Belajar Berfikir Positif

Hujatan terhadap Bangsa tak pernah  reda, cacian terhadap pemimpin tak pernah surut, kecurigaan kepada pejabat penyelenggara negara tak pernah henti. Semuanya memenuhi warna berita dari berbagai media apakan di elektornik, visual, ataupun tulisan. Semuanya membidik kejelekan dan kesalahan setiap para penyelenggara negara. Bahkan hujatan terus mengalir. Semuanya meler seperti lava dan lahar panas yang dimuntahkan dari gunung merapi. Sehingga orang lupa akan jati dirinya. Seolah olah otaknya tidak mempunyai potensi. Tidak tahu penyebab dari sikap. Tidak bisa membangun kelompok yang utuh. Tidak mampu membuka mata jendela hati. Tidak mampu mengingat masa lalu yang indah. Yang diingat masa lalu yang menyedihkan melulu. Tidak mampu melakukan istirahat sejenak untuk bisa memulihkan stamina. Tidak percaya diri. Tidak mampu membuat keseimbangan untuk mencontoh perbuatan orang lain sebagai cermianan dari jalan pikirannya.

                Sedangkan potensi Bangsa, kecerdasan para Pemimpin, kualitas para Penyelenggara Negara akan optimal bila saling bersinergi mengolah potensi dari : Letak geografi antara posisi silang berada di antara benua Asia dan Autralia, berada di antara dua Samudra Pasific dan Samudra Hindia. Bahkan terletak digaris Hatulistiwa. Secara Demografi berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 sudah mencapai 247 juta ada pada posisi ke 4 penduduk dunia. Sumber Daya Alam sangat kaya  dengan ketersediaan berbagai logam dan air sangat cukup. Ideologinya sangat moderat dengan Pancasila sebagai pemersatu kebineka tunggal ikaan. Laju pertumbuhan ekonomi sangat menjanjikan. Negara Italia saja hanya mempu mendongkrak LPE 1,5%. Keanekaragaman budaya dan hayati yang begitu lengkap. Bahkan pasca kemerdekaan Republik Indonesia ke 66 situasi keamanan relatif aman jika dibandingkan dengan negara=negara di Timur Tengah yang selalu terjadi perang saudara.

                Yang sangat disayangkan ternyata di berbagai media selalu mengangkat dari sisi negatifnya saja seperti masalah : Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Kemiskinan ahlak dan kemiskinan dari sisi ekonomi baik secara kultur maupun struktur. Realita sosial yang menuntut kemerdekaan dan pemisahan diri dari NKRI. Tawuran antara warga, antar mahasiswa, antar pelajar. Narkoba dan psikotrofica/NAPZA. Ancaman Bom dan Teroris. Kemalasan dari Sumberdaya Manusia. Ketidak puasan terhadap Kepemimpinan Bangsa. Keamanan sosial dengan maraknya berdiri berbagai LSM yang merongrong para Penyelenggara Negara. Bobroknya moral genrasi muda dan generasi tua. Kenakalan remaja dan penyimpangan perilaku. Merebaknya pornografi dan porno aksi. Bertambahnya penderita HIV/AIDS. Utang Luar Negeri yang tidak pernah selesai.

                Dari fenomena yang terjadi antara ketidak optimalan memanfaatkan potensi dan tidak terkendalinya masalah. Maka Walikota Sukabumi membuat suatu kebijakan di bulan September itu menyisihkan waktu luang liburan para Penyelenggara Pemerintah Daerah, baik eselon II maupun eselon III diikut sertakan mengikuti kegiatan. “Wisata Rohani” yang sedang di Kembangkan oleh Secapa Polri ( NAC ). Dengan harapan ada perubahan mind set dari berfikir negatif pada berpikir positif. Dari ragu ragu kepada percaya diri. Hal ini untuk menggerakan energi positif menjadi sebuah karya besar menghadapi masalah demi ketemunya solusi. Mengolah potensi diri menjadi sebuah kekuatan besar demi kesejahteraan umat manusia  dan alam semesta.

                Pada mulanya semua orang tidak memahami persis mau dimana kemana alam pikiran para penyelenggara Pemerintah Daerah Kota Sukabumi mesti diwajibkan hadir dan mengorbankan waktu luang untuk keluarganya. Ternyata tahap demi tahap diberikan materi oleh Trayner dari mulai ice breacking sampai pada pada penyerahan diri kepada sang Maha Pencipta menurut kepercayaan dan agama yang dianutnya. Dengan pola membangkitkan rasa Nasionalisme. Untuk saling menghargai dan saling memahami karakter dari setiap individu yang unik itu. Tetapi juga manusia itu universal. Sebenarnya metode membangkitkan motivasi dan jati diri itu sudah banyak di sampaikan para ahli. Termasuk oleh Ari Ginanjar dengan ESQ sebagai mengembangan dari para pendahulunya seperti Howard Gardner. Ataupun Danel Goleman dengan bukunya NEWS LADERS.

                Kenapa gaya kepemimpinan itu harus selalu diperbaharui. Sebab dinamika manusia dan kondisi alam ini selalu berputar yang dipengaruhi oleh musim dan gaya tarik dengan gaya gravitasi bumi. Selalu berubah. Hanya manusia kadang bingung dari mana cara merubah sesuatu itu. Kadang kala selalu ingin merubah orang lain. Padahal yang paling tepat adalah memulai merubah diri sendiri keluarga, lingkungan akan mengikuti. Kalu teori environment tentunya yang paling mempengaruhi perilaku seseorang adalah lingkungan. Kenyataannya bahwa potensi diri sebenarnya yang harus mau dan mampu dikembangakan dan dirubah sesuai dengan kondisi alam dimana manusia itu hidup dan berkembang. Justru bagi umat Islam yang taat akan ajarannya akan mengembangkan pola pikirnya untuk menjaga dirinya dari api neraka baru kepada keluarga, tetangga dan lingkungan sekitar akan mengikuti.

                Kalaulah setiap individu yang hidup di alam teknologi dan dunia firtual serta dunia maya itu tidak diikuti. Maka jelas akan terlindas dan tertinggal jauh. Disebabkan ketidak tahuan dan ketidak mauan untuk merubah diri menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Ketika tertinggal jauh bukan mencari solusi malah berterikan bahwa alam ini ganas. Alam tidak bersahabat dan berbagai cacian serta umpatan keluar seperti orang stres berat. Padahal agama Islam telah mengamanatkan kepada pengikutnya untuk memudahkan setiap urusan. Barang siapa yang memudahkan setiap urusan maka akan dimudahkan oleh Allah SWT. Dalam setiap persoalan yang sedang dihadapinya. Makanya filosofi “Konaah” harus dijalankan supaya “Teu ngarasula”. Yakni dalam diri bahwa Allah SWT tidak akan memberikan yang diinginkan tapi Allah akan memberikan yang dibutuhkan oleh setiap Insan Manusia.

                Boleh visi dan cita-cita di canangkan se menantang mungkin. Dengan target yang disepakati. Tapi harus diperhatikan tentang potensi yang sudah dimiliki dan hambatan yang akan terjadi. Idealisme penting tapi perilaku harus realistis. Karena di dunia ini tidak ada yang ideal. Tidak banyak orang yang menyadari kenyataan yang sedang terjadi. Kadang kala hidup manusia terbawa oleh alam mimpi yang tidak diikuti dengan alam pikiran rasional. Akhirnya jadi manusia penghayal. Walaupun berpikir abstrak itu penting tapi harus diimbangi dengan situasi dan kondis serta potensi diri. Jangan sampai terjadi pada peribahasa sunda “ Piit ngendeuk-ngendeuk pasir. Pacikrak ngalawan merak”. Jangan sampai membuat komparatif dengan yang tidak seimbang. Kalaulah bersaing harus yang setara. Kalau ukuran kemajuan Indonesia mengacu pada Amerika dan Eropa. Mungkin sampai kapanpun akan terjadi stagnasi. Sebab IPOLEKSOSBUD HANKAM AGAMA antara bangsa Indonesia dengan bangsa lain di belahan benua pasti berbeda.

                Mengapa Indonesia ini seolah-olah miskin dan dianggap terbelakan, atau di masukan negara berkembang. Karena beda parameter yang digunakan. Yang salah adalah terlalu meratifikasi hukum yang berlaku di luar negeri. Sehingga ketika tidak tercapai terjadilah finalti dari negara-negara maju. Yang namanya di finalti. Ya pasti kebobolan. Ketika terjadi kebobolan maka terjadilah pesimisme dan skeptis. Tidak akan mau dan mampu mengejar ketertinggalan gool yang sudah terjadi. Kenapa demikian karena sikologis orang yang mengikuti dengan orang yang diikuti pasti beda. Silahkan perhatikan ketika orang konpoy saja beda konsentrasi orang yang mengikuti dengan yang diikuti. Jadi kalau bangsa Indonesia ingin maju jangan terlalu mengikuti aturan negara yang sudah maju. Tapi bagaiman merubah diri dan mengembangkan diri sesuai dengan IPOLEKSOSBUD HANKAM AGAMA yang telah dimiliki bangsa Indonesia.

                Kalaulah Kota Sukabumi Ingin maju jangan terlalu mengikuti perkembangan daerah lain tapi rasakan dan sadari apa yang sedang terjadi di Kota Sukabumi. Berapa potensi PAD yang dimiliki. Bagaiman karekater Masyarakatnya. Makanya para Pejabatnya harus mampu merubah dirinya masing-masing demi kesejahteraan bersama. Bukan berarti harus tertutup dari dunia luar. Tapi bila mau maju maka harus sadar akan potensi diri. Tinggal menentukan apakah akan mengembangkan tatakrama. Akan mengembangkan kompetisi. Akan mengembangkan konflik. Akan membentuk karakter etika, estetika, logika dan teologika. Atau akan mengembangkan siapa yang kuat itu yang dapat. Apakah akan mengembangkan budaya premanisme. Apakah akan mengembangkan budaya agama. Apakah akan mengembangkan teknokrat. Apakah akan mengembangkan akademisi. Apakah akan mengembangkan kejujuran dan kesederhanaan. Atau akan mengembangkan karakter orang JEKREM.

                Kesepakatan apapun yang diambil oleh diri sendiri maka akan memberikan konsekwensi pada diri sendiri. Tergantung ukuran mana yang akan diambil dan dipergunakan. Jangan sampai tanggung jawab besar tapi kewenangan dibatasi. Jangan sampai tanggung jawab kecil hak ingin besar. Kalau mau ukurannya eselonering maka hak dan kewajibannya harus sesuai dengan eselonering. Kalau ukurannya kelembagaan maka bobot kelembagaan harus disesuaikan antara hak dan kewajibannya. Misalnya bobot Badan yang satu harus disesuaikan dengan bobot Badan yang lainnya, baik yang berhubungan dengan hak maupun kewajibannya termasuk fasilitasi anggarannya. Bobot Kantor yang satu harus sesuai dengan kantor yang lainnnya. Bobot dinas yang satu harus sesuai dengan dinas lainnya. Typelogi organisasi atau kelembagaan harus disetarakan antara hak dan kewajibannya. Kalau ukuran yang disepakati senioritas kepangkatan maka itu yang harus disepakati. Kalau ukurannya masa kerja ya hak dan kewajibannya harus disepakati itu.

                Ketika KUA dan PPAS ditentukan, maka Hak, tugas, tanggung jawab harus sesuai dengan kontribusi yang mesti diberikan oleh suatu lembaga pada pencapaian visi supaya misi yang sudah ditetapkan dan disepakati di dalam RPJMD atau RPJPD tercapai. Ketika ada perbedaan perlakukan pada institusi yang setara, antara jabatan yang diemban, antara golongan yang di duduki dan antara eselon yang dipercayakan kepadanya. Maka motivasi apapun yang diberikan tetap saja tidak akan merubah situasi dan kondisi yang akan terjadi. Sehingga output yang diharapkan tidak akan tercapai mulus dikarekana tidak balance. Sebab teori balanced cord card yang dikembangkan oleh KAPLAN NORTON  ukurannya adalah keseimbangan antara “Pengorganisasian/kelembagaan. Sumberdaya Manusia. Kauangan dan Pertumbuhan serta Perkembangan/Pembelajaran”.

                Ketika anggaran Badan hanya sama dengan anggaran kantor atau anggaran Kecamatan,  fungsi dan tugas pokok Badan itu tidak akan tercapai. Ketika anggaran Dinas yang satu dengan Dinas yang lain terlalu curam perbedaannya.  Jangan harap ada kesamaan derap langkah yang mengarah pada pencapaian tujuan. Yang akan terjadi malah komflik baik secara terbuka ataupun secara tertutup. Semu perubahan akan terjadi tergantung kesepakatan apakah akan mengukur kinerja. Medngukur loualitas. Mengukur keberhasilan politik. Keberhasilan gengsi dan reputasi untuk prestise. Atau ukurannya kesejahteraan. Yang diukur oleh “sepi ing pamrih rameing gawe”.

                Jadi perubahan pola pikir pola tindak dan pola perilaku. Tergantung pada hak dasar dan kewajiban dasar yang diimbangi dengan kewenangan yang diberikan. Sehingga potensi otak, sikap, team building, mata hati, daya ingat, membaca pikiran orang, percaya diri, keseimbangan menirukan perilaku orang lain, keteraturan beristirahat. Akan diarahkan pada pelaksanaan misi demi terwujudnya visi. Tapi kalau ada perbedaan perlakuan. Jangan harap ada perubahan pasti akan terjadi starus quo orang mencari dalam posisi aman-aman saja. Tidak siap mengarungi tantangan dan hambatan. Bisakah semua pembaca dan penulis memulai untuk “ Ibda binafsih”. Kalau tidak jangan harap ada perubahan yang signifikan.

2 Tanggapan

  1. setuju….ok lah kalo begitu…semangat terus untuk belajar. MAJU INDONESIAKU. Hidup KOTA SUKBAUMI…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: