Pentingnya KIE Program KB

Sejak tahun 1970 terlah banyak digulirkan berbagai tehnik dan metode menyampaikan informasi program KB, baik secara verbal, secara visual ataupun simulasi dan percontohan atau penteladanan yang dilakukan oleh Pegawai Negeri Sipil ataupun TNI dan POLRI. Sehingga untuk memperkenalkan alat kontrasepsi dan pemasangan alat kontrasepsi dilakukan melalui berbagai momentum. Seperti dalam hari IBI, IDI, Bayangkari, TMKK,  serta berbagi acara hari besar nasional. Untuk itu sangat diperlukan komunikasi, informasi dan education. Sebagai langkah awal penyampaian pesan kepada calon akseptor, setelah itu dibuat info consent. Maka para PLKB diwajibkan melakukan konseling kepada calon akseptor untuk menentukan pilihan yang tepat, baik waktu, jenis alat kontrasepsi yang akan digunakan. Maupun motivasi dan tujuan ataupun kesiapan mental menghadapi berbagai keluhan perubahan yang terjadi pada reaksi tubuh manusia paska menggunakan alat kontrasepsi.

Idealnya yang diberikan KIE adalah calon akseptor KB. Namun yang dirasakan dan dilihat dengan mata kepala sendiri bahwa yang di KIE agak bias dan kebanyakan yang hadir adalah PLKB dan kader Pos KB dengan pengurus POS Yandu bahkan peserta KB aktif. Padahal KIE dimaksudkan untuk menyampaikan pesan kepada Pasangan usia subur agar segera menjadi akseptor KB Aktif. Informasi yang disampaikan adalah seputar jenis alat kontrasepsi, cara menggunakan serta dimana bisa memasang alat kontrasepsi bahkan kemana memeriksakan kesehtan bagi akseptor KB. Sedangkan edukasi adalah pemberian pengetahuan mengenai manfaat KB, dampak yang akan terjadi bila tidak menjadi peserta KB bahkan pengetahuan yang berhubungan dengan population growt, environment yang mempengaruhi keikutsertaan KB dan development generation sejak dari dalam kandungan sampai usia lanjut. Untuk mensejahterakan umat manusia.

Sedangkan pembinaan diarahkan pada peserta KB aktif dan kepada para petugas lapangan ataupun Kader dan IMP KB dalam kolidor Subid Pelayanan. Namun sudah bergeser dalam tatanan implementasinya bahwa pelayanan diarahkan pada pemberian honor petugas medis dan pelaksanaan momentum bakti sosial ataupun gerakan KB gratis bagi daerah legokan. Serta memobilisasi para calon akseptor untuk bisa dilayani di tempat pelayanan pemerintah, pelayanan swasta ( DPS ataupun BPS ). Mengapa deviasi itu terjadi. Dimungkinkan karena dampak dari desentralisasi urusan KB di geser dari program pusat menjadi urusan wajib daerah. Di lain pihak karena petugas lapangan sangat minim sehingga penggerakan, pembinaan dan pelayanan diambil alih oleh petugas dari Sub Bidang KIE dengan Sub bidang Pelayanan.

Anehnya kinerja dari KIE dengan  Pelayanan, pelaporannya dilaksanakan oleh Bidang KS. Sehingga sering terjadi kelambatan dalam pelaporan. Diakibatkan kekuarangan personal dan lintas bidang. Apabila ingin efektif dan efesien maka KIE dan Pelayanan harus satu Sub bidang. Sedangkan Pelaporan satu sub bidang tetapi masih dalam rumpun bidang KB. Akibat yang terjadi pencapaian akseptor KB baru, hanya mengandalkan hasil dari laporan F2 bukan progres hasil dari kinerja KIE. Sehingga angka dropout di bulan berikutnya sangat tinggi dan melebihi ambang batas. Ketika kondisi tersebut terus berulang-ulang maka angka unmetneed semakin tinggi bahkan melebihi angka rata-rata Jawa Barat dan mungkin juga angka rata-rata nasional. Di sini harus ada komitmen tegas apakah capaian kinerja akan diukur dari KKP1 atau KKP2 atau kedua-duanya dikumulatifkan.

Dengan demikian, terus bertambahnya jumlah penduduk bukan semata-mata KB diserahakan de daerah. Atau pejabat OPD KB dijabat oleh orang daerah. Melainkan sistem yang diformat dalam mensukseskan program KB mesti dievaluasi. Terutama dalam menentukan target dan besaran anggaran antara KKP1 dengan KKP2 harus proforsional dan kontektual. Bila memungkinkan setiap daerah menghitung anggaran, jika anak lahir sampai wajar dikdas, dengan membandingkan jika kelahiran anak tertunda. Semua pakar KB harus mulai melirik grafik kenaikan jumlah penduduk setiap tahun apakah pernah ada grafik menurun atau tetap setiap tahun menaik. Bila keberhasilan program KB hanya diukur dari TFR dan tidak dari angka absolut setiap individu yang di KIE. Maka hasilnya akan bias seperti halnya mengukur kesejahteran dan kemakmuran dari LPE pasti ada anomali jika dibandingkan dengan angka absolut jumlah orang miskin.

Program KS adalah dampak bawaan dari efek domino ketidak berhasilan menekan angka kelahiran. Konsep makronya benar bahwa bina-bina mesti dilakukan dikala kondisinya konstan. Namun bila memperhatikan kondisi nyata bagaimana menekan angka kelahiran absolut. Sebab bila ukurannya dari prosentase TFR atau CBR ataupun DBR walaupun setiap tahun prosentasenya menurun.  Tetap saja jumlah penduduk terus meningkat. Coba perhatikan dari 1 milayar penduduk dunia. Kini sampai 7 milyar. Lonjakan penduduk dengan TFR 6 dari jumlah 1 milyar tetap saja akan lebih besar lonjakan penduduk dengan TFR 0,9 dari 7 milyar. Begitu pula CU/PUS 80% dari 53 ribu jika dibandingkan dengan CU/PUS 20% dari 1. Juta lain dampaknya terhadap penekanan angka kelahiran.

Ahli demografi bukan hanya untuk menghitung proyeksi jumlah penduduk dimasa mendatang. Tapi harus menemukan teori bagaimana menekan jumlah penduduk absolut tidak diukur dari prosentase pertumbuhan, melainkan dari menurun atau konstannya jumlah penduduk. Walaupun pertumbuhannya kecil bila dari milyaran orang akan berbeda pertumbuhan besar dari100 ribu penduduk. Jadi tidak perlu berbangga diri dikala mampu menekan laju pertumbuhan jika penduduknya terus bertambah. Tapi harus mulai berpikir bagaimana penduduk itu konstan. Sebab akan berbeda pengertian jumlah penduduk konstan dengan laju pertumbuhan penduduk konstan. Karena berbeda nilai pembaginya. Kecuali bila laju pertumbuhannya o% bisa diartikan jumlah yang lahir dengan yang mati seimbang. Sehingga jumlah penduduk akan konstan.

Dalam KIE harus dianalisis apakah PUS tidak ber KB itu tidak paham manfaat KB, belum tahu tujuan ikut KB atau tidak terlayani oleh medis ketika akan dipasang alat kontrasepsi. Hal ini penting untuk menentukan pilihan alat kontra sepsi apa yang mesti disarankan. Bila jumlah akseptor KB seluruhnya telah menggunakan alat kontrasepsi, tapi tidak berdampak pada penurunan jumlah penduduk atau konstannya jumlah penduduk berarti KB belum efektir. Bila KB dipropagandakan untuk meningkatkan kesejahteraan berarti harus ada bukti bahwa seluruh akseptor KB seluruhnya sejahtera.  Namun bila akseptor KB mempunyai anak satu atau dua tapi hidupnya tidak sejahtera maka orang tidak akan yakin tentang manfaat ber KB. Seharusnya ketika orang setia menjadi akseptor KB dan anaknya sesuai dengan yang dipropagandakan dua anak cukup atu dua anak lebih baik, maka yang mempunyai anak dua atau kurang dari dua harus dipantau kesejahteraannya oleh negara. Kalau ada kendala dalam mencapai kesejahteraannya maka negara harus memfasilitasinya.

Ketika orang mempunyai anak dua atau kurang dari dua tidak difasilitasi kesejahteraannya, maka akan muncul pemahaman dari masyarakat bahwa masuk KB ataupun tidak masuk KB tidak ada makna apa-apa. Ketika asumsi seperti itu membekas di benak masyarakat, maka segencar apapun KIE yang dilakukan tidak akan membawa dampak terhadap ke ikut sertaan KB. Kalaulah paska reformasi ini masih ada masyarakat yang mempunyai anak sepuluh atau delapan. Berarti membludaknya jumlah penduduk bukan semata-mata KB dipegang oleh orang Daerah. Apalagi bila anak pertamanya sudah berumur 20 tahun, ke  dua delapan belas tahun ke tiga enambelas tahun ke empat empat belas tahun ke lima dua belas tahun keenam sepuluh tahun  ketujuh delapan atahun, kedelapan enam tahun kesembilan empat tahun dan kesepuluh dua tahun. Berarti sebelum otonomi juga KB tidak efektif.

Kajian seperti ini bukan bermaksud menepis aggapan tudingan dari praktisi KB atau pengamat KB yang membuat konklusi KB gagal gara-gara diserahkan ke daerah. Padahal dari dulu juga gerakan KB bukan hanya dilakukan oleh ansih petugas BKKBN. Tapi dari mulai Walikota, Camat, Lurah, sampai pada RT, RW bergerak bersama Kader. Walaupun masih dengan menggunakan pemaksaan dan sedikit kekerasan yang didukung APBN dan bantuan luar negeri besar. Jadi salah besar bila orang yang asalnya di luar BKKBN tidak mampu melaksanakan program KB secara serius, sukses dan sinergis dengan berbagai OPD di luar BKKBN. Justru yang aneh orang yang dulu bergebu-gebu mempropagandakan KB ketika dipindah ke OPD lain di luar institusi yang langsung menggarap KB tidak pernah melakukan pendekatan kerjanya memfasilitasi suksesnya program KB.  Bahkan seperti “kuda bijil ti gedogan”.

Ketika akan berupaya melakukan pertemuan dengan mantan BKKBN, untuk melaksanakan saresehan dan shareing pengetahuan bagaimana nasib BKKBN ke depan, maka tidak ada respon, seolah tidak cepat tanggap. Padahal sukses tidaknya melakukan KIE dikala dilakukan pengkodisian awal dan menyamakan persepsi agar komunikan dengan komunikator nyambung. Informasi akan akurat bila ada arsip/dokumen dan nara sumber yang pas sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan yang dikembangkan.

KIE internal cukup efektif karena ada balitbang. Tapi sayang balitbang tidak mengembangkan dengan pola ekspansi ke luar sehingga se olah-olah “kurung batok”. Seharusnya KIE dilakukan ke luar dan ke dalam, terutama untuk mengkondisikan lingkungan strategis yang mempengaruhi program KB gagal atau program KB sukses. Gagal dan suksesnya program KB tergantung pada KIE yang efektif ditambah dengan advokasi kepada para pemangku kepentingan. Dilain pihak ilmu demografi dan komuniksi harus diramu jadi ilmu baru untuk diminati oleh berbagai lapisan masyarakat. Seperti halnya ilmu mengetik saia, ketika dikembangkan dengan menggunakan computer menjadi ilmu baru ICT. Atau SIM. Sehingga yang tadinya hanya dari kursus informal dan non formal kini jadi ilmu terapan formal bahkan mampu melahirkan forensic IT dan Telematika. Dari mulai yang sederhana sampai pada yang tercanggih. Bahkab melahirkan S1, S2 dan kini sedang dikembangkan S3 informatika.

Seharusnya ilmu demografi menemukan ilmu baru tentang penyebaran penduduk, pengendalian penduduk, mobilisasi penduduk, ketahanan penduduk melakukan penelitiah etnik dan berbagai kajian tentang masalah penduduk dan kependudukan. Penduduk tidak cukup didaftar, tidak cukup di catat. Tapi bagaimana penduduk itu membuka lahan baru untuk tempat hunian. Terutama di pulau-pulau kosong. Atau daerah-darah terpencil. Untuk pulau kosong justru jangan dibatasi kelahirannya tapi harus dikembangkan kelahirannya. Namun diiringi pula tingkat kesejahteran dan  tingkat kenyamanan huniannya.

Bagi daerah yang padat penduduk programnya sudah tepat untuk membatasi kelahiran. Bukan mengatur kelahairan. Sedangkan bila pulau kosong diisisnya oleh program transmigrasi akan menemui kegagalan karena orang di tempat baru akan merasa asing di sisi lain dikala sudah maju akan terjadi konflik dengan penduduk asal. Hal ini banyak contoh di Sambas, Sampang dan Poso. Yang efektif adalah penduduk akan lebih encoy tumbuh dan berkembang di tempat kelahirannya. Kecuali orang yang sudah sangat modern dan mempunyai modal besar untuk berinvestasi di daerah baru akan terbuka aksesnya.

Jika KIE polanya konfensional seperti yang sudah ada sekarang.  Mempersamakan keberhasilan KB di daerah padat penduduk dengan di daerah yang jarang penduduk. Maka akan semakin timpang yang kosong penduduk akan terus semakin kosong penduduknya dan yang padat penduduk akan tetap bertambah penduduknya. Apalagi di daerah yang mobilitasnya penduduknya tinggi maka jumlah penduduknya akan terus bertambah. Ketika bertambah penduduknya tidak terkendali disudutkan pada mingrasi. Makanya demografi tidak hanya berkutat pada Fertilitas, Mortaliras dan Migrasi. Tapi harus jelas dimana program pembatasan kelahiran, dimana program pengendaliaan kelahiran, dimana pengendalian kematian, dimana pengendalian migrasi. Dan dimana daerah yang harus dikembangkan kelahirannya supaya tidak ada pulau yang kosong tak bertuan. Program KB harus lebih tegas apakah akan membatasi kelahiran atau mengatur kelahiran. Apakah akan diserahkan pada kebutuhan masyarkat dengan kemandiriannya atau akan diintervensi secara tegas oleh pemerintah.

Bila KIE program KB hanya setengah-setengah maka ledakan penduduk akan terjadi. Apalagi bila penduduk sudah sadar untuk menggunakan alat kontrasepsi untuk membatasi kelahiran. Dikala akan dipasang alat kontrasepsi harus mandiri dan pemasangannya harus membayar jasa medis.maka unmetneed akan terus meningkat. Jika anmentneed terus meningkat tidak terlayani maka atidak akan berdampak pada pembatasan kelahiran. Akhirnya agrafik jumlah penduduk akan terus meningkat. Dikala pertambahan penduduk mencapai ambang batas maka bisa terjadi manusia memakan manusia.

Untuk membatasi kelahiran rubah istialah KIE bukan hanya Komunikasi Informasi dan Edukasi tapi sedikit dengan ide gila “ Kondom, Implan, vasektome dan tubektomi” jika belum punya anak gunakan kondom, bila sudah mempunyai anak satu gunakan implan, bila sudah punya anak dua maka gunakan Vasektomi atau Tubektomi. Coba iklankan dimana mana dan lakukan itu. Pasti akan signifikan terhadap pembatasan kelahiran. Jadi progarm KB tidak banci lagi. Dan berlakukan untuk semua lapisan penduduk yang bertempat tinggal di Indonesia.

Sedangkan penduduk yang bertempat tinggal di pulau kosong atau daerah jarang penduduk tapi daerahnya subur mak KIE bukan Komunikasi Inforamsi dan Edukasi tapi . Segera Kawin bagi yang sudah cukup umur, Ibu yang sudah Jadi PUS segera melahirkan. Bagi yang sudah beranak pinak harus memahami makna dari Evironment. ( tumbuh suburkan lingkungan disekitar ) agar betah menghuni pulau yang ada disekeliling tempat kelahiran dan anak dibesarkan. Sehinga akan mewujudkan impian Dari Sabang sampai Meroke berjajar pulau-pulau “sambung menyambung menajdi satu” karena jumlah penduduknya seimbang. Itulah Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: