruktur ketika tidak diimbangi dengan keseriusan melakukan pembinaan terhadap perempuan kelapa keluarga maka akan terjadi penggerogotan akhlaq, moral dan etika. Karena peribahasa sunda saja mengatakan yang menjadi cobaan dunia adalah “ harta, tahta dan wanita “. Ketiganya merupakan segitiga sama sisi yang perlu dipelajari sungguh-sungguh.

                Ketika semua elemen masyarakat mampu membina peka secara konstruktif, kreatif dan produktif maka akan kokoh kuat daerah itu bahkan akan sejahteran. Karena kokoh kuatnya suatu negara tergantung kepada  kokoh kuatnya wanita. Mengapa PEKKA yang harus diutamakan dalam pembinaan peranan wanita. Sebab kalau PUS tidak serentan yang dihadapi oleh PEKKA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: