Mengenal Ahli Advokasi

Entah apa yang melatarbelakangi Baperjakat menugaskan seseorang untuk masuk di OPD KB. Bahkan banyak celotehan yang namanya orang digiring ke KB adalah orang buangan. Apa benar itu! Atau hanya merupakan refleksi dari kekecewaan sesaat. Ya itulah dunia kadang yang benar bisa salah, yang salah bisa benar karena orientasinya maju tak gentar siapa yang bayar. Sebab uang bukan dijadikan alat tukar barang atau jasa. Melainkan sudah jadi alat komoditi sehingga orang banyak tergiur dengan uang. Padahal sebanyak apapun uang dikala situasi dan kondisi tidak mendukung pasti akan merasa tersiksa oleh uang. Yakini bahwa yang membuat orang bahagia dan sejahtera bukan semata-mata uang. Melainkan yang membawa orang itu bahagia dan sejahtera adalah hati yang tenang dengan tercukupinya barang dan jasa.

Barang yang dimiliki terlalu banyak akan ada resiko dicemburui orang, dicurigai orang, dibenci orang dan mungkin juga diburu orang. Sedangkan orang yang berjasa akan dihargai orang, dikenang orang, bahkan ketika hidupnya diberi tanda jasa. Namun banyak juga orang yang berjasa malah dikorbankan oleh kerakusan dan keserakahan manusia borjuis haus kekuasaan. Itulah fenomena dunia suka mengemas kekuasaannya dengan berbagai istilah yang halus dan laku dipasaran. Mungkin masih dikenal  istilah melanggengkan kekuasaan dengan anti revolusi, makar, reformasi,  kkn sebagai jargon yang laku dipasar orator. Istilah itu untuk membunuh karakter dari lawan politik. Jaman orde lama bila ada lawan politik membahayakan maka dituduh dengan istilah anti revolusi sehingga orang yang dituduh anti revolusi akan terbunuh karir politiknya.

Ketika jaman orde baru lawan politik akan dijerat dengan tuduhan makar. Sehingga orang tidak ada yang berani menyuarakan kebenaran hakiki. Semuanya manut dan ketika ada lawan poltik maka dituding makar, sehingga orang yang dutuding makar hancur luluhlah karir politiknya. Lain lagi disaat hancurnya orde baru. Maka lawan politik dituding dengan tuduhan anti reformasi, sehingga seluruh tatanan seolah-olah harus dirubah 180 derajat. Ketika ada lawan politik dituduh dengan istilah anti reformasi. Maka habislah karir politiknya. Namun ketika reformasi mulai mapan maka lawan potik akan dituding dengan istilah KKN. Ketika orang dijuluki KKN dan orang dituding, diselidiki, disidik, dan dituntut dengan Koruspi. Maka habislah karir politiknya. Ketika orang menjadi koban politik maka pemikirannya tidak akan dipakai, karyanya tidak akan diakui, idenya akan terbunuh, kejujurannya tidak akan didengar, kreativitasnya tidak tersalurkan bahkan tidak akan mempunyai kesempatan melakukan advokasi pada para pemegang kekuasaan atau kepada para pemangku kepentingan sebagai tokoh kunci.

Apabila tokoh kunci dikelilingi oleh para pembisik yang selalu mewaspadai lawan politik. Maka program mulia itu akan dianggap tidak berarti apa-apa, ketika keluarnya dari non politik. Dalam situasi seperti itu diperlukan sosok orang yang mampu melakukan advokasi.  Salah seorang yang paling mampu melakukan advokasi di bidang Keluarga Berencana adalah Rukman Heryana merupakan sosok sederhana, pemikirannya brilyan dan keberaniannya tangguh, kata-katanya menyentuh. Sehingga berpengaruh dihadapan para pemangku kepentingan. Talenta seperti itu tidak dimiliki semua orang dan sulit mencari yang setara.  Namun sayang ada undang-undang yang membatasi usia pensiun untuk eselon II/b sampai usia 56 tahun dan untuk eselon II/a sampai 60 tahun kendatipun pisiknya masih kuat, semangatnya masih menggebu, pemikirannya masih utuh. Tetap saja harus menjalani pensiun.

Ketika tanggal 28 Juli 2011 mendapatkan SMS untuk berkumpul di BKKBN Jawa Barat dengan rangkaian kegiatan untuk menghadiri siding terbuka promosi doctor di UNPAD dari salah seorang Petinggi BKKBN Pusat , rapat evaluasi/reviu program semester II tahun 2011, dilanjutkan dengan perpisahan Rukman Heryana Kepala Perwakilan BKKBN Provinasi Jawa Barat. Rasanya aneh dan kaget, acara strategis seperti itu sangat mendadak dan seolah tergesah-gesah. Padahal acara di Sukabumi sangat padat, dari mulai pembinaan posyandu, persiapan pengajian, pelantikan bunda paud, musopahah, penerimaan peserta jamboree. Namun karena sangat penting meluncurlah ke Bandung menuju hotel Imperium di Jalan Dr. Room. Dalam situasi yang sangat mendesak, ruang waktu yang mepet. Tetapi semua rangkaian acara berjalan dengan baik. Ketika memasuki acar pamitan Rukman Heryana memberikan kesempatan kepada para mitra kerjanya untuk menyampaikan kesan dan kesan.

Kesan yang membekas adalah ketika pertama mengenal Rukman Heriyana berpidato di hadapan para peserta pentaloka KB se Indonesia dilaksanakan di Hotell Horison Bandung tahun 2009 yang menyudutkan bahwa kemunduran dan kegagalan KB di era reformasi ditudingkan pada Desentrasisai dan otonomi daerah. Dengan menyoroti nama kelembagaan, serta pejabat KB tidak dari orang KB. Ungkapan itu mendorong penulis mengkonter orator Rukman Heryana, justru dengan adanya otonomi daerah dan KB di serahkan ke daerah merupakan peluang supaya KB lebih berhasil, karena anggaran dibantu Pemda, orang-orang yang menjadi OPD KB adalah orag pilihan Pemda, sarana prasarana dibantu Pemda. Jadi orang-orang yang tadinya ber NIP 38 tidak usah sewot menyudutkan KB tidak berhasil menuduh pada otonomi daerah. Bisa saja KB mundur di era reformasi dikarenakan Pusat tidak mampu mengadvokasi Presiden dikarenakan ada cacat politik atau catatan pinggir dari para pembisik. Sehingga Kepala BKKBN yang pernah menjadi Menko Kesra di Jaman Orde Lama, kini tidak berkedudukan setara dengan Menteri. Malahan ketika siding Kabinet tidak bisa memberikan masukan secara langsung kepada Presiden.

Kesan Kedua yang membekas ketika Rukman Heryana berpidato di BPPKB Provinsi Jawa Barat menyampaikan bahwa NKKBS dipengaruhi oleh faktor KK bermakan  keluarga kecil  dengan indikator usia kawin dan pola kawin agar menjadi keluarga kecil dua anak lebih baik. Menggunakan kontrasepsi hormonal dan non hormonal. Sedangkan Keluarga Bahagia dan sejahteran indikatornya adalah ketahanan keluarga dan ekonomi keluarga. Ketahanan keluarga jangan kawin cerai dan ekonomi keluarga harus mempunyai kemampuan, diantaranya melalui Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahteran (UPPKS). Hal ini sejalan dengan program UP2K ( usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga ) dikembangkan oleh Dirjen PMD. Kesan itu mulai menaruh simpati, kerena tidak lagi menyalahkan otonomi daerah malah menggandeng orang daerah yang masuk OPD KB sebagai mitra kerja untuk mensuksekan KKP1 dan KKP2 dengan PPM yang sudah di atur oleh BKKBN Pusat.

Kesan Ke tiga ketika Rapat Kerja Rukman Heryana mampu mengenal seluruh nama OPD KB Kabupaten Kota se Jawa Barat, malahan menyapa satu persatu. Dengan metoda seperti itu menunjukkan kemampuan bergaul yang sangat interpersonal/familyer. Bahkan tegur sapa yang disampaikan tidak menunjukan arogansi antara atasan dan bawahan yang ada adalah mitra kerja. Maka terbentuk komitmen untuk mencukseskan program bersama, bahkan Cukilan dan Non Cukilan dibuka dan dibahas bersama untuk kepentingan pencapaian PPM di setiap daerah. Semakin jelas hak dan kewajiban antara Kanwil BKKBN dengan  OPD KB Kabupaten Kota. Malahan dibuat kontrak kinerja bersama atara Porvinsi dengan OPD KB Kabupaten Kabupaten Kota kebetulan Penulis mewakili penanda tanganan KKP tahun 2010.

Kesan keempat ketika Penutupan TMKK di Kabupaten Bogor. Rukman Heryana mampu mengadvokasi Gubernur dan Ketua TP PKK serta Kodam III Siliwangi dan Banten untuk mensukseskan TMKK dengan hadir secara pribadi. Hal ini sangat berkesan karena KB Jawa Barat di dukung oleh Tokoh Kunci yang bisa menggerakan semua OPD untuk mendukung KB, termasuk di dalam-nya Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Karena KB mustahil sukses jika Dinas Kesehatana tidak menunjukkan keseriusannya memasang alat kontrasepsi pada para Kader dan PUS yang telah di KIE para PLKB. Karena OPD KB hanya menggerakan dan mengkonseling , sedangkan pemasangannya tetap harus oleh aparat Kesehatan sesuai dengan Undang-undang Kesehatan.

Kesan kelima ketika Rukman Heryana mampu memfasilitasi OPD KB Kabupaten Kota untuk belajar KB ke Negeri Cina. Hal ini benar-benar ada pengakuan utuh bahwa urusan KB bukan hanya tugas dana tanggung jawab Provinsi, melainkan semua pihak harus terlibat mensukseskan program KB. Belajar Ke Cina benar-benar balajar dan bukan hanya sekedar piknik/rekreasi yang dibiayai sendiri. Sebab ukuran kinerjanya jelas dari capaian program dan PPM. Maka wajar bila Manggala Karya Kencana diberikan oleh BKKBN Kepada Ketua TP PKK Kota Sukabumi saat berlangsungnya Hari Keluarga Nasional di BBAT Kota Sukabumi. Saat itu Rukman Heryana mampu mengadvokasi Walikota Sukabumi yang telah membangunkan Kantor KB dan memberikan berbagai dukungan demi suksesnya program KB.

Kesan keenam Rukman Heryana mampu mengadvokasi BKKBN Pusat memberikan DAK bagi Kabupaten Kota. Sehingga Kota Sukabumi memperoleh bantuan Mobil Mupen dan BKB KIT, Implan KIT, IUD KIT serta berbagai fasilitas untuk mendorong suksesnya progam KB di Kota Sukabumi. Termasuk di dalamnya mampu mengadvokasi Secapa Polri untuk melakukan kerjasama dalam kegiatan MOP dan MOW di Rumasakit Secapa Polri. Bahkan datang secara pribadi untuk menyakinkan kepada Kepala Rumah Sakit Secapa didampingi oleh Dr Arif ahli MOP dan MOW melakukan Bakti sosial di Rumah Sakit Secapa Polri Sukabumi.

Kesan Ke tujuh Rukman Heryana  Mampu mengadvokasi Dandim O607 Sukabumi untuk menjadi penyelenggaran TMKK terbaik tingkat Provinsi Jawa Barat . Maka wajar jika tahun 2010 Kota Sukabumi mendapat kepercayaan untuk menjadi penyelenggaran Upacara Penutupan TMKK KB sebagai Juara I tingkat Propinsi Jawa Barat. Advokasi model seperti itu merupakan sesuatu kegiatan yang sangat menarik untuk dipelajari dan di ikuti demi pencapaian dan suksesnya program KB di era reforamsi yang belum bendapatkan perhatian penuh dari pucuk Pimpinan Pusat. Bahkan para OPD KB dan Kader IMP sudah sangat merindukan kehadiran Pimpinan Pusat Tertinggi di Republik Ini menghadiri upacara yang monumental demi kebangkitan KB sebagai penopang peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kesan Ke delapan Rukman Heryana mampu mengadvokasi Pusat agar seluruh OPD KB Kabupaten Kota mengikuti kegiatan Harganas di Kabupaten Palu. Semua para OPD KB diperkenalkan pada Paguyuban Pasundan yang ada di Kabupaten Palu. Ternyata Rukman Heryana mampu melakukan advokasi dalam berbagai hal. Termasuk yang sangat mengesankan ketika mengerahkan Staf-nya membantu dan memfasilitasi para OPD KB ketika mendapat kesulitan di Kabupaten Palu apakah dari segi ketersediaan tempat penginapan, tiket kepulangan ataupun hal-hal yang bisa memotivasi semangat kebersamaan dan kekeluargaan. Sosok Rukman Heryana sangat cocok untuk dijadikan Bapak Advokasi program KB diberbagai Lini Lapangan.

Kesan Kesembilan Rukman Heryana Mampu mengadvokasi seluruh Bupati/Walikota di Kota Bekasi untuk hadir dalam kegiatan Harganas dengan memberikan penghargaan Wirakarya bidang KB kepada Walikota Sukabumi dari Presiden Republik Indonesia. Kesan ini tidak mungkin terlupakan karena telah mengangkat Citra Bupati dan Walikota di hadapan publik. Bahkan acara Harganas mampu menggebyarkan program KB melalui tampilan para Kader KB menjadi Paduan suara raksasa sebanyak 5000 orang kader membawakan mars KB dan lagu-lagu yang menggugah kesadaran untuk mengikuti program KB. Bahkan dalam kesibukannya yang padat masih menyempatkan diri untuk menghadiri acara pernikahan Pevi Ida Nurlaelaari sebagai anak penulis yang bungsu/bontot.

Kesan Kesepuluh Rukmah Heryana mampu menggembirakan Kader KB dari mulai Forum Pos KB, Paguyuban KB Pria, PIK Remaja, Bina- Bina. Bisa hadir pada kegiatan Pestival KIE Kreatif dan Siloka Kencana, baik di Auditorium RRI Bandung, Maupun di Pangandaran. Bahkan yang bergembira tidak hanya sebatas Kader, tapi seluruh Karyawan dan Karyawati BPMPKB Kota Sukabumi hadir dan di fasilitiasi oleh Rukman Heryana untuk hari dalam acara “GUMELAR” di Pangandaran. Yang terkesan dengan gerakan advokasinya adalah mampu menghadirkan seluruh OPD Provinsi, Kabupaten Kota serta Tim Penggerak PKK Jawa Barat dan TP PKK Kabupaten Kota se Jawa Barat hadir di Pangandaran.

Kesan Ke sebelas Rukman Heryana telah mampu mengadvokasi para pemangku kepentingan agar para OPD KB Kota bisa belajar KB dari berbagai belahan dunia apakah di Benua Asia, Benua Afrika maupun ke Benua Eropa. Sehingga para OPD KB Kabupaten Kota mempunyai tanggung jawab funsional dan tanggung jawab moril untuk mensukseskan program KB dengan memanfaatkan ilmu yang diperoleh dari stady banding di berbagai belahan dunia sehingga akan mampu mensinergikan antara Population, Environment and Development.  Dan tugas ini harus dilanjutkan untuk diadvokasi kepada berbagai tokoh kunci agar KB menjadi skala prioritas pembangunan nasional. Bahkan tidak hanya cukup di tataran Kepala OPD KB di beri kesempatan belajar ke berbagai belahan dunia. Malahan para Kabid, Kasubid, Koordinator PLKB, PLKB dan IMP KB  yang berprestasi di bawa tudy banding ke nusantara.

Kesan ke dua belas Rukman Heryana tidak membuat sekat/pagar, malah mempu membuat jembatan yang kokoh agar program KB terus menggelora. Disaat ada acara perpisahan dikemas dengan metode rapat evaluasi/review program KB. Sehingga suasan menjadi akrab dan berani mengungkap perasaan yang mengesankan serta dibuat suasana bergembira. Ternyata tugas dan tanggung jawab itu harus seiring dan sejalan antara serius, santai, sukses dan mengesankan.  Ketegasan itu penting, tapi kesuksesan dikedepankan dengan tidak melupakan sifat kekeluargaan. Biasanya orang yang kinerjanya tinggi, lupa akan hubungan kekeluargaan, biasanya orang yang mengedepankan kekeluargaan kesuksesan program terlupakan. Tapi Rukman Heryana memang orang hebat dan cocok bila dinobatkan sebagai Profesor Advokasi dan di nobatkan sebagai Bapak Advokasi program KB. Layak bila Rukman Heryana diberi Gelar Doktor Honoris Kausa dari Perguruan tinggi yang ada di Indonesia ataupun dari Dinia karena seluruh nusantara terkuasai, seluruh dunia terinjak dan seluruh masyarakat merasa punya lesan tersendiri terhadap kemampuan oratornya terhadap kemampuan advokasi dalam situasi global dan situasi krisis kepercayaan multi dimensional. Ternyata Rukman Heryana sampai akhir masa tugasnya masih bersemangat untuk mensukseskan Program KB.  KB USKSES , KELUARGA BERES, KB GAGAL MAKA KELUARGA MENYESAL, MASYARAKAT KESAL. ANGGARAN TERPENGGAL, MASYARAKAT JANGGAL, PENDUDUK BISA BRUTAL. Advokasi ala Rukman Heryana patut diadopsi oleh pelanjutnya.

Tulisan ini terispirasi ketika Rukman Heryana melaksanakan tugas-tugas terahir di tanggal 30 Juli 2011 hari Sabtu. Ketika penulis menunggu waktu untuk meminta maaf kepada seluruh Karyawan/Karyawati BPMPKB Kota Sukabumi, acara menjelang dan menyambut kedatangan Hari gembira Romadhon  yang dimulyakan Allah SWT. Do’a buat Rukman Heryana yang hebat dan jarang orang yang pensiun pas waktunya dengan tanggal 1 Romadhon. Marhaban ya romadhon. Selamat Pensiun Rukaman Heryana. Maaf tidak dicantumkan sebutan Bapak, Gelar dan Jabatan, semata mata untuk mengakrabkan dan mengingatkan pada penulis sendiri bahwa, pangkat, gelar, jabatan dan kehormatan semata-mata hanya milik Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: