Mengapa Perlu Belajar

Masih mampu berdiri tegakkah dunia ini! itulah yang terlintas seketika dipikiran penulis, mengapa? karena menghadapi situasi yang sangat komplek ini kadang semakin pesimis, karena setiap hari disuguhi tentang berita-berita pembongkaran kejahatan atau berita tentang hujat menghujat, sepertinya tidak ada yang mampu menampilkan suatu contoh dan motivasi untuk bangkit, semua orang sudah berlaga seperti pahlawan yang berfungsi seperti malaikat, dirinya merasa paling benar bahkan mengganggap orang lain selalu diposisikan dalam kondisi salah. Ya wajarlah sisa-sisa pengaruh penjajah yang bercokol selama 350 tahun membodohi bangsa Indonesia, sehingga untuk pulih sangat perlahan seperti tidak bergerak ke arah kemajuan. Padahal bila semua komponen bangsa ini mampu mawas diri, ternyata sudah banyak kemajuan jika dibandingkan dengan masa revolusi atau masa awal-awal merdeka.

Namun karena kondratnya manusia selalu merasa tidak puas dengan kondisi yang ada, sehingga melupakan tentang kemajuan yang terjadi, tapi yang banyak diekpose adalah kekuarangan dan kemunduruan, lantas bagaimana supaya mampu memperbaiki dan menyempurnakan hasil yang sudah ada, ya harus selalu melakukan penelitian dan pengembagan dari hasil penelitan, minimal dari hasil membaca buku, atau membaca situasi dan kondisi yang dialami seharian sehingga muncul motivasi untuk mengembangkan R&D.

Marilah kita simak tentang laporan UNESCO tahun 2005 tentang pendidikan untuk semua, disana ada enam tujuan yang ingin dicapai untuk menjaga kondisi dunia tetap tegak berdiri, yaitu: (1) Pendidikan sejak usia dini yang kini dipopulerkan dengan istilah PAUD (2) Pendidikan Dasar Universal (UPE) (3) Anak muda dan dewasa terus belajar ketgerampilan hidup (4)Prosentase Angka Melek Huruf terus ditingkatkan (5)Perhatian dan Kesadaran terhadap Jender (6)Peningkatan Kualitas. Itu semua merupakan langkah konkrit yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh komponen dan anak bangsa Indonesia yang besar ini.

1. Peduli terhadap pendidikan sejak anak usia dini

Langkah maju yang mengarah pada akses perluasan kesempatan belajar perlahan-lahan terus merosot, terutama anak-anak terbelakang di sub Saharan Afrika. Rata-rata  sekolah anak usia dini 0,3 tahun dengan kecenderungan mampu menyekolahkan, dibangingkan dengan Amerika latin 1,6 tahun dan Caribbean 2,3 tahun di Amerika Utara dan di Eropa utama berada pada beberapa perkembangan negara. Program Erly Childhood Care Education  diorganisir oleh guru dengan kualtias rendah .

2. Pendidikan Dasar Universal (UPE)

Angka prop out anak sekolah telah berkurang dari 106,9 juta anak-anak tahun 1998  menjadi 103,5 juta tahun 2001. Sementara kemajuan untuk mengusahakan anak-anak ke dalam sekolah lagi telah berlasung sejak dasa warsa yang lalu, dan perlahan-lahan pendidian dasar universal bisa dicapai pada tahun 2015, kalau dunia secara berkesinambungan menjaring rasioa pendaftaran 85% dalam tahun 2005 dan 87% dalam tahun 2015. Keprihatinan menunda pendaftaran bertahan 5 grade lebih rendah ( berada pada tigapuluh satu negara dengan prosentase 75% dengan prekwensi berulang)

3. Anak Muda dan Dewasa Terus Belajar

Upaya untuk meningkatkan tarap keterampilan antara masa anak muda dan dewasa berada pada perkembangan negara mengevaluasi tentang program pengembangan keterampilan.  Sedangkan peningkatannya terasa sulit untuk mengakses pada satu basis global.

4. Melek Huruf ( Kemampuan Membaca dan Menulis)

Ada 800 juta orang dewasa berada pada kategori buta huruf pada tahun 2000, 70% diantara mereka tinggal pada sembilan negara miskin, kebanyakan berada di Sub Afrika Saharan. Hasil monitoring global melaporkan kondisi di Asia Timur dan Selatan, khusunya India dan Cina, Banglades dan Pakistan

5. Gender

Banyak negara kurang memperhatikan kesamaan gender, baik dalam tarap primer maupun sekunder, menerangkan dengan dimensi perbedaan yang sangat tajam, terutama di negara Arab, Sub Afrika Saharan dan Asia Selatan dan Barat. Prosentase perempuan 57% dropout sekolah dibandingkan dengan anak dibawah usia sekolah di seluruh dunia tahun 2001 mencapai 60% berada di negara Arab.

6. Kualitas

Negara yang jauh untuk mencapai tujuan pertama dan ke lima dan terjauh mecapai tujuan ke enam ditentukan oleh beberapa indikator penyediaan pembelanjaan publik pada pendidikan. sepuluh tahun yang lampau GDP di negara kaya telah mencapai tujuan Pendidikan untuk semua

Kualitas Terbaik Pendidikan untuk Semua

Tangtangan pendidikan untuk semua tidak dapat dicapai tanpa mutu. untuk meningkatkan mutu, dibeberapa bagian dunia, ada satu celah perbedaan besar diantara  angka peningkatan kelulusan murid sekolah tersebut, antara mereka yang menguasai sedikitnya ketermpilan teori. Adapun kebijakan mendorong pencapaian 100%, juga harus menyakinkan kondisi belajar sesuai dengan nilai kesempatan berkreasi. Pelajaran dapat diambil dari negara yang mempunyai kesuksesan berbarengan dengan mengatasi tantangan.

Mendefinisikan kualitas pendidikan ada dua gambaran prinsip, yang pertama identifikasi pelajaran, teori menetapkan melakukan tujuan secara tegas dari semua sistem pendidikan. Sesuaikan dengan baik, sistem mana yang memenuhi indikator mutu. Menekankan pada peran pendidikan di dalam meningkatkan  nilai dan sikap warga negara yang bertanggung jawab dalam memelihara emosi. Pencapaian tujuan jadi lebih sulit untuk menguji dan membandingkan ke negara luar

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: