Pentingnya SPM Organisasi

Bagi organisasi baru, diperlukan adanya pemenuhan standar pelayanan minimal yang mampu menjawab tantangan serta kebutuhan organisasi. Maka sangat tepat bila BPMPKB yang baru dibentuk atas dasaar Perda Nomor 6 tahun 2008 dilakukan verifikasi oleh Asisten Administrasi yang membidangi Kepegawaian, Keuangan, Perlengkapan serta Keprotokolan. Sehingga kunjungan kerja yang dilakukan oleh Asisten Daerah bidang Administrasi disambut baik oleh seluruh pegawai yang bekerja di BPMPKB. Dengan harapan mampu menyampaikan informasi kondisi objektif yang berkaitan dengan keberadaan personal, peralatan serta pembiayaan. Hal ini semata-mata untuk menskseskan pelaksanaan kerja. Apalagi bila seluruh staf berkehendak untuk mendapatkan karir istimewa. Maka SPM menjadi sesuatu yang sangat penting dalam sebuah organisasi.

Apalagi BPMPKB merupakan organisasi yang mempunyai hubungan fungsional baik dengan tingkat propinsi maupun tingkat nasional. Dalam hal memainkan fungsi desentralisasi dan tugas pembantuan. Terutama dengan Dirjen PMD, BKKBN, Kementrian Pemberdayaan Perempuan melalui Badan Pemberdayaan Perempuan Keluarga Berencana Propinsi Jawa Barat. Maka personalnya sangat heterogen, peralatannya bercampur antara yang bersumber dari APBD maupun dari APBN.  Namun pendanaannya sangat minimalis dibandingkan dengan badan lain apakah Bappeda ataupun BKD. Dan hal ini menjadi tantangan besar bagi seorang pimpinan maupun staf untuk mensukseskan PPM ataupun target yang dijanjikan dalam Renstra SKPD ataupun Tapkin yang telah disampaikan kepada Walikota.

Suatu dorongan yang meyakinkan pegawai BPMPKB adalah perhatian Walikota mengenai SPM dan Total Quality Manajemen (TQM) yang sering disampaikan dalam setiap kesempatan pengarahan di tengah-tengah masyarakat ataupun di hadapan para stafnya. Maka wajar bila kondisi objektif SPM di BPMPKB di sampaikan pada Asisten Administrasi. Yaitu pada awal tahun 2009 bahwa petugas lapangan saja yang namanya PLKB hanya tingal 9, Kasubag dan Kasubid tidak ada. Apalagi staf sangat kurang. Dikarenakan ketika dibentuk BPMPKB yang dilantik baru beberapa orang diantaranya satu orang Kepala, stau orang Sekretaris dan empat orang Kepala Bidang.

Mengenai bangunan sedang ngontrak di bekas Mes Kodim 0607. Kendaraan yang ada hanya satu avanza, satu cary dan satu Feroza. Sepeda motor sebagian besar sudah dipindah tangankan kepada staf lama yang berasal dari Nip 38. Computer hanya 10 dalam kondisi rusak berat, meja biro terbatas, meja rapat tiga buah dan kursi rapat 40 buah. Laptop 3 buah ditambah dengan beberapa peralatan teknis lainnya. Kesempatan kunjungan Asistem Administrasi dijadikan ajang dialog untuk mencari solusi tentang pentingnya SPM organisasi. Diakrenakan apabila tanggung jawab besar bila tidak dipenuhi SPM maka akan terjadi pelayanan kepada masyarakat irasional. Sebab organisasi yang baik tidak hanya cukup dengan menggunakan intuisi ataupun ide. Melainkan harus sesuai antara rasio personal, peralatan dan pembiayaan dengan target PPM ataupun Target kinerja yang dijanjikan kepada pemegang kebijakan. Yang akhirnya akan dipertanggungjawabkan kepada publik melalui mekanisme LKPJ, LPPD ataupun LAKIP dan AKIP.

Masalah tersebut seperti yang terungkap dalam teori balance scord card. Bahwa pencapaian visi misi itu mesti didukung oleh empat faktor diantaranya. Organisasi, SDM, Pertumbuhan/ Pembelajaran, Keuangan. Ketika terjadi ketimpangan dimungkinkan visi dan misi hanya menjadi sebuah angan-angan. Bahkan hanya akan menjadi untaian kata dan kalimat yang indah seperti di alam mimpi. Apabila empat faktor yang ada di dalama teori balance scord card itu seimbang maka mimpi itu akan menjadi kenyataan. Bila tidak! maka sehebat apapun perencanaan hanya jadi dukumen yang menghiasi rak buku atau PC computer yang menyimpan berbagai data pemikiran abstak tanpa ada realissi dan implementasi rasional. Apalagi bila rasionalisasi anggaran malah menjadikan irasionalnya tercapainya visi dan misi oraganisasi.

Walaupun banyak dikatakan oleh para ahli bahwa kegagalan sebuah organisasi itu no share vision dari seorang pemimpin. Namun sebaliknya sebesar apapun sumbangan pemikiran para pemimpin terhadap visi. Apabila tidak diimbangbagi dengan sumberdaya masnusia, oranisasi yang cocok, perkembangan yang tidak beraturan serta keuangan irasional. Maka kegagalannya bukan semata pada pemimpin. Melainkan dipengaruhi oleh lingkungan strategis dan kondisi obyektif yang sedang terjadi. Disanalah diperlukan ketersediaan staf SMART dengan pemimpin situasional yang berkepribadian dan berkarakter akhlak mulia.

Kepribadian sang pemimpin dan kesabaran staf menghadapi situasi dan kondisi perubahan serba cepat yang berlaku di dalam organisasi baru. Sangat diperlukan singkonisasi, simplipikasi dan integrited proses kerjasama dua orang manusia atau lebih dalam sebuah organisasi menggunakan fungsi manajemen dan fungsi manajem melalui ledership yang memanfaatkan informasi melalui komuniasi dua arah. Sehingga outpun dan outcome baik secara kualitatif maupun kuantitatif terukur dalam ruang dan waktu yang disepakati bersama.

Tidak mudah mengukur keberhasilan capaian suatu program apabila tidak ada kesepakatan bersama. Apakah yang menjadi ukuran adalah SPM atau cumtemer satisfiction. Jangan sampai kepuasan pelanggan atau pelayanan kepada masyarakat ingin optimal ataupun maksimal. Tapi kemampuan sumberdaya sangat minimalis. Sebab teori lama sudah bergeser kalau dulu pengleluraran sekecil-kecilnya untuk mencapai hasil sebesar-besarnya. Tapi kalau sekarang pengeluran tertentu untuk mencapai standar pelayanan minimal. Keseimbangan antara SDM, Keuangan, Pertumbuhan dan organisasi untuk mencapai kepuasan pelanggan. Jangan mimpi bila kemampuan terbatas ingin menghasilkan optimal atau maksimal. Karena jaman batu sudah sirna, jaman purba sudah lewat. Era industri sudah usang bahkan harapan dengan kenyataan semakin curam. Dan kini sedang berlangsung era teknologi dan komunikasi dunia maya.

Simbul orang hidup di dunia maya adalah kepala besar, badan kecil, kaki pendek hanya mempunyai dua jari. Hidupnya di alam mimpi dengan cita-cita dan rencana jauh ke depan tapi melupakan kondisi yang sedang terjadi dengan mengungkap kesalahan masa lalu bagaikan sinetron ber seri panjang. Hujatan terlontar tanpa melirik kemampuan diri sendiri. SPM hanya dalam tulisan yang diperkuat landasan hukum. Akhirnya bisa menjerat diri sendiri. Kemampuan berorator tak terbantahkan, tapi dikala harus mengimplementasikan hanya mampu membuat miniatur dan sketsa. Kebohongan dan kebohongan meraja lela berkelit memutar kata. Fakta dan data hilang, menjadi lupa ingatan. Orang benar dikorbankan mengarah pada kehancuran.

Lukisan visi dimana-mana, SPM menjadi semboyan. Padahal hidup ini kenyataan dan bukan kebetulan, semuanya telah diamanahkan kepada orang yang berkemampuan. Anehnya visi dan misi targer wakunya terlalu panjang, sehingga tidak akan pernah tercapai karena yang merumuskan visi dan misi sudah tiada dalam dunia permainan. Bahkan menjadi penonton yang duduk manis melihat generasi yang pesimis merasakan hati teriris sembilu. Duduk tersimpuh malu mengenang dosa masa lalu. Tak mampu mewariskan masyarakat jadi berdaya yang ada malah terperdaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: