Kreativitas Pemimpin

Beruntunglah bagi umat Islam yang paham tentang surat Addariyat bahwa” tidak semata-mata Allah menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah”. Berarti setiap gerak dan langkah harus dimaknai sebagai pengabdian. Sudah barang tentu pengabdian itu penuh dinamika dan romantika untuk menghadapi tantangan baik dari sesama manusia, alam semesta ataupun binatang buas. Namun bagi pemimpin yang kreatif akan merubah setiap tantangan dan hambatan itu jadi sebuah potensi dan dorongan mecari solusi bernakna ibadah.

 

            Coba bayangkan disaat hari menjelang malam, tenaga lesu badan lunglai, pengennya langsung rebahan di tempat tidur. Namun karena teringat sebuah hadits Rosulullah SAW ”siapa yang sembahyang Isya berjama’ah, seolah-olah bagun setengah malam” kemudian bayangkan di saat menjelang subuh, udaranya dingin hendaknya menarik selimut untuk menghangatkan badan. Tapi ingat terusan hadits tersebut di atas bahwa ”siapa yang sembahyang subuh berjama’ah, maka bagaikan sembahyang satu malam penuh” (Riadhus sholihin, 164)

 

            Memaknai ayat Al-quran ataupun hadits Rosululloh SAW diperlukan ilmu. Dan ilmu itu bisa diperoleh melalui fungi keluarga, media massa, acara keagamaan, pertunjuk seni, hiburan, kampanye, partisipasi dalam organisasi, melalui proses pendidikan formal ataupun pendidikan nonformal. Sehingga mempunyai multiple intellegences ”Gardner mengidentifikasi delapan kecerdasan yang relatif otonom. Yakni kecerdasan linguistik, logika metematika, spasial, musik, kinestetik jasmaniah, interpersonal, intrapersonal dan naturalis”.

 

            Kalaulah di dalam family planing ada delapan fungsi keluarga (agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi sehat, sosial & pendidikan, ekonomi, pelestarian lingkungan ) maka media massa harus mampu menyuguhkan informasi yang bersifat mendidik, menghibur dan membangkitkan kreativitas. Sedangkan acara keagamaan harus menumbuhkan kedamaian dan kesejukan hati nurani serta mengabaikan hilafiah. Sehingga hidup tidak monoton tapi indah. Untuk memberikan ruang dan kesempatan kepada setiap individu berpatisipasi menyumbangkan pemikiran serta sumberdaya yang dimiliki melalui sebuah konsep kejamaah dalam organisasi formal.

 

            Menurut Syaodih Sukmadinata Nana (2009) ”Ada dua karakteristik utama dari individu manusia, yaitu pertama bahwa individu manusia itu uni, dan kedua bahwa dia berda dalam proses perkembangan, serta perkembangannya dinamis”.  Karena manusia itu unik maka harus diperhatikan konsep John White tentang otonomi kurikulum dan memberikan porsi pada seni. Supaya setiap manusia mampu bermain selancar di alam global yang dinamis. Pemimpin yang kreatif tidak akan puas hanya apa yang tertulis secara nasional atau secara makro tapi akan memberikan kesempatan pada masyarakat dan komunitas lokal berkreasi mengembangkan aktivitas dan kreativitasnya dengan diskresi dalam pencapaian total quality manajemen yang mengarah pada kepuasan pelanggan. Sehingga peranan pemimpin tidak hanya no action talk only tapi lebih mengedepankan plan do cek action. Supaya setiap individu mempunyai nilai ibadah.

 

            Fakta sejarah bahwa, sebagai akibat dari 350 tahun di jajah oleh bangsa Belanda. Tidak bisa dipungkiri bahwa setelah 65 tahun Indonesia merdeka masih ada orang yang tidak mendapatkan kesempatan pendidikan formal. Disinilah Undang-undang nomor 20 tahun 2003 memberikan alternatif tiga jalur pendidikan yaitu informal, formal dan nonformal. Untuk pendidikan informal dan nonformal cenderung diperuntukan bagi orang dewasa yang terlanjur tidak mendapatkan pendidikan di usia dini atau di usia remaja. Maka rumusan pendidikan orang dewasa adalah ” suatu proses yang menumbuhkan keinginan untuk bertanya dan belajar secara berkelanjutan sepanjang hidup. Belajar bagi orang dewasa berhubungan dengan bagaimana mengarahkan diri sendiri untuk bertanya dan mencari jawabannya”(Pannen, 1997).

 

            Siapa sebenarnya yang disebut orang dewasa itu? Secara psikologis orang dewasa adalah ”seseorang yang dapat mengarahkan diri sendiri, tidak selalu tergantung pada orang lain, mau bertanggungjawab, mandiri, berani mengambil resiko, dan mampu mengambil keputusan” (Suprijanto, 2008:11). Jadi pendidikan orang dewasa menurut Bryson” adalah semua aktivitas pendidikan yang dilakukan oleh orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari yang hanya menggunakan sebagian waktu dan tenaganya untuk mendapatkan tambahan intelektual. Sedangkan menutur Reeves,Fansler dan Houle ” suatu usaha yang ditujukan untuk mengembangkan diri yang dilakukan oleh individu tanpa paksaan legal, tanpa usaha menjadikan bidang utama kegiatannya”. Makanya dalam kontek pemberdayaan masyarakat dinyatakan bahwa pendidikan orang dewasa yakni untuk memotivasi partisipasi dari semua pihak yang terkait dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat pedesaan. Yang bermanfaat untuk (1) pendidikan bekal bekerja (2) pendidikan jiwa baru dan kerohanian (3) pendidikan kader (4) pendidikan yang bersifat rekreatif apresiatif dan kesegaran jasmani (Faisal, 1981)

 

            Untuk memotivasi partisipasi masyarakat yang dilakukan oleh Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat atau oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa masih nampak mempertahankan nilai-nilai lama tentang gotong royong. Sehingga dalam kondisi perkotaan yang bergeser dari rural pada urban perlu ada peningkatan kreativitas pemimpin dalam menggerakan partisipasi masyarakat disesuaikan dengan kondisi kekinian. Apalagi dengan pengaruh arus informasi global. Sedangkan yang melatarbelakangi kreativitas pemimpin adalah niat dan motivasi pemimpin itu sendiri.

 

Makna Niat

 

            Tentunya bagi orang Islam tidak begitu aneh tentang makna niat. Sebab dalam sebuah hadits dinyatakaan ”Innamal a’malu binniat” sesungguhnya semua amalan tergantung pada niatnya ”Qosdhu syaian muktaronan bi fi’lihi” sedangkan al-qosdhu maksud, tujuan dan kesengajaan untuk beramal . Al-irodah berarti keinginan ( interest ) al-Ibtigho berarti mengharap  ( willingness ). Nakna niat dalam agama tentunya pekerjaan secara ikhlas , disadari, fokus , terkontrol dan menggunakan aturan  supaya memiliki nilai pekerjaan ibadah. Para pemikir barat lebih mengarah pada dorongan intrinksik dan ektrinksik didasrkan pada motif

 

Makna Motivasi

            Merupakan energi dalam diri bercampur dengan faktor luar, menggerakan kecakapan mencapai pekerjaan, melahirkan tingkah laku. Sehingga berkembang beberapa teori seperti halnya psikoanalisis (first half of the century) berasosiasi antara hubungan stimulus dengan respon ( low of efect drive ). Termasuk juga teori kebutuhan dari Abraham Maslow self actualization needs kemudian Roger dengan teori actualizing tendency . Dalam beberapa litelatur telah banyak dibahas misalnya Douglas Mc Gregor dengan teori X dan Y mengasumsikan dua kelompok manusia positif dan negatif. Frederick Herzberg dengan teori motivation hygiene  gerakan orang dipengaruhi oleh faktor intrinksik dan ektrinksik dalam menyelesaikan pekerjaan. Sedangkan David Mc Celland dengan teori achievement Aviliation  and fower motive kebutuhan yang tinggi terkait dengan pemberian tanggung jawab feed beck dan tantangan yang moderat . mengenai equity theori dikembangkan oleh J Stacey Adams membandingkan dengan keberhasilan yang lain, referensi.

 

            Niat dan motivasi penting untuk merancang arah yang akan dicapai melalui proses bimbingan serta pasilitasi mengarahkan tingkah laku yang sesuai dengan potensi yang dimiliki demi pencapaian tujuan sesuai dengan kualitas dan kuantitas. Sehinga mencapai kepuasan pelanggan. Maka jelaslah bahwa pendapat Griffin menyatakan bahwa faktor penentu kinerja adalah ( motivation, ebility, work environment ) motivasi, kemamapuan dan lingkungan pekerjaan saling berkaitan.

 

            Dalam era global motivasi orang sangat pariatif dan sulit ditebak serta tidak konsisten. Bagaikan ombak lautan yang kadang-kadang surut tapi sesaat kemudian pasang. Bila melawan ombak bisa terpental bila ikut ombak bisa hanyut ke tengah lautan dan bila tenggelam akan terbawa oleh arus turbulance. Untuk itu diperlukan kemampuan menggunakan berbagai teori motivasi secara pariatif pula. Supaya bergerak secara situasional. Kalau meminjam istilah pendidikan tidak bisa dewasa ini hanya mengandalkan filsafat behavirism yang mempertahankan dan mengawetkan nilai yang sudah ada tapi justru harus mengatut teori konstruktivism

 

            Dengan berbagai kreativitas pemimpin, yang didasari dengan niat ibadah serta motivasi untuk berprestasi. Harus diingat bahwa ”Kejujuran dalam mencapai prestasi harus merupakan bagian dari prestasi itu sendiri”(Sanusi Achmat, 2009 :14) secara lebih gamlang dijelaskan bahwa ”Pejabat dan pembina pendidikan semestinya memiliki pemahaman dan mindset utuh pendidikan,s erta memahami secara mendalam dunia praktik pembelajaran yang mendidik, sehingga mampu membina kinerja guru dan sekolah secara utuh. Perlu terapi dan pemulihan mindset bahwa pembinaan kinerja guru dan sekolah bukanlah persoalan pemenuhan prosedur dan standar bukti fisik belaka, melainkan aktualisasi pembelajaran yang mendidik yang terwujud dalam transaksi guru dan keragaman peserta didik. Pembinaan kinerja guru dan sekolah secara birokratik-administratif semata, yang menekankan pemenuhan prosedur dan bukti fisik belaka, bisa menimbulkan perilaku instan guru dan sekolah yang bisa menumbuhkan ketidak jujuran kerja”. Sudah barang tentu yang namanya pejabat dan pembina adalah pemimpin. Maka jelaslah bahwa kreativitas pemimpin menjadi kata kunci untuk meningkatkan prestasi dan kinerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: