Jaminan Kesehatan Masyarakat

Pasca digulirkannya program jaminan kesehatan masyarakat, ternyata berkembang pemahaman yang namanya jaminan adalah pelayanan gratis. Padahal ide pokok dari jaminan kesehatan masyarakat mendorong masyarakat untuk menajaminkan dirinya dalam suatu asuransi kesehatan. Namun khusus untuk orang miskin bahwa preminya dibayar untuk sementara oleh Pemerintah. Tapi karena yang dibaca dan dipahami oleh masyarakat bahwa jamkesmas itu adalah suatu program pemberian pelayanan kesehatan gratis. Maka semua orang ingin mendapatkan jaminan kesehatan tanpa harus membayar premi. Termasuk orang yang masuk dalam katagori diborder ingin dijamin oleh pemerintah disaat dirinya memerlukan pelayanan kesehatan dengan menunjukkan surat keterangan tidak mampu (SKTM).

 

Sedangkan dalam konteks memberdayakan masyarakat adalah memerangi kemiskinan dan kesenjangan serta mendorong masyarakat menjadi lebih aktif dan penuh inisiatif untuk melakukan perubahan sosial menuju pada sikap kemandirian dan kesejahteraan bersama. Sunyoto Usman (2008) mengatakan bahwa “Dalam era reformasi seperti sekarang, banyak pihak mulai berani mempertanyakan kembali kebijakasanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang selama ini diintroduksi dan diimplementasikan”. Bahkan istilah pemberdayaan masyarakat diartikan ada suatu bantuan yang akan digulirkan pada masyarakat dalam bentuk dana dan proyek. Pemahaman seperti itu bila terus biarkan maka istilah “dinamis, mandiri dan sejahtera” dibacanya oleh publik adalah penggelontoran bantuan dari Provinsi ke Daerah melalui berbagai institusi pemerintah atau masyarakat. Sehingga akan semakin jauh antara ekpektasi masyarkat dengan kemampuan pemerintah untuk mendanai setiap program yang semakin hari semakin pariatif. Seperti ungkapan Sunyoto Usman (2008 :20) “ Program-program pembangunan kesehatan yang telah diimplementasikan pun tidak saja ditujukan untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh mikroba dan infeksi, melainkan juga berupaya mengatasi semakin merajalelanya penyakit-penyakit gula, hipertensi, jantung, kanker, stress, dan gejala-gejala degeneratif sebagai akibat dari gaya hidup modern lainnya”.

 

Gambaran tersebut memberikan pemahaman  bahwa disaat dibuat kesepakatan jenis penyakit yang dijamin dengan premi yang dibayar ada perbedaan. Ternyata pada waktu pelayanan mungkin muncul penyakit baru yang tidak dijamin dalam kesepakatan awal penjaminan. Sehingga memperhambat proses pencairan klaim paska pelayanan. Makanya dijelaskan oleh Sunyoto Usman “…dalam kenyataannya kita masih menghadapi sejumlah masalah krusial. Salah satunya adalah masih dirasakannya diskriminasi akses masyarakat pada pelayanan kesehatan. Sebagai akibat dari dana dan fasilitas kesehatan yang terbatas, sementara juga harus menjangkau wilayah kelompok sasaran yang amat luas, dibeberapa daerah terjadi kesenjangan dalam pelayanan kesehatan”. Secara garis besar masalah itu menyangkut alokasi sumber daya (resource allocation) dan penampilan kelembagaan (institutional performance). Jadi kata kuncinya untuk  membuat masyarakat dinamis, mandiri dan sejahtera harus ada persepsi dan pemahaman yang sama, antara masyarakat, yang mengatasnamakan masyarakat dan Pemerintah sebagai pelayan masyarakat.

 

Sengketa berikutnya dalam jaminan kesehatan masyarakat adalah ingin dilayani lebih di kelas yang lebih tinggi. Walaupun pelayanan di kelas yang lebih tinggi itu tidak masuk dalam kolidor penjaminan, pasti masyarakat atau orang yang mengatasnamakan masyarakat ngotot untuk diberikan pelayanan lebih. Yang labih lucu adalah pelayaan bagi asuransi kesehatan pegawai negeri sipil, cenderung harus ada cost sering. Ketika berhadapan dengan pasen yang tidak pernah menggunakan Askes, ternyata menemukan masalah disaat menggunakan Askes harus membayar cost sering, maka disana akan terjadi perbedaan persepsi dan pemahaman. Maka jelas bahwa ketika seseorang dibujuk untuk menjadi peserta asuransi kesehatan harus jelas antara hak dan kewajiban, dan harus jelas bila diperjalanan ada sesuatu yang diluar dugaan (force mayor) harus ada jalan keluar yang bisa dipahami oleh kedua belah pihak.

 

Apabila kedua belah pihak sudah saling memahami antara hak dan kewajiban, diantara keduanya memahami saling membutuhkan. Maka keduanya akan saling menjaga keberlangsungan program itu berjalan. Bahkan antara penjual jasa dan penerima jasa harus sama-sama merasa puas. Bila itu terjadi maka itulah yang disebut masyarakat berdaya, karena menjadi lebih aktif dan penuh inisiatif untuk melakukan perubahan sosial menuju pada sikap kemandirian dan kesejahteraan. Kalau hanya ingin dijamin saja tanpa ada rasa tanggung jawab terhadap kewajiban dan segala sesuatu ingin geratis melulu. Maka dimana sifat kegotong royongan dan terciptanya subsidi silang. Bila semua orang menyadari bahwa out of  pocet itu lebih mahal dibandingkan dengan menjadi peserta jaminan kesehatan dalam pengertian asuransi kesehatan. Apalagi yang namanya sakit itu tidak bisa diperkirakan sebelumnya dan penyakit dari hari-kehari semakin aneh-aneh saja. Hal itu bagi orang yang swadaya masyarakatnya tinggi akan berpikir bersama dan mencari solusi bersama, yaitu melalui asuransi kesehatan.

 

Jadi jaminan kesehatan masyarakat itu bukan program gratisan, tapi bagaiman caranya semua masyarakat menjaminkan dirinya untuk menjadi peserta asuransi kesehatan, dengan sikap kemandiriannya berusaha maksimal membayar asuransi kesehatan demi kesejahteraan dirinya, keluarganya yang akan berimplikasi pada peningkatan sumber daya manusia yang sehat dan bugar, dikarenakan penyakit biologis dan penyakit psikis bisa diantisipasi ditangani secara terencana. Karena diri ini dijamin melalui asuransi kesehatan maka akan muncul ketenangan diri. Bila jiwa merasa tenang , insya Allah akan produktif, enerjik dengan inovatif serta kerja keras meraih kesejahteraan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: