Kesan Pertama

Setiap orang mempunyai kenangan dan pengalaman hidupnya beraneka ragam. Jika diingat-ingat, mungkin  pengalaman masa lalu diwarnai oleh kesan pertama. Kesan itu bisa dipersepsikan sebuah penyesalan dan bisa juga sebuah motivasi diri untuk bangkit dan membuka lembaran baru. Setiap lembaran baru pasti bersih layaknya secarik kertas yang siap untuk diwarnai dengan sebuah gambar atau tulisan yang bisa menggiring inspirasi seseorang menorehkan sebuah temuan dirangkai menjadi sebuah pengetahuan. Tatkala pengetahuan itu disusun secara sistimatis menjadi sebuah ilmu yang mungkin bisa dipelajari dan bermanfaat bagi setiap insan manusia di masa mendatang. Bahkan akan menjadi  filosifi hidup dalam mengarungi kehidupan yang dinamis, berkelanjutan seperti spiral dinamik.

Dinamika kehidupan seseorang sangat subjektif. Bisa saja yang dianggap oleh orang itu cobaan, mungkin oleh orang lain dianggap sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan seseorang pasati berbeda tolok ukurnya. Tidak semua kebahagiaan bisa dinilai dengan materi ataupun uang. Bisa saja kebahagiaan itu diperoleh dari situasi baru, tugas baru, tanggung jawab baru, jabatan baru, kelas baru dan pemikiran baru yang mengilhami orang untuk bisa bergerak maju untuk memecahkan setiap persoalan yang dihadapinya. Apalagi setiap manusia dilahirkan di muka bumi ini untuk mengemban amanah untuk dipertanggung jawabkan di akhirat.

Tidak ada tanggung jawab dan perbuatan seseorang bisa dilimpahkan pada orang lain “ wala tajiru wijrotuw wijro ukhro”. Setiap langkah dan perbuatan pasti akan kembali pada dirinya. Namun kemaha rohman dan rohimnya Allah SWT, sangat membedakan antara orang yang satu dengan lainnya dalam mempertanggung jawabkan amal perbuatan itu. Ada yang dipertanggung jawabkan langsung di dunia, ada yang dipertanggung jawabkan di akhirat. Bahkan ada juga yang dipertanggung jawabkan dunia akhirat. Sesuai dengan kesanggupan dan do’a yang dimohonkan kepada Allah SWT. Namun kadang-kadang manusia iri pada orang lain tatkala menurut persepsinya orang lain salah. Bahkan menganggap dirinya paling benar, berlaga seperti malaikat. Padahal manusia itu ada diantara malaikat dan syetan. Disanalah diperlukan “mijan”/ timbangan.

Anehnya manusia akan menganggap tabu berhadapan dengan cap timbangan. Mengapa persepsi itu terbentuk dengan kuatnya. Apakah mijan itu yang salah, atau orang yang memainkan mijan itu dirasakan tidak adil. Ya namanya manusia! pasti tidak akan mampu memberikan keadilan. Karena yang maha adil adalah Allah SWT. Disinilah orang perlu diperkenalan dan mengenal Allah SWT sejak usia dini. Begitu pula ketika berhadapan dengan manusia perlu mengenal sifat dan karakter orang sejak dini. Dimula dari kesan pertama ketika bertemu, dipertemukan untuk bekerja sama dalam sebuah organisasi, baik organisasi formal, in formal maupun non formal. Apalagi bila organisasi itu harus berhadapan dengan masyarakat, perempuan dan keluarga berencana.

Tentunya berbeda antara orang yang tergabung di kemasyarakatan, keibuan dan keluarga berencana jika dibandingkan dengan orang yang tergabung dalam keuangan. Apakah dalam kompleksitas permasalahan ataupun tantangan dan hambatan yang mesti dihadapi dalam tugas seharian. Kalau orang yang bergelut di keuangan bisa dipastikan piduit/ukurannya duit. Karena yang dicari dalam tugas sehariannya duit. Kinerjanya diukur dari banyaknya duit yang terkumpul. Orang yang berkecimpung di masyarakat ukurannya sosial dengan berbagai dinamikanya. Orang yang berhadapan dengan perempuan ukurannya rasa dan perasaan. Orang yang berhadapan dengan Keluarga Berencana ukurannya kesejahteraan keluarga, keharmonisan. Termasuk meningkatnya penggunaan alat kontrasepsi.

Dari mana persepsi itu bisa diperoleh. Tentunya dari kesan pertama ketika  dipancarkan setiap orang yang ditemui paska pelantikan. Apalagi ketika upacara pengambilan sumpah jabatan, tidak ada utusan atau yang diutus untuk menghadiri upacara pelantikan, sangat diperlukan untuk menemui rekan kerja yang akan bekerja sama dalam organisasi baru. Wajarlah bila pimpinan baru meminta stafnya untuk bertemu secepatnya atau minta waktu pada stafnya untuk berkumpul sebentar di Kantor barunya. Hal ini untuk membaca kesan pertama apakah diterima keberadaannya di tengah-tengah mereka atau biasa-biasa saja.  Bila permintaan pertama untuk ketemu sedikit agak ogah-ogahan dan tidak kompak. Bisa diperkirakan ada sesuatu ganjalan dan mungkin juga tidak diterima seutuhnya. Hal ini akan menghambat dalam membentuk kekompakan dan kebersamaan dalam bekerja dan berkarya.

Walaupun terjadi kesan tidak diterima seutuhnya, bahkan ada pancaran tidak rela menerima kehadiran pemimpin baru. Namun seorang pemimpin tidak perlu mengkonter dengan kebencian namun perlu ditemui Bidang yang paling esensial dalam organisasi baru untuk diminta bantuan mempertemukan semua staf agar saling mengenal dan mengetahui mau seperti apa organisasi itu dibawa dan di gerakan ke arah mana. Apakah akan piduit atau sifat kebersamaan, kemasyarakatan, maupun keibuan demi kesejahteran bersama. Tentunya yang perlu dibangun adalah sebuah jembatan dan bukan membuat pagar yang kokoh. Walaupun pagar itu penting untuk melindungi serangan musuh dari luar dan menjaga pengaruh negatif budaya luar.  Tapi justu bagi seorang pemimpin baru, yang paling bermanfaat itu membuat jembatan. Agar keinginan pimpinan dan kemampuan staf bisa disambungkan dan semuanya bisa saling berinteraksi.

Ketika interaksi itu menjelma. Dipastikan akan saling membutuhkan dan saling memahami sifat karakter, tabeat, pembawaan, bahkan memahami serta memaklumi bahwa  manusia pasti mempunyai kelemahan. Dan bagaimana kelemahan itu diubah menjadi sebuah potensi untuk dipacu pada motivasi kerja sama dan bekerja bersama-sama. Membentuk budaya organisasi yang disepakati dan dipelihara bersama. Karena kecerdasan, keterampilan, ketaatan ataupun norma yang baku, bila mengabaikan kebersamaan pasti akan menemukan tirai besi dan tembok tebal cairnya komunikasi. Informasi dan interaksi layaknya makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri ataupun hidup menyendiri.

Namun demikian seorang pemimpin baru, perlu pula menyendiri sesaat, ketika ingin mempelajari arsip, program kerja maupun target yang akan dicapai dimasa mendatang. Dengan harapan dari dokumen yang ada bisa ditemukan jalan pintas ataupun terobosan baru dengan mencairkan suasana kebersamaan dan fokus pada tujuan organisasi. Karena tujuan organisai dengan tujuan individu yang ada dalam organisasi perlu didekatkan. Bahkan diminimalisir terjadi konflik kepentingan yang saling tarik menarik. Disini perlu ada aturan main yang disepakati bersama. Walaupun cita-citanya ideal. Namun karena di dunia ini tidak ada yang ideal. Maka harus ditemukan jalan tengah. Sebab terlalu berpegang kepada aturan pasti akan kaku. Terlalu longgar pasti akan kebablasan terjerumus pada jurang kesalahan, menggiring kegelapan dan ketidak tercapaian visi, misi, program dan kegiatan organisasi.

Bagaiman menutupi kelemahan masing-masing pihak supaya tidak saling membukakan aib. Apalagi aib itu tercium oleh tetangga sebelah, maka akan terjadi mala petaka. Ketidak berjalan roda organisasi. Ketika organisasi mandeg. Maka yang dirugikan adalah masyarakat. Ketika masyarakat rugi jangankan memperoleh kesejahteraan. Yang ada mungkin saja akan terjadi budaya saling hujat, saling mencari kesalahan. Dan kalau sudah saling mencari kesalahan dan saling temukan kelemahan maka madorotnya akan menyebar kemana-mana. Karena manusia sudah jelas tidak sempurna. Ketidak sempurnaan seseorang bila dimanfaatkan oleh tetangga bisa terjadi rugi bersama, ketika terjadi kerugian tentunya yang menanggung akibat bukan masing-masing individu saja melainkan seluruh komponen yang ada dalam organisasi kemasyarkatan, perempuan serta kelurga berencana tidak nyaman dan tidak merasa sejahtera. Ketika tidak sejahtera yang muncul bukan kreativitas. Malah akan berujung pada kemalasan, masa bodoh serta apatis.

Orang apatis produktivitasnya terganggu. Dikala banyak orang tidak produktif maka sumberdaya tidak termanfaatkan secara optimal. Padahal sumber daya itu sangat terbatas. Bahkan ada pula sumberdya yang tidak bisa diperbaharui. Apalagi bila sumber daya manusia sudah merasa jenuh dan tidak mau bekerja sama serta tidak menunjukkan jati diri sebenarnya sebagai manusia mulia. Bisa jadi mati suri dan mati rasa, sehingga menjadi beban negara. Bekerja tidak, gaji terus diambil serta menurunnya motivasi diri untuk berkarya apalagi menyumbangkan tenaga serta pikirannya untuk organiasi. Kesan seperti itu pasti ditemui di setiap organisasi. Itu merupakan pengangguran tak kentara seperti memakan gaji buta.

Apalagi di Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana. Sebagai organisasi besar dengan empat bidang satu sekretaris, tiga subag, delapan subidang. Staf sepuluh, Petugas lapangan sembilan dan pegawai yang dititip di PKK tiga serta di titip di Dharma Wanita Persatuan dua orang. Tentu tidak rasional antara beban kerja, tanggung jawab serta target renstra yang ingin dicapai jika dibandingkan dengan personal, peralatan, pembiayaan. Kesan pertama ini terbersit di otak kiri dan otak kanan. Maka diperlukan pemikiran jernih untuk memobilisir kinerja dan mengefektifkan program serta mengefesienkan anggaran.

Tantangannya sangat berat. Dikarenakan ada suatu kebiasaan bahwa anggaran yang diluncurkan ke Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan, Keluarga Berencana merupakan hasil perjuangan melalui loby antara Bidang Pemberdayaan Perempuan dengan salah satu staf Panitia Anggaran sehingga menjadi beban moril dan menguras tenaga untuk menghilangkan kesan tersebut agar setiap satuan anggaran bukan didasarkan pada loby melainkan harus berdasaran beban kerja dan kinerja yang dijanjikan dalam Penetapan Kinerja SKPD. (TAPKIN). Disanalah diperlukan tenaga ekstra untuk menyeimbangkan antara rasio, emosi dan etika serta logika dengan kondisi obyektif dan memang terjadi. Tentunya tidak bisa melawan secara prontal. Melainkan harus melalui proses yang panjang agar tidak terjadi komflik kepentingan antara internal dengan ekternal.

Kearifan dan kesabaran mengahadapi kesan ketidak nyamanan budaya organisasi merupakan tantangan baru dan perlu seni merencanakan, mengorganisasikan, menggerakan, mengontrol dan mengevaluasi secara sistemik yang tidak menimbulkan instabilitas. Apalagi ada skenario budaya lama akan menghabisi orang-orang senior, digantikan oleh orang baru. Dengan asumsi supaya mudah digerakan dan sejalan dengan orang-orang yang ada di oxilery staf. Pahal dalam sebuah organisasi baru diperlukan orang lama dan orang baru, bekerja sama secara sinergi membentuk budaya organisasi baru yang lebih kredibel serta lebih gesit serta arif dalam memutuskan sebuah persolan, dipilihkan alternatif pemecahan masalahnya. Bau yang tidak sedap seperti itu sempat tercium dari obrolan serta berkas yang tersimpan di dalam sebuah laptop.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: