Etika Kepemimpinan

Banyak para ahli mengatakan bahwa manusia itu adalah mahluk yang unik, karena di satu sisi sebagai mahluk individu dan di sisi lain sebagai mahluk sosial. Sehingga tidak akan kekurangan bahan bila ingin membicarakan soal manusia, baik pengalaman sekolah, pengalaman bekerja, pengalaman lingkungan tempat tinggal, pengalaman memimpin, ataupun pengalaman menghadapi komplik dari praduga, prasangka dan fitnah yang selalu menghantui kehidupan setiap insan manusia. Apalagi dengan segudang keterbatasan yang tidak akan pernah seimbang dengan keinginan dan gejolak jiwa untuk memperoleh sesuatu yang bisa dikuasai oleh fisik, psikologis dan psikis. Yang kini sedang berkembang adalah eporia haus kekuasaan. Sehingga hampir tidak pernah terdengar seorang pemimpin terketuk hatinya untuk menghentikan nafsu kekuasaannya. Bahkan sering muncul suatu anekdot dalam setiap pemilihan pemimpin “ lebih baik menang bermasalah daripada kalah terhormat”.

 

            Namun demikian mari kita urai lebih lanjut tentang hakekat pemimpin itu adalah pengejawantahan dari Tanggung jawab. Kebermaknaan, Kemanfaatan yang didalamnya pasti banyak onak dan duri bila tidak mampu mengimplementasikan jiwa kepemimpinan melalui pendekatan agama, filsafat, psikologi, sosiologi. Sehingga mempunyai nilai individual, organizational dan societal.yang bisa dipandang dari dimensi ekonomi, sosial, etika, keindahan/seni, ilmu, kekuatan, budaya yang tumbuh dan berkembang di tengah tengah komunitas manusia sesuai dengan zamannya. Itu semua diharapkan bisa menjadi pembelajaran proses pendidikan yang berkesinambungan dari satu generasi ke genersi berikutnya. Mengapa harus menjadi proses pendidikan, karena pendidikan itu merupakan amanah konstitusi yang paling mendasar dimuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu “melindungi segenap bangsa Indoensia, memajukan kesejahtaran umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksakan tertetiban dunia”. Maka jelaslah bahwa pendidikan itu merupakan “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

 

            Kalaulah di tahun 2010 ini banyak ditayangkan acara debat atau kajian tentang perbedaan pandangan hukum dari para ahli. Membawa alam pikiran setiap insan manusia menjadi bingung, karena di dalam-nya penuh intrik dan metode saling menyerang bangsa sendiri, saling memojokan dan saling mempermalukan di depan public. Tanpa melihat secara utuh keberadaan seorang pemimpin dari sudut agama, filsafat, psikologi, sosiologi. Karena yang dikedepankan adalah ilmu hukum  bukan filsafat hukum. Sehingga ilmu lain dikesampingkan seolah-olah tidak bermakna dalam mengatur tatanan kehidupan yang aman, damai sejahtera serta tenang baik dari segi fisik, psikis maupun psikologis. Namun bukan berarti penulis memandang ilmu hukum itu tidak bermakna. Tapi lebih arif bila para pakar ilmu hukum itu sendiri mengharap kontribusi dari ilmu-ilmu lain mampu memberikan rasa aman dan rasa adil.

 

            Sehingga akan bermunculan pemimpin yang beretika, karena pemimpin tidak hanya menakut-nakuti dan ditakut-takuti dengan amang-amang pidana. Tapi harus seimbang dengan pemberian penghargaan bagi yang punya makna dan bermanfaat bagi tatanan kebidupan berbangsa dan bernegara sebagai hasil perjuangan seluruh komponen bangsa. Coba tengok ke belakang siapa yang ikut berjuang merebut kemerdekaan ini. Tentunya dari mulai pendidik, pedagang, tokoh agama, ahli perang, ahli sosial,ahli hukum, ahli teknologi. Ahli bertani dan seluruh komponen rakyat jelata pun ikut berjuang demi kemerdekaan. Petuah dan petitih orang tua menjadi alat ampuh untuk meberikan ketenangan dan kesejukan. Di alam merdeka tidak wajar bila saling rebut kekuasaan. Yang lebih arif adalah menghargai jasa para pendahulu. Silahkan kaji secara mendalam bahwa bangsa Indonesia ini merdeka adalah jasa Presiden Soekarno, Indonesia bisa bangkit dan maju seperti sekarang ini adalah jasa Presiden Soeharto, Indonesia bisa demokratis dan reformis jasa Presiden Habibi, Indonesia mengakui keberagamaan dan mengakui kaum minoritas itu jasa Presiden Abdurahman Wahid, Indonesia bisa mengangkat harkat dan martabat Wanita dengan Kesetaraan Gender adalah jasa Presiden Megawati, Indonesia bisa memberantas teroris jasa Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Dan silahkan cari sebanyak-banyaknya kebaikan para pemimpin bangsa ini.

 

            Kalau pendekatannya hanya mencari orang yang salah, mungkin seluruh bangsa Indonesia akan masuk penjara semuanya. Karena tidak akan pernah menemukan orang yang sempurna. Karena kodrat manusia itu tempat kesalahan, dan pasti mempunyai dosa, bahkan bila rajin menimbang antara kesalahan dan amal baik setiap hari oleh diri sendiri mungkin semakin banyak orang yang waham dosa. Dan stres takut dipidana karena saking banyaknya aturan yang di buat manusia justru menjerat manusia itu sendiri, bahkan tidak sedikit orang yang membuat suatu aturan justru dijerat oleh aturan yang dibuatnya sendiri. Disinilah diperlukan kearifan seorang pemimpin untuk membuat tenang warganya supaya berkiprah dan berkarya. Bila semuanya takut berbuat dan takut menghadapi resiko pidana karena dicari-cari oleh orang yang tidak beretika dan tidak bermol serta mengesampingkan disiplin ilmu lain maka tunggulah kehancurannya.

 

            Pada zaman penjajahan wajar bila pemimpin menegakan suatu keamanan ketertiban bagi rakyat jajahannya melalui pendekatan penjara pada setiap pembangkang, dengan algojo yang sangat menyeramkan. Karena ilmu memberi hukuman  yang paling tepat saat itu. Tapi kalau filosifi hukum selamanya untuk memenjarakan orang dan mempidanakan orang bisa dimungkinkan akan banyak orang tidak kreatif sebab takut melanggar setumpuk aturan yang siap untuk mempidananya. Bahkan fenomena yang terjadi saat ini orang menyerukan kebenaran saja bisa ditangkap dan dicari kesalahannya sampai ketemu kelemahan dan kesalahannya sehingga akhirnya memilih bungkam seribu basa. Mengapa pendekatan agama, filsafat spikologi dan sosiologi sangat dibutuhkan bagi pemimpin yang beretika. Sebab tidak ada persoalan manusia bisa dihadapi dan diselesaikan  hanya oleh satu disiplin ilmu hukum saja. Bagi prajurit wajar memakai kacamata kuda, karena ilmunya masih terbatas. Tapi kalau pemimpin itu harus wisdom memandang dan memutuskan sesuatu dari berbagai disiplin ilmu. Harus diingat secanggih apapun teknologi dan hasil pembangunan dari implementsi ilmu. Jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan nilai manusia. Karena manusia adalah mahluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna dan paling mulia.

 

            Walaupun Manusia adalah makhluk sosial. Artinya, untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya; seperti tujuan, cita-cita, harapan, kepentingannya. Seorang manusia tidak dapat melakukannya seorang diri, akan tetapi membutuhkan bantuan dari individu-individu yang lain. Dengan begitu, maka jadilah seorang manusia itu bagian dari komunitas masyarakatnya. Manusia juga merupakan makhluk politik yang dalam berbagai literature tentang kepentingan dan kebutuhan manusia disebutkan bahwa pada umumnya manusia ingin memiliki kekuasaan dan pengaruh. Namun bila pemimpin hanya mempertahankan kekuasaan dan pengaruh serta takut jatuh atau dijatuhkan maka naluri poltiknya yang menonjol. Sedangkah hakekat sebagai ”roin” yang harus mempertanggung jawabkan dunia dan akhirat akan terlupakan. Sehingga bisa memenjarakan semua orang yang dianggap membangkang dan menghalangi naluri politiknya.

 

            Mari perhatikan Francis Bacon (1561-1626), seorang politisi dan filsuf bangsa Inggris memiliki pandangan jauh ke depan melampaui batas negeri dan waktu hidupnya. Dia membedakan 3 jenis ambisi: Pertama, mereka yang bernafsu memperluas kekuasaannya di negerinya sendiri menunjukkan suatu selera yang vulgar dan tak bermutu. Kedua, mereka yang berbuat untuk memperluas negerinya dan menguasai penduduk di wilayah ekspansinya itu, sudah tentu lebih bermutu walaupun kurang baik., Ketiga jika orang berusaha mendirikan dan memperluas serta dominasi atas seluruh umat manusia di dunia, ambisi ini lebih bijak dari kedua ambisi sebelumnya. Kenapa fenomena bangsa Indonesia hanya berani pada bangsanya sendiri tapi dalam  menghadapi bangsa lain selalu berkompromi dan memilih damai. Padahal Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan bangsa yang kuta, bangasa yang kaya, bangsa yang berbudaya dan bangsa yang beretika. Namun tidak mampu melindungi bangsa sendiri dari cengkraman global. Kemanakah  bambu runcing kita, kemanakah semangat nasionalisme  kita, kemanakah para mujahid kita yang berjuang atas dasar agama, filsafat, psikologis dan sosiologis. Yang ada eeeeeeh malah bergentayangan teroris yang merugikan keluhuran budi pekerti bangsa Indonesi yang dicintai ini.

 

            Alhamdulillah telah digagas suatu acara peringatan hari lahirnya pancasila yang tidak perlu diperdebatkan . Dari peringatan pidato Bung Karno itu telah memberi warna tersendiri untuk mempertemukan para pemimpin dan mantan pemimpin yang banyak berjasa pada negara dan bangsa ini. Mudah-mudahan langkah itu akan membawa kedamaian dan menenangkan bangsa. Yang diteladani oleh para petinggi negara ini ke arah etika sosial yang salin membutuhkan, saling menghargai, saling membesarkan dan saling memaafkan. Sehingga jadi rekonsisiasi besar demi kemajuan bangsa menghadapi tantangan global. Sehingga setiap pulau akan penuh diisi oleh insan manusia yang produktif dan kreatif. Jangan hanya setiap pulau dibangun penjara untuk menyengsarakan bangsa sendiri tapi terhadap bangsa lain malah ramah. Terhadap bangsa sendiri bengis dan kejam dengan nafsu selalu ingin mempidanakan sehingga rasa keadilan masyarakat merasa terusik. Mari paradigmanya dibalik. Ramahlah terhadap bangsa sendiri dan bekerjasama dengan bangsa lain tapi harus berani melawan ketika jatidiri bangsa dikoyak-koyak oleh bangsa lain apalagi kekayaan dan pulau di ambil oleh bangsa lain harus mampu mempertahankan sampai titik darah penghabisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: