Evaluasi tahun ke dua Pelaksanan Tugas

Sesuai dengan janji SKPD kepada Walikota Sukabumi yang dituangkan dalam Tapkin maka dengan telah berjalannya pelaksanaan kerja dua tahun terakhir perlu di evaluasi. Terutama yang berhubungan dengan Pro poor dan pro job. Namun karena tidak pernah melakukan pendataan orang miskin maka untuk menjawab tentang keberpihakan pada Por poor dilakukan analogi pengertian orang miskin dari data Pra sejahtera alasan ekonomi ditambah KS1 alasan ekonomi. Yaitu pada tahun 2006 Pra KS alek 2.534 dan KS1 alek 18.586 maka jumlah analogi orang miskin tahun 2006 sebanyak 21.120 KK. Untuk tahun 2007 pra KS alek 2.294 ditambah KS1 alek 17.650 jadi analogi orang miskin tahun 2007 adalah 19.944 KK sedangkan untuk tahun 2008 pra KS alek 2.146 dan KS1 alek 14.287 jadi analogi orang miskin tahun 2008 adalh 16.433 KK. Sedangkan pra KS alek tahun 2009 sebanyak 3.125 dan KS1 akek 13.210 sehingga analogi orang miskit tahun 2009 adalah 16.335 KK. Untuk tahun 2010 pra Ks alek 3.059 ditambah KS1 alek 11.644 maka analogi orang miskin tahun 2010 adalah 14.703 atau setara dengan 47.981 jiwa. 

                Secara kuantitas bila melihat fakta dari data yang ditabulasikan berdasarkan hasil pendataan keluarga maka analogi orang miskin ada penurunan dari tahun 2006, ke tahun 2007, terus ke tahun 2008 dan sampai pada tahun 2009 bahkan tahun 2010 analogi orang miskin tinggal 14.703. namun karena jatah Raskin dengan perhitungan rumah tangga sasaran hanya 12.850 RTS. Berarti masih ada kepala keluraga yang tidak mendapatkan beras raskin atau bisa saja dalam satu RTS ada dua kepala keluarga atau lebih. Perbedaan data seperti itu mungkin saja bila tidak diinformasikan dan tidak dijelaskan akan terjadi silang pendapat, dan di tengah-tengah masyarakat bisa jadi persoalan memicu demontrasi atau ketidak percayaan publik terhadap  hasil pendataan.

                Perlu diingat yang namanya data statistik adalah data yang diperoleh dengan rumus untuk menghitung data makro secara internasional. Sedangkan data program adalah untuk mengintervensi masalah dengan berbagai keterbatasan sumber daya yang tersedia. Makanya tidak akan pernah bisa diadopsi begitu saja data sektor menjadi data umum sebab mungkin saja ada parameter yang tidak sama dalam pengumpulan data itu. Namun yang penting perbedaan parameter itu harus dipahami dan disepakati bersama supaya tidak terjadi polemik mempertentangkan data. Sedang di lapangan masyarakat sangat menanti penanganan serba cepat, tepat dan akurat. Akhirnya dari setiap kebijakan penanganan sosial atau penanganan bencana sering berakibat pada masalah orang yang mengurus jamiman sosial atau sosial kemasyarakatan berujung pada SOKSIAL masuk ke lembaga permasyarakatan. Naudu billah himindalik.

                Mengapa itu terjadi kadangkala situasi chaos ditangani oleh paramete penegakan hukum dalam kondisi normal. Sehingga sering ditemukan salah prosedur. Yang namanya salah prosedur kadangkala bisa dikenakan pasal melanggar hukum atau melawan hukum. Sehingga harus menanggung derita dari kesalahan mengambil dalil. Situasi crowded diperiksa dalam keadaan tenang. Situasi masa lalu diadili situasi hari ini. Situasi masa bekerja diadili masa pensiun. Yang mungkin ada data yang sudah tidak lengkap, data yang hilang sehingga dalam membela diri tidak bisa menemukan bukti. Akhirnya terkena pasal hukum untuk dipidana. Untung kalau yang dikenakan hukuman itu betul-betul orang dur jana. Tapi kalau orang yang dikenai hukum pidana karena situasi dan kondisi mungkin akan muncul perasaan ketidak adilan. Dan orang mencari keadilan yang tidak mungkin diperoleh karena yang maha adil hanya Allah SWT.

                Setelah digelorakan penegakan hukum dan hukum menjadi panglima dalam mengarungi hidup dan kehitupan yang serba sulit dan mengglobal ini belum pernah menemukan berita di media ada penurunan pelanggaran, atau ada peningkatan akhlaq mulia. Malah disana sini ditemukan orang yang melanggar hukum,  mempertentangkan hukum, bahkan mencari orang untuk dihukum. Semua berperang mencari strategi untuk saling membalas dan saling mengorek kesalahan dan berupaya sekuat tenaga mencari kelemahan orang lain. Sehingga lupa diri bahwa manusia itu sebenarnya tempat salah, namun semua orang berjuang bahwa dirinya yang paling benar.

                Dalam ilmu manajemen dikenal adanya evaluasi. Namun evaluasi tidak identik dengan mepertahankan kebenaran atau mencari kesalahan. Evaluasi adalah memotret apa yang telah terjadi dan bagaimana mempertahankan keberhasilan serta meningkatkan kinerja bila masih ada potensi yang belum optimal dimanfaatkan. Kalau evaluasi ujungnya melahirkan orang harus dipenjara mungkin orang akan menghindar dari proses evaluasi. Lain lagi dengan kontrol adalah melakukana pengecekan ketika proses sedang berjalan. Dikala ada potensi yang tidak optimal maka kinerjanya dipacu supaya memenuhi standar minimal. Bahkan kalau perlu sampai apda coutomer satesfection. Melalui total qulity manajemen.  Dikarenakan ilmu manajemen tidak dijadikan panglima maka ditemukanlah kesalahan di akhir. Ujungnya adalah hukuman. Ketika orang dihukum habislah masa depannya dan sirnalah kreativitasnya. Bahkan tidak akan produktuf sehingga dunia ini penuh disii oleh pesakitan makanya dunia merana karena tidak ada yang mengolah. 

                Jargon pro poor dan pro job itu sangat ideal. Namun perlu diingat bahwa yang namanya miskin itu tidak mesti didorong menjadi kaya. Tapi bagaiman orang miskin konaah dan semangat hidupnya tinggi dengan penuh kesederhanaan menggunakan potensi dirinya memenuhi kebutuhan hidup sesuai dengan stratanya. Ketika orang miskin berubah jadi mulyuner belum tentu memberi manfat bagi orang banyak mungkin saja jadi bahan perbincangan dan membangkitkan iri hati contoh darsem. Miskin dan kaya berpasangan sampai dunia ini kiamat. Jangan berkoar-koar mengatas namakan orang miskin karena orang miskin belum tentu berfikir untuk menjadi orang kaya. Orang kaya jangan takut jatuh miskin bila memperhatikan orang miskin melalui zakat,infaq dan shodaqoh. Namun harus diingat semuanya harus didasari dengan keimanan dan mencari ridho Allah SWT. Jadi sangat tepat bila BPMPKB tidak mendata orang miskin tapi mendata orang yang pra sejahtera, sejahtera satu, sejahtera dua, sejahtera tiga dan sejahtera tiga plus.

                Walaupun BPMPKB berupaya menganalogikan jumlah orang miskin dari kondisi pra KS alek dengan KS1 alek itu hanya untuk menjawab tuntutan situasi dan kondisi dari sang penguasa dan pengamat yang mewakili rakyat. Walaupun tidak pernah dekat dengan rakyat. Rakyat yang berhimpun dalam bentuk masyarakat perlu diberdayakan sesuai dengan kondisi potensi yang dimilikinya. Dikala masyarakat tidak mau mengembangkan potensinya jangan berharap merasa sejahtera. Karena perasaan sejahtera itu ada pada diri sendiri bukan hanya dari ukuran orang lain. Sejahtera itu adalah perasaan lahir bhatin. Bisa saja orang yang hanya menemukan sesuap nasi merasa sejahtera karena tidak pernah dikejar-kejar dosa. Tapi bisa saja orang kaya raya merasa tidak sejahtera karena dikejar-kejar peminta-minta ataupun dikerjar-kejar dosa dan konflikasi penyakit bahkan kekayaannya tidak bisa dinikmati.

                Magaiman masyarakat itu supaya berdaya? Makanya berdasarkan pengamatan di lapangan bahwa berdaya itu adalah (1) kanyaho (2) kahayang (3) karesep (4) kabisa (5) kadaek (6) kaboga. Setiap orang harus tahu betul tentang pemaknaan sejahtera, bila tahu makna sejahtera disebabkan kekayaan. Mungkin orang akan sebanyak-banyaknya mencari kekayaan karena nilai ukur kesejahteraan dianggapnya lahir dari harta yang banyak. Tapi kalau orang tahu bahwa kesejahteraan itu ada di hati yang jernih dan sehat. Maka orang akan menjaga hatinya dan menyenangkan hatinya dalam kondisi lapang ataupun dalam kondisi sempit.

Setiap orang harus diberi motivasi mempunyai keinginan memenuhi kebutuhan hidup lahir batin. Tidak jamannya orang diiming-imingi cita-cita setinggi langit bila tidak memperhatikan potensi dirinya “teu ngukur ka kujur”. Keinginan itu harus disesuaikan dengan kemampuan yang telah dimiliki. Setiap orang harus mempunyai kesenangan (hobi) supaya hidup bergairah tidak pernah berputus asa. Harus merasa senang bahwa hidup ini anugrah dan amanah sehingga tidak “ngarasula”.

Setiap orang harus mempunyai keterampilan hidup sebagaimana orang-orang purba siap berpetualang memperoleh kebutuhan hidup dari mulai berburu, bertani, berdagang. Kini orang didup di erta global mengembangkan industri dan teknologi, menginformasikan menjadi sebuah solusi pemecahan hidup dan kehidupan. Setiap orang mesti dibiasakan mandiri dan memandirikan diri melalui kewiraswastaan enterpreneurship karena yang akan menyelematkan diri adalah, diri sendiri. Orang lain hanya sebagai sarana dalam kehidupan bermasyarakat tapi yang harus menyelematkan diri adalah orang itu sendiri “ qu anfusakum wa ahalikum naro” selamatkan dirimu dan keluarga mu dari api neraka.

Setiap orang harus didorong mempunyai modal dasar untuk bangkit dari fenomena kehidupan sebab manusia dilahirkan di muka bumi ini justru mengemban amanah untuk memakmurkan bumi ini. Dan bukan hanya untuk menjadi orang kaya. Sebutan kaya itu karena ada orang miskin. Mungkin saja tidak akan pernah ada orang kaya jika tidak ada orang miskin. Jadi kemiskinan itu jangan dibenci. Karena sunatullah. Tapi bagaimana orang miskin itu bisa bermanfaat bagi orang kaya dan orang kaya bisa mengayomi orang mislin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: