Perbaikan Karakter

Jargon memupuk kemandirian sudah sejak lama digulirkan. Bahkan pada dekade berikutnya berupaya keras untuk memperbaiki karakter bangsa dipopulerkan dengan istilah pemberantasan korupsi kolusi dan nepotisme. Sayangnya niat baik itu tidak disikapi dengan ketulusan dan keikhlasan untuk membina karakter bangsa yang selalu mengedepankan kekeluargaan, saling memberi dan saling membantu dalam kontek kebersamaan. Perlu diingat bahwa kedatangan nenek moyak dari tiongkok selatan sebagai pelaut ulung mengarungi bahtera sampai ke pulau-pulau yang ada di Indonesia mengedepankan kebersamaan, kerja keras, pantang menyerah menghadapi ombak dan badai untuk sampai pada kehidupan baru di daratan yang belum pernah dikenalnya. Lain halnya dengan para pedagang Gujarat datang menyebarkan agama Islam dengan penuh motivasi dan percaya diri sehingga di daerah pesisir bermunculan para Saudagar. Di daerah pedalaman berdiri berbagai pesantren mengembangkan pertanian. Ekesesnya bermunculanlah tuan tanah. Sebelum ajaran Islam sampai ke Indonesia sudah terlebih dahulu nenek moyang menganut aliran animisme, hindu, budha dengan keaneka ragaman budaya, bahasa dan adat. Pengaruhnya sangat kuat tehadap agama dan kepercayaan. Bahkan ada yang mencampur adukan antara agama, ibadah dan adat istiadat. Bermunculanlan berbagai aliran dan keyakinan memaknai hidup dan kehidupan dengan kepercayaan terhadap sang maha pencipta. Mengapa perbaikan karakter bangsa melalui pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme hasilnya sangat jauh panggang dari api? Mungkinkah karena masih belum individual, belum kaya, masih memegang teguh sikap tolong menolong, masih menginginkan bebas dari aturan formal. Sehingga yang dikejar bukan esensi dari sebuah keadilan dan ketertiban ataupun keteraturan. Tapi bagaimana aturan formal dijalankan, prosedur ditempuh, setiap perkara pelanggran harus ada yang dikorbankan untuk dipenjara melalui hukum acara pidana yang diputus di pengadilan. Pada akhirnya setiap orang bukan berusaha mempunyai karakter yang baik .Melainkan berupaya sekuat tenaga membela diri dengan cara berdusta demi memenuhi aturan formal dan prosedur yang ditetapkan dalam sebuah keputusan manusia. Sehingga menjadi kebenaran semu. Makanya tidak berbanding lurus antara banyaknya orang dipenjara dengant tuduhan dan tuntutan pidana korupsi dengan perbaikan akhlaqul karimah. Tidak berbanding lurus dengan membaiknya kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan diseluruh aspek kehidupan menjadi terkoyak-koyak dan tercabik-cabik dengan sikap saling curiga dan saling membalas dendam. Bahkan tidak sedikit munculnya penistaan terhadap agama. Tidak hanya itu, tapi suguhan di berbagai media sering dimunculkan masalah kejahatan dan kebejadan moral semakin meraja lela bagaikan residivis yang tak pernah jera berhadapan dengan penjara. Bila rajin melakukan penelitian pembentukan karakter sejak dini. Ternyata yang ampuh itu bukan ancaman dan hukuman, melainkan motivasi, sanjungan, hadiah dan arahan untuk berbuat baik. Lebih ampuh untuk membuat orang cerdas, membuat orang mampu mengendalikan emosi, membuat orang mampu bereksperimen dan membuat orang taat pada norma serta estetika, etika serta logika. Sehingga percara diri untuk memberikan yang terbaik bagi dirinya dan bermanfaat bagi orang lain. Namun bila yang dikedepankan ancaman dan hukuman orang menjadi bandel, kebal dan mati rasa bagaikan orang yang imun terhadap kebaikan hakiki. Saprim of low dan equwality befor the low ukurannya bukan banyaknya orang dipernjara. Atau banyaknya perkara masuk ke pengadilan. Tapi ukurannya harus banyak orang yang taat azas untuk hidup nyaman, aman tertib, menikmati hak azasinya tanpa ada ancaman tantangan hambatan dan gangguan dalam mengarungi hidup dan kehidupannya. Semata-mata hanya beribadah kepada Allah SWT hidup rukun, damai, sejahtera lahir batin seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani seperti yang diidam-idamkan orang beragama selamat dari hisaban untuk masuk surga yang dijanjikan Allah SWT. Apabila semakin banyak orang berani berdebat, bertengkar di pengadilan dengan masing-masing pihak mempertahankan kebenaran melalui sang pengacara yang dipersyaratkan dalam hukum acara dianggap sebuah kemajuan penegakan hukum. Berarti kiblatnya sudah pada Negara liberal, individual yang didukung dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun bila kondisi Negara dan Bangsa ini masih morat-marit dengan bayang-bayang hutang luar negeri yang terus bertumpuk maka jangankan membayar pengacara untuk kebutuhan primernya saja bagaikan kerakap diatas batu. Mati enggan hidupun tak mampu. Akhirnya bukan orang takut sama hukum. Malah orang akan berani melawan hukum tanpa diimbangi dengan kemampuan untuk memenuhi hukum acara. Bahkan bila rajin mencarmati, membaca dan mendalami semua aturan dari mulai Pancasila, TAP MPR, UUD 45 hasil revisi, UU, Perpu, PP, PerPres, Perda, PerMen, Per Gub, Perwal, Juknis, Juklak. RPJP, RPJM, RPJMD, RKPD, Visi, Misi, KUA, PPAS, PPA, Renstra, Renja, Tapkin. Maka orang sudah sulit bergerak karena akan nyenggol sana dan nyenggol sini sehingga ketika dianggap salah, disangka salah, dituduh salah, bisa dituntut pasal berlapis. Apalagi bila tidak mempunyai kemampuan untuk membayar pengacara bisa saja hidupnya menjadi terpuruk dalam “marebutkeun paisan kosong”. Namun lain halnya dengan orang yang mampu membayar pengacara. Perkaranya bisa menjadi tonton perdebatan sehingit yang diliput berbagai media modern. Bahkan menjadi konsumsi cerita bersambung yang tak berujung pangkal. Akhirnya hidup ini habis waktu bertengkar memperebutkan kebenaran semu, tanpa karya nyata yang bermanfaat bagi kelangsungan anak bangsa untuk menikmati kesuburan dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi, laut, air dan udara yang dianugrahkan Allah SWT. Jadi bagaimana memperbaiki karekter bangsa ini supaya tidak terlena dengan perselisihan, pertentangan, perbedaan pendapat yang berujung pada pertumpahan darah. Karena hidup ini hanya sebentar saja!. Tentunya diperlukan kearifan pada diri sendiri karena yang paling tahu jujur tidaknya, baik tidaknya, senang tidaknya dan bahagia tidaknya hanya dirinya dengan Allah SWT. Orang lain itu hanya praduga dan prasangka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: