Toleransi Menghadapi Kegagalan

Dalam ilmu ekonomi  sering dinyatakan bahwa setiap sumber itu terbatas. Sedangkan ekspektasi tidak terbatas sehingga diperlukan kemampuan memilih prioritas. Disaat salah menentukan prioritas akan berhadapkan dengan kegagalan. Disaat menghadapi kegagalan bisa menjadi prustasi, sedangkan prustasi menjauhkan diri dari rahkat Allah SWT. Supaya tidak putus asa dari rahmat Allah SWT harus konaah. Sikap konaah merupakan refleksi keikhlasan menerima takdir. Menerima takdir berarti konsisten menerima qodho dan qodar yang baik dan yang buruk. Itulah derajat keimanan seseorang.

 

Kalau diera global ini banyak dilansir oleh media tentang berita orang yang mencoba bunuh diri. Berarti semakin banyak orang yang tidak siap menghadapi kegagalan dari sebuah perjuangan hidup untuk menghadapi kehidupan yang terjal ini. Makanya harus pandai memilih alternatip supaya tidak berhadapan dengan penyesalan. Biasanya menyesal satu hari itu kalau salah memilih masakan, menyesal satu bulan bila salah memilih makanan. Menyesal satu tahun bila salah memilih jawaban ujian sehingga tidak naik kelas, Menyesal lima tahun bila salah memilih dalam pemilu, Menyesal seumur hidup bila salah memilih jodoh.

 

Apabila sudah menyesal seumur hidup disebabkan salah memilih jodoh berarti terdapat kerentanan dalam ketahanan keluarga. Bila keluraga tidak ada ketahanan bisa diprediksi akan ’awet rajet’ atau perceraian dan KDRT. Bila terjadi kekerasan dalam rumah tangga dan terjadi perceraian pada keluarga miskin, bisa jadi terjerumus pada jurang kehinaan yang diakibatkan dari praktek trafficking. Disinilah diperlukan orang-orang yang mampu memotivasi setiap orang yang cenderung berhadapan dengan sebuah kegagalan. Bila tidak ada toleransi menghadapi kegagalan maka bisa berakibat pada stress dan gangguan kesehatan jiwa.

 

Dalam abstraksi sebuah disertasi tentang percobaan bunuh diri di Jakarta dalam hubungannya dengan diagnosis psikiatri dan factor sosiokultural oleh Arrohman Prajitno bahwa “jumlah gangguan kesehatan jiwa rakyat Indonesia secara relatif lebih besar berkembang yang diakibatkan oleh tekanan hidup dengan akibat meningkatnya angka perilaku penyimpangan, termasuk percobaan bunuh diri” bahkan dinyatakan “ hasil penelitian membuktikan terdapatnya asosiasi yang sangat bermakna (signifikan) p<0,01) dan hubungan yang sangat kuat antara percobaan bunuh diri dan gangguan depresi, gangguan dan Ciri Kerpibadian Histrionik, Stres Psikososial yang berat, Fungsi adaptif”

 

Maka keikhlasanlah menjadi kata kunci dalam memperkuat kekebalan menghadapi kegagalan. Karena dengan keikhlasan itu bukan dilahirkan dari pernyataan mulut, tetapi dari hati nurani. Seseorang yang hilang hati nuraninya maka obyektifitasnya akan hilang karena terbawa arus mempertahankan pandangan sendiri (subyektifitas). Bila merasa menang terhadap pandangan sendiri maka tujuan hidupnya menjadi bias dan tidak berkualitas. Maka orang yang tidak berkualitas bisa dipastikan tidak mempunyai kompetensi yang standar dan kinerjanya tidak standar sehingga tidak mampu menentukan pilihan dalam situasi yang kompleks.

 

Padahal kondisi saat ini menurut Prof. Dr.Achmad Sanusi sangat kompleks dengan perkembangannya yang begitu cepat seperti spiral dinamik, sehingga diperlukan driveing force untuk menentukan pilihan yang bermutu dengan nilai fisical, teological, ethis, estetika, teleleogika (kegunaan/manfaat). Supaya mempu bermain slancar dengan balanced.

 

Sedangkan menurut Prof. Dedi Mulyasana bahwa orang yang tidak stress akan menghasilkan empat kali lipat daya tahan tubuh dan akan membentuk sel-sel baru dengan energi positif terpancar dalam dirinya. Boleh dikata bahwa orang yang tidak stress adalah orang yang toleran terhadap sebuah kegagalan, justru dari kegagalan yang dikendalikan akan menemukan jalan keluar untuk melakukan ijtihadi. Bila ijtihadnya diikuti oleh banyak orang maka akan didoakan oleh sebanyak orang yang menggunakan ijtihadi itu. Sehingga jadi manusia unggul dan beda.

 

Menjadi manusia unggul dan beda,  perlu proses pembelajaran dalam sebuah konsep pendidikan yang sistemik, karena pendidikan itu merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengkondisikan suasana dan proses pembelajaran menjadikan siswa aktif mengembangkan potensi melalui dialogis dan diskusi memenuhi kebutuhan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan dan akhlak mulia serta terampil bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Maka mind set harus runut dari kecakapan lunak, kecakapan keras dan memorization of fact menjadi sebuah natural intelegen (Kecakapan budaya).

 

Toleran menghadapi sebuah kegagalan tidak semudah membalik telapak tangan tapi harus tahu dimana sekarang kita berada? Energi esensial apa yang dimiliki? Setinggi apa kekebalan yang dimiliki, kemampuan apa yang ada pada diri kita. Apakah punya kemampuan naluriah yang bernilai, unsure dan partikel apa yang ada apakah pendidikan, ekonomi, politik, hukum,  hankam.

 

Pada level mana kemampuan diri?. Apa pada nalurian, imitasi, mandiri, atau mau menolong orang lain. Disini diperlukan kemampuan menganalisis SWOT dan tidak hanya mengetahui yang ideal, tapi harus memahami kenyataan. Bila berada pada level imitasi maka jangan hanya ikut-ikutan tapi bila mencontoh harus lebih baik. Bila mempunyai kemandirian jangan ego sentries tapi harus obyektif dengan memperhatikan kebersamaan dan kemandirian kolektif serta tidak boleh kompetitif habis-habisan. Serta tidak boleh eklusif atau inklusif tetapi harus mau menolong orang lain dan mau memberikan pertolongan. Sehingga prinsip balanced score card harus dijiwai oleh nilai-nilai Islam.

 

Mangapa harus bernilai Islami. Karena berdasarkan hasil penelitian yang dibahas dalam seminar nasional tentang Upaya peningkatan Kompetensi Guru bahwa 50% guru SD/SMP/SMA/SMK di 7 Kabupaten stress dengan katagori berat dan ringan, 47% guru tampil di depan kelas kurang percaya diri, 57% guru bukan cita-cita utama  sehingga tidak mempunyai motiv berprestasi, mutunya rendah. Akibatnya tidak bergairah, gampang marah, mudah tersinggung. Yang lebih parahnya lagi banyak orang yang berpendidikan guru meninggalkan profesi guru dan menikmati profesi lain. Sehingga masalah mutu pendidikan dibayang-bayangi ranah politik dan dirambah oleh supervisi, pengawasan serta evaluasi dari instansi luar yang tidak mengenal secara mendalam tentang filosofi pendidikan. Padahal di dalam pasal 8 Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 63 tahun 2009 dinyatakan “ Pemerintah Kabupaten atau kota wajib mensupervisi, mengawasi dan mengevaluasi serta dapat memberikan fasilitasi, sarana , arahan dan atau bimbingan kepada penyelenggara satuan pendidikan sesuai kewenangannya berkaitan dengan penjaminan mutu satuan pendidikan” bahkan di dalam konsideran menimbang dinyatakan “ pendidikan nasional menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat. Oleh karena itu penjaminan mutu pendidikan menjadi tanggung jawab bersama ketiga unsur”.

 

Yang anehnya masalah supervisi, pengawasan evaluasi sudah diintervensi secara intensif bahkan dari berbagai instansi, tapi urusan pasilitasi, sarana dan arahan masih tidak banyak disoroti dan kurang diperhatikan oleh instansi luar pendidikan. Tapi yang namanya supervisi, pengawasan dan evaluasi banyak dari instansi luar pendidikan. Sehingga disaat ada kesalahan dalam peñata usahaan keuangan seolah-olah tidak ada toleransi. Bahkan guru atau tenaga pendidik dan kependidikan yang disudutkan untuk menghadapi sebuah kegagalan. Baik dari segi mutu lulusan ataupun kesalahan mengimplementasikan RAPBS.

 

Yang menjadi persolan apakah banyaknya guru yang stress itu tidak ada toleransi menghadapi kegagalan, atau terlalu banyaknya yang mensupervisi, mengawasi mengevaluasi dari instansi luar. Atau karena ada tugas tambahan untuk mengelola peñata usahaan keuangan? Atau terlalu banyaknya aturan yang harus dipedomani oleh seorang guru sehingga tidak ada kesempatan untuk mengembangkan methode pembelajaran atau kurang waktu untuk melakukan manajemen tindakan kelas karena setiap guru harus dibebani mengajar minimal 24 jam paska sertifikasi.

 

Maka disiplin ilmu  manajemen pendidikan menjadi sebuah solusi untuk memberikan batas tolerasnsi menghadapi kegagalan yang dihadapi persolan bangsa Indonesi dalam kontek globalisasi  yang kompleks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: