Pendidikan Sebuah Proses Pematangan Diri

Sikap optimisme adalah modal utama dalam melaksanakan setiap perubahan ke arah yang lebih baik. Kenapa perubahan itu harus dicermati secara arif, sebab di dunia ini tidak ada yang abadi. Dan tidak ada sosok manusia begitu lahir langsung menjadi figure yang matang tanpa melalui proses pendidikan. Hal ini seperti diyakini orang Islam “ Wallohu akhrojakum mimbutuni ummahatikum la ta’lamuna syaia” Demi Allah sejak manusia dilahirkan oleh ibunya tidak tahu apa-apa.Tapi punya potensi untuk tumbuh dan berkembang melalui proses pendidikan. Mari perhatikan pendapat Desmita dalam buku pshikologi perkembangan menyatakan “Anggapan bahwa semua keterampilan, kemampuan dan pengetahuan yang tampil di kemudian hari setelah dewasa merupakan bawaan sejak lahir ( innate ideas). Pendidikan dianggap sebagai suatu pertumbuhan semata, yaitu sebagai proses penambahan secara kuantitatif. ( desmita 2008 :13)

 

Kemudian pemahaman orang Islam tentang Wallohu akhrojakum mimbutuni ummahatikum la ta’lamuna syaia bandingkan dengan ahli pendidikan Jonh locke (1632-1704 inggris) “pengalaman dan pendidikan merupakan factor yang paling menentukan dalam perkembangan anak. Ia tidak mengakui adanya kemampuan bawaan (innate knowledge). Isi kejiwaan anak ketika dilahirkan adalah ibarat secarik kertas yang masih kosong, dimana bentuk dan corak kertas tersebut nantinya sangat ditentukan oleh bagaimana cara kertas itu ditulisi “istilahnya tabula rasa (blank slate). Namun lain halnya dengan Jean Jacques Rousseau ( 1712-1778 Prancis) “anak berbeda secara kualitatif dengan orang dewasa. Menolak pandangan bahwa bayi adalah makhluk pasif, yang perkembangannya ditentukan oleh pengalaman. Ia menolak anggapan bahwa anak merupakan orang dewasa yang tidak lengkap dan memperoleh pengetahuan melalui cara berpikir orang dewasa. Ia beranggapan bahwa sejak lahir anak adalah makhluk aktif, dan suka berekporasi.” Biarkan anak memperoleh pengetahuan dengan cara sendiri melalui interaksinya dengan lingkungan.

 

Dari beberapa perbedaan yang kontras antara Jonh locke dengan Jean Jacques Rousseau merangsang alam pikiran para ahli pendidikan di Republik Indonesia ini untuk mencari bentuk dan metode pendidikan yang tepat dalam suatu ruang dan waktu, seperti halnya “Pendidikan pra orde baru diarahkan kepada proses indoktrinasi dan menolak segala unsure budaya yang datangnya dari luar. Dengan demikian pendidikan bukan untuk meningkatkan tarap kehidupan rakyat, bukan untuk kebutuhan pasar, melainkan untuk orientasi politik. Indicator pendidikan dari jenjang sekolah dasar sampai pendidikan tinggi diarahkan untuk pengembangan sikap militerisme yang militan sesuai dengan tuntutan kehidupan di suasana perang dingin” ( Tilaar, 2000 : 2) Benarkah bila anak dibiarkan berkembang secara wajar, maka perkembangannya akan berjalan mengikuti tahapan-tahapan yang teratur, dan pada setiap tahapan perkembangan, anak merupakan makhluk yang utuh dan terintegrasi. Tugas orang tua dan pendidik dalam hal ini adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa, sehingga memungkinkan perkembangan yang telah diatur oleh alam tersebut berjalan secara spontan, tanpa dirintangi oleh campur tangan orang dewasa.

 

Kemudia dimasa  berikutnya bahwa “ Pendidikan masa orde baru diarahkan kepada uniformalitas atau keseragaman di dalam berpikir dan bertindak. Pakaian seragam, wadah-wadah tunggal dari organisasi social masyarakat, semuanya diarahkan kepada terbentuknya masyarakat yang homogen. Tidak ada tempat bagi perbedaan pendapat. Yang lahir ialah disiplin semu melahirkan masyarakat beo” (Tilaar, 2000 : 3) Disinilah diperlukan intergrasi yang sinergis dalam pengelolaan PAUD untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pembelajaran yang tepat apakah akan  menganut  Rousseau dengan alirannya nativisme (developmental) ataukah menganut John locke dengan aliran empirisme, (teroi belajar) environmentalisme

 

Atau melakukan Perubahan orientasi riset:

  1. eksperimental ( perkembangan proses-proses persepsi, problem solving, attention)
  2. perkembangan anak dari bayi sampai remaja  perkembangan kongnisi (teori yang kompehensif dari Jean Piaget) perkembangan terjadi hasil interaksi yang konstan antara individu di satu pihak dan tuntutan lingkungan di pihak lain.
  3. origin behavior , riset terhadap bayi ( ada pencatatan /recording) elektorik, fotografik. Menentukan lebih cepat replek dan keterampilan bayi yang dimiliki sejak lahir apa bisa diubah melalui conditioning dan reinforcement.

 

Dari beberapa perubahan orientasi penyelenggaraan pendidikan menjadi pekerjaan rumah bagi institusi pemberdayaan masyarkat untuk melestarikan konsep kebersamaan dan kegotong royongan  terutama pada saat krisis multi dimensional yang melaksanakan         “ Pendidikan masa krisis membawa masyarakat dan bangsa kepada keterpurukan dari krisis moneter membuat menjadi krisis ekonomi dan berakhir pada krisis kepercayaan. Krisis kepercayaan telah menjadi warna yang dominan di dalam pembudayaan maka krisis kebudayaan yang kita alami merupakan refleksi dari krisis pendidikan nasioanl” (Tilaar,  2000” : 5)

 

Jadi bagaimana Bina Keluarga Balita itu harus dilakukan, karena ” Pendidikan Anak Usia Dini adalah perkembangan anak secara menyeluruh atau seutuhnya. Pertama Persiapan anak untuk sekolah formal dipandang sebagai bagian integral dari perkembangan menyeluruh, bukan sebagai tujuan yang terisolasi. Kedua kebijakan pemerintah mengenai Pendidikan Anak Usia Dini harus memihak kepada yang miskin, memberikan ketidak samaan sebagai prioritas. Ketiga Pendidikan Anak Usia Dini sebagai sarana meletakan pondasi untuk belajar sepanjang hayat, dan sebagai transisi dari rumah kepelayanan anak usia dini yang mana pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini ke sekolah harus mulus”         ( UNESCO, 2005 : 15) Sedangkan di masyarakat pelaksanaan PAUD tumbuh subur dan dilakukan oleh berbagai instansi serta institusi. Maka jelaslah diperlukan komunikasi tibal balik  dari semua fihak. Karena “ komunikasi dan saling memberi informsi ini akan menimbulkan saling pengertian. Sudah tentu komunikasi harus berjalan dua arah. Peranan komunikasi di sini seolah-olah semen perekat antar orang, antar pejabat, antar unit atau antar instansi, yang akan mengikat mereka jadi suatu system” (Dhann Suganda 1988 : 28)

 

Bina Keluarga Balita yang terintegrasi dalam system pengelolaan PAUD memberi arah pada proses pematangan tumbuh kembang bayi sampai persiapan masuk sekolah.  Disini diperlukan koordinasi antara Depdiknas, Depag, BKKBN, Depkes, Depdagri, Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Dengan catatan bahwa “Koordinasi hanya mungkin terjadi apabila ada kesadaran dan kesediaan sukarela dari semua anggota organisasi atau pemimpin-pemimpin organisasi ( untuk kerjasama antar instansi) ke dalam proses pelaksanaan kerja di bawah pengarahan seseorang yang mempunyai kewenangan fungsional tertentu. Dalam hal ini koordinasi menuntut sikap dan perilaku tertentu dari orang-orang, kepala-kepala unit, maupun dari kepala-kepala instansi tertentu yang terlibat dalam hubungan kerjasama. Baik sikap yang mengarahkan atau coordinator, maupun sikap yang diarahkan atau yang dikoordinasikan.” ( Dhan Suganda, 1988: 28).

 

Mengapa BKB, TPA, RA, TK harus ada sinkronisasi dan integrasi. Karena “ koorinasi akan meminta ketaatan, kesetiaan dan disiplin kerja dari setiap fihak yang terlibat…terciptanya koordinasi di dalam suatu organisasi akan menunjukkan bahwa organisasi tersebut benar-benar bergerak sebagai suatu system” (Dhan Suganda, 1988: 41). Kalaulah bardasakan amanah PP Nomor 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Dan amanah PP Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerintah, Pemda Prop. Pemda Kota telah dibentuk Badang Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana di Republik Indonesia. Diperlukan “Cara memimpin orang-orang dengan tepat agar tercipta komunikasi, saling pengertian dan hubungan kemanusiaan yang cukup baik guna menimbulkan kerjasama dan koordinasi adalah bila sang pemimpin, manajer, atau administrator memanfaatkan gaya kepemimpinan partisipatif yang telah bersifat demokratis dan cocok untuk situasi Negara modern” (Dhann Suganda, 1988 :43)

 

Disinilah koordinasi penyelenggaraan PAUD akan memperlancar pada proses pematangan generasi muda yang tangguh dengan “ Beberapa prinsip yang perlu diterapkan dalam menciptakan koordinasi antara lain: 1.adanya kesepakatan dan kesatuan pengertian mengenai sasaranyang harus dicapai sebagai arah kegiatan bersama. 2.adanya kesepakatan mengenai kegiatan atau tindakan yang harus dilakkukan oleh masing-masing fihak, termasuk target dan jadwalnya. 3.adanya ketaatan atau loyalitas dari setiap fihak terhadap bagian tugas masing-masing serta jadwal yang telah ditetapkan. 4.adanya saling tukar infromasi dari semua fihak yang bekerja sama mengenai kegiatan dan hasilnya pada suatu saat tertentu, termasuk masalah-masalah yang dihadapi masing-masing. 5. adanya koordinator yang dapat memimpin dan menggerakkan serta memonitor kerja sama tersebut, serta memimpin pemecahan masalah bersama. 6.adanya informasi dari berbagai fihak yang mengalir kepada coordinator sehingga coordinator dapat memonitor seluruh pelaksanaan kerja sama dan mengerti masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh semua fihak.7.adanya saling hormati terhadap wewenang fungsional masing-masing fihak sehingga tercipta semangat untuk saling Bantu (Dhan Suganda, 1988 :47)

 

Apabila prinsip tersebut di atas dilaksanakan dan dijalankan oleh semua pihak yang saling berkoordinasi, maka penyelenggaraan PAUD akan benar-benar menjadi landasan pondasi suksesnya pendidikan untuk semua sebagaimana command goal dari kesepakatan Dakar. Dengan demikian “Koordinasi merupakan kerjasama yang teratur. Keteraturan daripada kerjasama ini dapat diciptakan melaui prosedur-prosedur. Di dalam setiap prosedur akan sudah jelas siapa melakkan apa, dari siapa diterima pekerjaan, dan pekerjaan yang telah diselesaikan harus dikirim kepada siapa untuk ditambah atau dilengkapi. Demikian berturut-turut sehingga rangkaian pekerjaan selesai”. (Dhan Suganda, 1988 : 96)

 

Walaupun tidak ada sosok manusia yang sempurna dan paripurna dalam mengkoordinasikan penyelenggaraan PAUD, tetapi diperlukan “Penciptaan koordinasi antar unit. Lebih-lebih antar instansi selain memerlukan ”leadership skill” atau keterampilan memimpin dari manajer dan coordinator, juga memerlukan kemampuan untuk membina, mengarahkan, memberikan penjelasan, melatih, mendidik, membiasakan sikap dan perilaku organisasional dari setiap pejabat yang harus bergerak secara system di dalam administrasi.” (Dhan Suganda, 1988: 105). Sehingga perlu dibuat sebuah modul prosedur dan tata kerja pendidikan anak usia dini, baik dalam pengelolaan BKB, TK, TPA, RA dalam sebuah pengelolaan PAUD yang terintegrasi. Makanya Manajer atau coordinator dapat mendukung terciptanya koordinasi dapatlah melakukan pengawasan melalui jalannya pelaksanaan rencana dan prosedur. Apa yang sudah direncanakan perlu diawasi pelaksanaannya, dengan demikian juga halnya dengan prosedur yang telah ditetapkan. Dengan demikian rencana dan prosedur dapat menjadi tolok ukur sekaligus juga alat koordinasi melaui usaha agar setiap pelaksana benar-benar mengerti dan menerapkan rencana serta prosedur (Dhan Suganda, 1988: 104)

 

Salah satu media untuk mengintegrasikan program pendidikan usia dini bisa dilakukan di lokasi kegiatan Peningkatan Peranan Wanita Keluarga Sehat Sejahtera ( P2 WKSS) yang sudah digagas dan dilaksanakan secara terintegrasi antar departemen antar institusi dan lembaga swadaya masyarakat. Dengan mengadopsi berbagai program lintas sector dalam sebuah karya bersama. 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: