Evaluasi Diri

Hanya tinggal beberapa hari lagi tahun 2009 berakhir. Sangat arif bila semua orang diakhir tahun mencoba menelusuri apa yang pernah diperbuat selama setahun kebelakang, apa yang kurang, apa yang salah!, prestasi apa yang diperoleh?. Bagi insan manusia yang menganut paham realisme akan menyadari kekurangannya dan keterbatasannya sehingga berupaya menemukan hukum universal baru, supaya mampu mengarungi kehidupan nyata melalui pemikiran ilmiah berdasarkan fakta dan referensi dari hukum alam. Serta menggunakan logika berpikir untuk mencari teknologi baru yang terstandarisasi dari prinsip dan definisi variasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

 

Bahkan harus disadari bahwa orang yang berpandangan rasionalis menggunakan etika dan moralnya berdasarakan kecakapan ilmiah dari keterpaduan estetika alam dan ilmiah. Karena tujuan hidupnya meningkatkan pemahaman tentang alam semesta melalui penelitian ilmiah. Jelaslah bahwa seyogyanya setiap individu, setiap tahun harus mampu dan terbiasa mengevaluasi diri dari sisi ontologi, epistimologi dan aksiologi. Sehingga tidak berpikir parsial dalam melaksanakan aktivitas sehariannya. Walaupun pada kenyataannya orang akan sulit untuk mengakui kelemahan, apalagi kesalahan. Karena secara linier orang yang mengakui kesalahan apalagi ditulis dalam sebuah pernyataan, akan dijadikan fakta hukum oleh pihak lawan untuk menjatuhkan tuntutan atau permintaan denda. Jadi wajar bila situasi saat ini sulit sekali menemukan orang jujur mengakui kesalahan.

 

 

Kalaulah dulu tahun 1984-1988 sering digulirkan oleh F.X. Soedjadi tentang O&M untuk mengetahui penyakit sebuah organisasi yang sedang sakit. Kini orang akan menyembunyikan organisasi yang sedang sakit, sehingga sulit untuk dilakukan diagnosa. Apakah organisasi itu harus diobati, diamputasi atau di bubarkan, sangat rumit untuk ditata ulang. Bahkan dalam penomena perpolitikan dewasa ini sering membingungkan publik, yang lebih lucu kini sedang bergulir orang berebut kebenaran dan berani mengucapkan sumpah serapah, apalagi ketika berebut kebenaran yang dilansir oleh media. Seolah-olah dirinya paling benar. Itulah dinamika yang sedang bergulir. Siapkah kita semua memperbaiki diri tanpa menuduh orang lain salah!

 

 

Penomena yang sedang terjadi,  jarang menemukan orang  saling mengakui kekurangan dan kelemahan, apalagi menyatakan dirinya salah. Makanya yang terjadi satu tahun kebelakang sulit menentukan apa yang harus diperbaiki kedepan, karena merasa sudah benar. Jika rajin membaca buku Richard D Lewis (1997 : 264) yang berjudul Menjadi Manajer Era Global, bahwa: ”Orang Barat dan orang Arab memiliki pandangan yang sangat berbeda mengenai benar dan salah, yang baik dan yang buruk, logis dan tidak logis, dapat diterima dan tidak dapat diterima”. Ada diposisi mana kah kita berada? Apa berkiblat kepada orang eropa/Belanda, timur tengah, jepang atau punya jati diri sendiri sebagai Bangsa Indonesia yang besar.

 

 

Sungguh indah bila semua mampu melupakan luka-luka tahun lalu dan semua bergandeng tangan untuk menatap masa depan yang lebih gemilang. Masa kalau dengan bangsa yang pernah menjajah saja bisa melakukan hubungan diplomatik! Kenapa dengan bangsa sendiri saling menghujat dan saling mengorek kesalahan bahkan saling memojokan. Yu kita semua menyingsingkan lengan baju untuk saling mengakui keberadaan masing-masing dalam bingkai Pancasila dan UUD 1945. terutama yang berhubungan dengan implementasi alinea IV Pembukaan UUD 1945 ”melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesehateraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia”.

 

 

Richard D. Lewis (1997 : 272)  menyatakan bahwa ”…bayi-bayi Barat segera dipisahkan dari ibunya dan ditempatkan di ruang bayi, anak-anak di Jepang tetap dijaga oragntuanya siang dan malam selama dua sampai dengan tiga tahun. Anak-anak Barat cepat mengembangkan inisiatifnya dan memperoleh pengalaman lebih awal dalam memecahkan masalah. Sebaliknya, anak-anak Jepang didorong untuk benar-benar bergantung kepada orang terdekat dan mengembangkan kesadaran saling bergantung dengan mereka selama hidupnya” orang sunda mempunyai adagium ”bengkung ngariung bongkok ngaronyok” sehingga bagi orang sunda memandang nepotisme itu bukan suatu pelanggaran tapi suatu budaya bagaimana saling membantu  supaya awak sakujur, batur sakasur,  batur sasumur, batur salembur, batur sagubernur, bisa ngajaga lembur panjeg dina galur dugi ka tutup umur. Sehingga menjadi suri tuladan cinta perdaimaian.

 

 

Hentikanlah tahun 2010 untuk saling menghujat dan saling memperlihatkan kekuatan, Tapi mari saling memahami sifat dan karakter masing-masing supaya Indonesia terus melaju mengimbangi perkembangan zaman yang semakin dinamis dan semakin cepat. Jangan sampai waktu habis terbuang untuk mencari orang yang salah, padahal salah dan benar itu tentative tergantung epoleksosbudhankam agama yang dianut. Sebenarnya semua elemen bangsa Indonesia harus merasa bangga mempunyai multi etnik, multi pulau, multi budaya, multi suku bangsa, multi agama, multi adat istiadat bisa utuh dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Mari semua berkiprah dan berkarya untuk diri sendiri, untuk keluarga, untuk tetangga, untuk RW, untuk Desa/Kelurahan, untuk Kabupaten/Kota, untuk Propinsi dan untuk Indonesi sehingga bangsa didunia ini menjadi nyaman dengan aroma ikhlas, pleksibel, dan kebersamaan.

 

 

Ingatlah bahwa para mahasiswa selalu mengejar Index Prestasi Kumulatif dalam menyelesaikan studinya. Makanya setelah menyandang gelar dan memperoleh ilmu terapan harus memahami filasafat ilmu agar dalam hidup dan memenuhi kehidupan didasari dengan karakter akhlak mulia yang mempunyai IPK ( ikhlas, pleksibel dan kebersamaan). Sudah cukup para pembaca dijejali teori-teori barat seperti halnya EQ dari Danil Goleman, Multiple Ingelegensi dari Howard Gardner ataupun teori Balanced scordcard dari Kaplan dan Norton, bahkan kini muncul teori Blue ocean. Tapi jangan lupa bahwa teori yang tumbuh dan berkembang di bumi pertiwi ini cukup untuk memberikan arah pada akhlak mulia bila semua orang kembali pada ”purwadaksina” untuk mengelaborasi Zikir, Fikir, Mikir.

 

 

Sesuatu yang paling sulit dirasakan oleh penulis adalah mengajak diri sendiri untuk berbuat baik, kadang kala sulit menserasikan  antara tekad ucap lampah. Keserasian antara otak, hati dan panca indra dengan seluruh anggota badan perlu disugesti dan dimotivasi secara terus menerus melalui teori daya, teori behavior secara situasional.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: