Kualitas Perempuan Harapan Masa Depan

Pada saat ini sebagaian besar bangsa di dunia telah terjangkit virtus globalisasi, mau tidak mau, suka tidak suka harus siap menjadi manusia yang berkualitas. Karena inti dari globalisasi adalah tanpa batas. Sehingga masyarakat di bagian utara bisa mengetahui di bagian timur dalam waktu yang bersamaan tidak dibatasi waktu, ruang, tempat. Dalam era globalisasi batas antar negara menjadi kabur. Disebabkan oleh perkembangan iptek dan seni yang pesat. Sehingga kalau ingin mengetahui yang terjadi di Aprika, di Amerika tinggal  tekan tombol masuk ke internet dalam waktu itu akan diketahui. Tidak harus datang ke Amerika atau India. Tidak ada batas laut dan udara, darat, semuanya bisa didekatkan dengan teknologi. susah jadi mudah , yang mudah bisa jadi susah.

 

Di era globalisasi semuanya jadi  Terbuka dan Transparan, semua bisa didapat dengan teknologi. Presiden  di Amerika bisa diketahui sampai yang ada dikamar mandi. Tidak ada yang rahasia. Mengapa bisa diketahui? karena punya satelit yang bisa menembus. Ketika Amerika mau menyerang Irak dengan alasan ada sesuatu di terowongan. Sebenarnya sudah diketahui disana tidak ada apa-apa. Hal itu untuk alat saja dicari alasan dilakukan agresi terbuka dan transparan.  Makanya oleh pakar ekonomi Kenechi Ohmae bahwa era global the border less world ( dunia tanpa batas) sedangkan menurut M.Luhan  disebut sebagai desa dunia. Di desa satu dengan yang lain saling mengenal. Di sini semakinjelas diperlukan kualitas sumberdaya manusia. Kemudia mari dikaji bersama  bagaimana struktur penduduk  Jawa Barat saat ini

 

 

 

Bahkan untuk di Kota Sukabumi berdasarkan hasil pendataan tahun 2008  Laki-laki 141.342 Jiwa Perempuan 139.783 Jiwa Jumlah 281.125 Jiwa.

Kalau dikaji lebih menukik lagi ternyata jumlah perempuannya    ada 78.340 Wanita Usia Subur, 48.699  Pasangan Usia Subur, 37.571 Akseptor. Bahkan ada 9.710 Kepala keluarga perempuan. Itu semua menuntut perubahan sosekbud yang bisa berselancara dalam kesemerawutan globar. Lantas kenapa perempuan yang harus diperhatikan untuk berkualitas? Bukankan perempuan banyak  yang cerdas, banyak yang pandai dalam setiap jenjang pendidikan! Kenapa Pengarus Utamaan Gender menjadi tuntutan dan kesepakatan dari MDGs?

 

Jawaban sementara bahwa yang mejadi ukuran indek kesehatan adalah  Angka Kematian Ibu dan angka Kematian Bayi. Jadi untuk meminimalisir bertambahnya angka kematian ibu dan angka kematian bayi. Jelas perempuan harus berkualitas mengurus dirinya disaat menentukan pilihan untuk memilih pasangan hidup melalui Pendewasaan Usia Perkawinan. Disaat berhubungan intim dan menggunakan konstra sepsi, apa yang harus dipilih untuk mengatur kelahiran dilakukan melalui Konseling Reproduksi Remaja. Disaat memelihara kehamilan harus tahu apa yang mesti dilakukan supaya janin yang ada dalam rahim tumbuh subur dan sehat melalui Konseling Reproduksi Sehat melalui kunjungan ke Posyandu atau ke Puskesmas. Disaat melahirkan jangan sampai terlambat memutuskan, terlambat merujuk dan terlambat melakukan tindakan.

 

Setelah bayi lahir harus tahu apa yang mesti dilakukan, harus tahu bagaimana memberikan kekebalan tubuh pada bayi, bagaimana memberikan sentuhan kasih sayang kepada bayi yang baru lahir, bagaimana memberi asi, bagaimana melakukan bina keluarga balita. Jadi betapa mulianya tugas perempuan itu disamping harus tahu tentang kekuatan, potensi, kelemahan dan acaman yang bisa menimpa dirinya. Juga harus mampu melakukan delapan fungsi keluarga yang meliputi Agama, Sosial Budaya, Cinta Kasih, Perlindungan, Reproduksi Sehat, Sosialisai&Pendidikan ,Ekonomi, Pelestarian Lingkungan. Fungsi tersebut jangan disalah artikan sebagai tugas domestic. Justru itu sangat fundamental dan berarti dalam meningkatkan kualitas generasi mendatang yang akan menjadi pemimpin di negeri Republik Indonesia yang tercinta ini.

 

Disinilah kualitas perempuan sebagai harapan masa depan bangsa harus dipahami secara philosofik, tidak hanya sekedar menuntut proporsi kedudukan di legislative, eksekutif, yudikatif. Karena disaat diberi kesempatan melalui aturan yang legal (UU) ternyata disaat diberikan kebebasan memilih ternyata perempuan tidak memikah dan tidak memilih pada sesama perempuan. Jadi esensi sebenarnya apa yang diharapkan oleh pergerakan kaum perempuan itu dalam PUG. Apakah belas kasihan dari kaum laki-laki atau ketidak sanggupan memainkan fungsi perempuan secara kodrati dalam delapan fungsi keluarga sehingga seolah-olah perempuan dilecehkan oleh laki-laki atau oleh perempuan itu sendiri.

 

Lantas kemana arah pembinaan dan pemberdayaan perempuan itu? Apakah harus aktif diorganisasi?, mempunyai kedudukan di eksekutif?, berkarir di legislative?. Atau menjadi perisai perjuangan kaum laki-laki melalui delapan fungsi keluarga! Yang bisa menjawab secara tepat sudah barang tentu perempuan itu sendiri.

 

Jika ditelaah secara sektoral, ternyata banyak sekali program pemberdayaan perempuan dengan kompleksitas permasalahannya. Namun yang harus dikedepankan adalah “anu kadada kaduga”, Hendaknya semua lini tidak membeo. Jika program dari atasnya seminar dan sosialisasi maka kebawah samapi tingat dasa wisma jangan hanya sosialisasi. Marilah diperhatikan secara seksama bahwa kader perempuan yang akif dari mulai tingkat nasional, propinsi, kabupatan, kecamatan, kelurahan/desa, RW/RT bahkan sampai pada dasa wisma “gulangkep”. Sehingga apabila pekerjaannya hanya mengikuti seminar dan pelatihan kapan mengaplikasikan dan melaksanakan ilmu yang telah diperoleh. Untuk itu perlu ada peningkatan kinerja. Harus menghasilkan manusia yang produktif. yang menghasilkan kualitas, nilai tambah dan nilai jual added value.  Dia yang berkualitas akan aman. Sisa nya akan tergerus. Maka jadilah manusia yang bermutu yang bisa diperhitungkan. Sebaliknya dalam pemberdayaan perempuan lakukan Ijtihad kaizen, yaitu berusaha sungguh-sungguh untuk hasil yang optimal. Tidak ada hasil yang optimal tanpa kerja keras. Tanamkan rasa percaya diri, Sadar diri,  tak kenal lelah, niat ibadah, tawakal, Insya Alllah mampu melakukan coustomer services. 

 

Diakui ataupun tidak bahwa persoalan perempuan banyak didominasi oleh perasaan. Bahkan pengertian yang bisa memperlancar jalannya oraganisasi pemberdayaan perempuan. Yang banyak mengatur tatanan adalah aturan tidak formal. Mengapa demikian. Karena dalam tatanan Rumah tangga banyak diatur kesepakatan yang tidak tertulis. Pengertian dan kebiasaan sering dimanfaatkan seorang pemimpin dalam menata organisasi jadi lincah. Di dalam oraganisai pemberdayaan perempuan banyak memanfaatkan hukum yang tidak tertulis. Karena beda karakteristik, beda latar belakang, beda motivasi, beda kemampuan, beda daya nalar. Maka. yang harus ngalah adalah pimpinan untuk menguasai anggota. Kuasai kader dengan menciptakan sesuatu yang menyenangkan bagi orang banyak.

 

Untuk meningkatkan kualitas pemberdayaan perempuan maka Pimpinan harus melepas kepentingan pribadinya. Karena Tugas pokok pimpinan untuk mengatur organisasi supaya jalan. Ketika harus memberdayakan perempuan maka pahami karakter dari perempuan itu. “Jangan keukeuh”. Jika berbekal hanya satu kunci dan tidak ada alternafit maka malah kaku, tidak muncul  inisiatif. Sulit bila menghadapi orang yang selalu berpegang pada harga diri dan kehormatan. Bila komunikasi pertama tidak ada ekpresi atau tidak mengenakkan maka tidak akan bisa berkomunikasi dengan baik. Untuk mengembangkan organiasiai perempuan harus mampu membaca ekpresi perempuan. Jika harga diri dihina dicaci maki maka terjadi kemunduran karena yang hidup bukan hanya petut tapi rasa. Sebagus apapun kesejahtraan yang diberikan pada perempuan tidak efektif, bila tidak nyaman. Pendekatan yang nyaman dalam pemberdayaan perempuan bisa diharagai. Karena merasa terbeli dan diperlakukan secara senang.

 

Kekuatan perasaan senang mempunyai daya pengaruh tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Hal ini harus dipelihara dengan baik  Jangan sampai di depan baik di luar jangan-jangan menjelek-jelekan. Makanya hindari untuk mengatur tubuh/fisik  orang. Yang harus dikuasai, hati, rasio, pikiran dan jiwanya. Harga seorang manusia jauh lebih berharga dari mesin secanggih apapun.  Ketika melakukan pemberdayaan perempuan jangan dilihat dari tenaganya. Lihat lah ketulusan, kebahagiaan, keterikatan emosi yang harus diperhatikan. Manusia jauh lebih hebat dari satu set kekuatan mesin apapun. Ketika rusak otaknya tidak diakui sejajar dengan yang lain. Maka Islam memberikan Penghargaan pada perempuan adalah ratu. Namun demikian dalam pemberdayaan perempuan itu diperlukan suatu keseimbangan antara output yang di inginkan sumber daya yang tersedia, kemampuan pendanaan dan sasaran/coustomer yang dilayani. Supaya diselamatkan, diingatkan ketika salah dikembalikan pada keseimbangan antara  logika /kecerdasan hati, iman. Jadi kualitas perempuan yang menjanjikan harapan masa depan anak bangsa yang lebih baik adalah yang tulus melaksanakan delapan fungsi keluarga mengunakan logika, hati dan iman sehingga menjadi insan kamil.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: