Mitra Utama KB

Salah satu kelemahan dari pelaksanaan program KB di Indonesia adalah tidak menangani KB dari mulai hulu ke hilir. Sehingga BKKBN hanya berkutat pada masalah Komunikasi, Informasi dan Edukasi. Paling dalamnya melakukan advokasi dan konseling. Sedangkan pelayanan pasti digarap oleh institusi lain yaitu  Dinas Kesehatan. Yang mempunyai tenaga medis dan paramedis. Makanya dalam setiap momentum pasti gerakan KB mengedepankan kemitraan. Bahkan yang menjadi mitra utama KB dan yang paling diandalkan adalah TP PKK. Kebetulan di setiap Kabupaten/Kota bahwa PKK dijabat oleh Istri Kepala Daerah. Sehingga momentum Hari Kesatuan Gerak PKK di tempatkan di bulan Oktober, Nopember dan Desember. Dengan maksud untuk menyisir sisa PPM yang belum tercapai.

Pada tahun 2009 kegiatan Puncak Peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK, KB Kes. Dipusatkan di Alun-alaun utama Kota Cirebon. Antusiasme para kader dan PLKB nampak semangat untuk mensukseskan acara tersebut. Di satu sisi sebagai media KIE massa di pihak lain sebagai ajang silaturahmi dan rekreasi para kader dan aktivis gerakan KB. Makanya dalam setiap kegiatan yang melibatkan massa selalu dikemas dengan berbagai atraksi dan gelar dagang. Sebagai ajang tukar pengalaman dan memamerkan hasil produk UPPKS. Kegiatannya selalu gebyar dihiasi pula dengan tongkrongan motor PLKB dan MUPEN mewarnai hiruk pikuknya kerumunan massa. Bahkan selalu diikuti pula dengan road show kendaraan bermotor dengan Yel-yel yang membangkitkan semangat. Begitu pula di alun-alan kejaksan Kota Cirebon mampu mengundang perhatian orang bahwa gerakan KB masih tetap membahana di bumi persada Ibu Pertiwi.

Namun sangat disayangkan metoda yang diterapkan dalam KIE sejak KB bediri di tahun 1970 sampai dengan era reformasi masih tetap seperti yang dulu. Padahal dunia sudah berubah perlu ada modifikasi yang disesuaikan dengan pola perkembangan jaman. Misalnya melalui kerjasama provider melalui aktivitas pengiriman SMS berhadiah atau melalui fesival yang diisar ulangkan oleh TV. Kebanyakan para insan KB masih selalu bernostalgia dengan keberhasilan masa lalu. Sehingga masa depan terlupakan, tantangan ke depan terabaikan. Kalau ada kegagalan selalu dikambing hitamkan bahwa kegagalan program KB gara-gara desentralisasi. Gara-gara para pejabat KB di angkat dari pegawai daerah. Bahkan yang lucunya setelah otonomi daerah masih tetap saja dibuat bayang-bayang ada dua institusi yang menangani terutama di tingkat provinsi.

Dipihak lain tidak ada fokus apa prioritas yang akan dicapai. Apakah hanya dari PPM atau menyisir seluruh pasangan usia subur untuk jadi akseptor KB. Malahan indikator keberhasilan program terlalu log dan terlalu mengedepankan KKP2 yang diwarnai dengan kegiatan Bina-bina. Sehngga di daerah itu sering ada anekdot bahwa progarm KB adalah progarm kabina-bina.  Jadi keterlaluan banyak menyita waktu untuk membuat RR dari mulai pendataan keluarga, mini survey, lapaoran bulanan, laporan triwulan, semesteran, tahunan. Yang anehnya data base harus dijadikan patokan capaian kinerja. Namun keabsahan data base yang lama itu belum tentu keakuratannya sesuai dengan kondisi lapangan. Contoh seperti data base UPPKS ketika ada program dari Yayasan Damandiri melalui TAKSESRA DAN KUKESRA dengan data di lapangan sungguh sangat stagnan dan tidak sesuai.

Maka ketidak sesuaian data tersebut membingungkan mitra kerja KB termasuk para kader PKK. Bahkan data UPPKS dengan UP2K kadang-kala terjadi duplikasi. Dikarenakan tidak bisa dipisahkan antara kader PKK, Kader UPPKS dengan kader Bina-bina. Yang terjadi adalah kebingungan dan kejenuhan dikala setiap program harus dilaporkan secara bersamaan dalam waktu yang sama atau ketika harus ditampilkan bersamaan. Yang lucunya dalam kegiatan kesatuan gerak PKK< KB, Kes yang dikedepankan bukan mencari solusi untuk mencapai PPM dari masing-masing program. Yang ada malah dikedepankan adalah lomba-lomba.

Seharusnya yang dikedepankan dalam giat kesatuan gerak PKK, KB, Kes bukan lomba tapi harusnya evaluasi capaian program. Ketika ada yang belum sampai pada PPM maka harus dikerubuti oleh seluruh kabupaten/kota untuk mencapainya. Namun bila pendekatannya melalui lomba, maka orang akan berlomba sekuat tenaga demi prestise daerah. Yang akhirnya yang maju semakin maju dan yang tertinggal akan tertap tertinggal. Karena perlakukan dan sumber daya-nya tidak sama. Misalnya Kota Sukabumi harus dilombakan dengan Kota Bandung atau Kabupaten Sukabumi. Pasti beda karakteristik dan beda parameternya. Ketika lomba tidak pernah di evaluasi apa kekurangannya dan apa kelebihannya untuk dicontoh. Sehingga di dalam program bina-bina kegiatan KB sulit menemukan brandmarks. Untuk kemajuan sebuah ilmu yang bisa dipelajari orang lain.

Ketika metode kegiatan kesatuan gerak PKK, KB dan Kesehatan tidak menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Maka program KB akan semakin jauh tertinggal oleh program-program pembangunan lainnya. Coba bandingkan jumlah penduduk dari tahun ke tahun tidak ada satu daerahpun yang jumlah penduduknya tetap atau kurang. Malahan yang ada setiap tahun dari sejak tahun 1970 sampai era reformasi jumlah penduduk terus meningkat, jadi dimana sebenarnya keberhasilan program KB itu. Apakah hanya diukur dari PPM atau harus diukur dari tetapnya jumlah penduduk atau menurunnya jumlah penduduk. Atau hanya mengandalkan TFR.

Apakah ada kesamaan persepsi dan kesamaan gerak antara mitra kerja KB dengan para petugas KB. Dimana sebenarnya titik singgungnya! Apakah dalam penuruan AKB dan AKI atau dari jumlah penduduk, atau jumlah masyarakat yang dilayani. Jangan-jangan titik singgungnya hanya dari jumlah jasa medis yang diterima dengan jumlah pengadaan alat kontrasepsi dan pemakaian alat kontrasepsi. Apalagi alat kontrasepsi bukan monopoli institusi KB. Sehingga jumlah kontrasepsi yang dipakai akseptor jika dibanding dengan jumlah pengadaan alat kontrasepsi pasti tidak akan sama. Begitu pula apakah tersalurkannya alat kontrasepsi sesuai dengan jumlah akseptor. Ketika ada perbedaan bagaimana solusi untuk memperbaikinya. Belum lagi bila alat kontrasepsi yang dipakai dibanding dengan jumlah ibu yang hamil atau melahirkan.

Disinilah harus ada kesatuan gerak antar mitra kerja KB untuk menunda kelahiran dan atau membatasi kelahiran. bila perlu menurunkan angka kelahiran. Yang dampaknya pada penurunan jumlah penduduk atau menstabilkan jumlah penduduk. Apabila pertambahan penduduk di setiap daerah ditudingkan pada penambahan migrasi, harus diketahui dari mana migrasinya dan bagaiman dengan jumlah penduduk wilayah lain. Karena bila semua wilayah tetap jumlah penduduknya bertambah bisa jadi secara nasional bertambah dan bila ditudingkan pada migrasi jadi migrasi dari negara mana? Hal ini menjadi penting. Jangan sampai terjadi jumlah penduduk asli terus berkurang dan penduduk pendatang terus bertambah sehingga identitas suatu daerah tidak jelas jati dirinya dan berdampak pada budaya dan kearifan lokal. Terutama di daerah-daerah perkotaan dan daerah yang akses serta mobilitas penduduknya sangat tinggi. Apabila program KB bisa mengembangkan analisis dari RR yang dibuat setiap saat seperti itu, maka akan menemukan ilmu baru tentang pengendalilan penduduk.

Ketika mitra kerja tidak didorong mempunyai persepsi yang sama dalam gerakan KB sesuai dengan perkembangan jaman. Maka pengendalian dan kualitas penduduk hanya mejadi semboyan belaka. Misalnya NKKBS sudah digelorakan sejak berdirinya program KB tapi justru penduduk Indoensia bukan menjadi Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera malah yang terjadi, jadi Keluarga Besar yang terjerat dengan kemiskinan dan keterpurukan. Jika dibandingkan dengan negara tetangga apalagi dibandingkan dengan negara-negara maju di dunia. Juragn pemisahnya sangat tinggi dan yang paling mengerikan ternyata mata uang Indonesia sangat rendah dibandingkan dengan mata uang negara tetangga ataupun negara dunia.

Seb enarnya mitera kerja utama gerakan KB sudah teruji dengan TP PKK. Bahkan yang paling nampak bahwa gerakan KB masuk dalam lirik lalu Mars PKK. Namun demikian secara absolut masih ada saja penduduk Indonesia yang mempunyai anak lebih dari dua. Walaupun rata-rata  dari PUS mencapai TFR mendekati dua. Itu masih disumbang oleh PUS yang tidak mempunyai anak. Bahkan jika menghitungnya dari jumlah penduduk wanita. Maka rasionya masih disumbang oleh perempuan yang tidak punya pasangan. Apakah perawan sampai tua maupun janda. Kalaulah KB adalah merencanakan keluarga menjadi keluarga kecil bahagia sehat dan sejahtera. Maka PKK adalah pemberdayaan kesejahteraan keluarga.

Ketika mempunyai pemikiran pemberdayaan. Berarti ada satu aktivitas membuat keluarga jadi berdaya. Sedangkan ciri-ciri berdaya bagi orang sunda adalah ( kanyaho, kahayang, karesep, kabisa, kadaek, jeung ka boga ). Karena titik sentralnya adalah keluarga maka setiap orang yang akan berkeluarga harus mempunyai pengetahuan tentang fenomena keluarga. Harus mempunyai visi menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah, berarti berkemauan keras untuk mewujudkan kesejahteraan lahir bathin. Harus mempunyai hoby menyenangkan sesama pasangan sesuai dengan kemampuan masing-masing yang disepakati bersama. Harus mempunyai kemampuan untuk menghidupi keluarga dan dihidupi dalam rumpun keluarga yang saling pengertian. Harus mempunyai keterampian untuk menggali sumber-sumber yang bisa menghidupi keluarga dengan jiwa enterpreneur. Harus memiliki bekal hidup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Berupa sandang-pangan, papan sertaa paguyuban.

Mengapa harus punya paguyuban. Karena manusia tidak akan mampu hidup sendiri. Jangankan manusia di jaman sekarang. Ketika Nabi Adam saja diciptakan oleh Allah SWT di Surga. Ternyata tidak sanggup untuk hidup sendiri. Bahkan memohon kepada Allah SWT untuk diberi teman. Jadi semakin jelaslah bahwa program KB tidak bisa hanya mengandalkan BKKBN tapi harus mempunyai mitra kerja utama seperti halnya dengan TP PKK di setiap tingkatan. Apalagi PKK sudah mengakar sampai ke tingkat dasa wisma. Hanya harus ada teknik yang terkini untuk menggerakkan dan memberdayakannya. Terutama dalam menwujudkan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sehat dan Sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: