Meningkatkan Keseimbangan Diri

Menyongsong era globalisasi dituntut adanya keseimbangan diri untuk mampu  eksis dalam badai dan gelombang kehidupan yang penuh persaingan. Di sini harus mampu meningkatkan mutu yang terstandarisasi. Kenapa demikian ? karena orang bermutu dan  berkualitas akan mampu hidup dalam era global. Tidak akan tersisihkan atau jadi bulan-bulanan. Tetapi akan aman nyaman tentram. Sebab salah satu ciri berkualitas memiliki nilai tambah dan nilai jual yang bisa ditawarkan pada orang lain.

 

Menurut Prof Mulyasa tanggal 3 Juli 2009 bahwa ” Sifat globalisasi tidak bolak-balik tapi satu arah. Misalnya dari orang pinter pada orang bodoh, dari negara maju pada negara berkembang, dari yang besar pada yang kecil, dari orang kaya pada orang yang miskin dan tidak sebaliknya” contoh pada bulan juli tahun 1997 Indonesia terkena krisis tidak berpengaruh pada Amerika dan Prancis. Tetapi ketika Amerika Serikat krisis maka ada pengaruh pada Indonesia. Bahkan  tidak menunggu waktu, pada saat itu juga langsung terasa dampaknya dan berkepanjangan.

 

Jadi bagaimana sebaiknya untuk menjaga keseimbangan diri. Yaitu harus pintar, oleh karena itu orang pintar harus bisa mempengaruhi masyarakat yang bodoh melalui upaya belajar. Kunci belajar adalah membaca. Sedangkan terjadi proses belajar sepanjang hayat harus  meningkatkan apa?, mengubah apa?, solusi apa?, memberikan nilai tambah apa?.dan akan dilirik oleh orang lain. Yang ditawarkan akan mengubah seluruh perjalanan hidup.

 

Mari semua berfikir bagaimana melakukan rekayasa yang konstruktif supaya seluruh sumber daya alam bisa dimanfaatkan  sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat. Janganlah terbawa larut pada pertanyaan Kenapa bangsa ini belum mampu berkualitas?. Padahal kaya akan sumber daya alam!. Lantas dimana posisi sumber daya manusia saat ini. Kenapa yang dipunyai malah, terjual, tergadai, terbengkalai. Apakah karena usia merdekanya baru 64 tahun sehingga belum mantap dan masih mencari bentuk strategi yang sesuai dengan philosopi Pancasila. Atau terlalu cepat mengadopsi teori Amerika Serikat yang sudah ± 300 tahun merdeka, sehinngga kedodoran terus dalam tatanan implementasinya. Atau terlalu kurikulum oriented sehingga  pendidikan belum optimal memberikan kemampuan dasar untuk hidup. Sudahkah semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri. Atau malah tertekan ide dan gagasannya oleh himpitan politik dan amang-amang jargon ”KKN”.

 

Disinilah diperlukan persepsi yang sama dalam menyikapi persoalah hidup dan kehidupan. Sudah barang tentu standarisasi dan profesionalitas bisa dibangun secara utuh bila sumber bacaannya sama, philosipi dan pandangan hidupnya sama, budaya/kulturnya sama, sosiologinya sama. Kesamaan di sini dalam arti nilai-nilai universal yang diakui oleh insan manusia yang berbhudipekerti luhur. Sebagai warisan nenek moyang dan leluhur yang mencari dan mengharap ridho Illahi Robbi. Namu bukan berarti menapikan perubahan, melainkan harus siap dengan perubahan yang sesuai dengan jamannya masing-masing. Dan justru harus diyakini bahwa generasi yang akan datang akan berbeda persoalannya dengan generasi masa lalu dan masa kini. Sehingga perlu ada kajian dan penelitian secara terus menerus baik yang dilakukan secara eksperimen maupun non eksperimental.

 

Penelitian itu bisa secara Interaktif ataupun non interaktif ( kualitatif) dengan sumber data yang reliabel dan valid untuk dideskriptifkan dikomparatifkan, dikorelasikan atau melaui  survei expost facto evaluatif. Bila dicermati secara mendalam bahwa penelitian Interaktif ,misalnya: etnografis , fenomenologis, studikasus teori dasar, studi kritikal. Sedangkan Non interaktif misalnya; analisis konsep, analisis historis, analisis kebijakan. Bahkan bisa saja deskriptif, tindakan penelitian dan pengembangan. Harus diyakini bahwa Rahasiah keberhasilan penelitian. Kuncinya kuasai metode penelitian. Dengan catatan membaca buku penelitian jangan hanya satu. Terutama dalam penelitian Kesejahteraan masyarakat, harus didalamai tentang; kecakapan, usaha, kebiasaan hidup, kreatifitaas, disiplin kerja. kejujuran. Makanya dalam melakukan penelitian jangan lupa melakukan langkah-langkah  perencanaan, pengumpulan, analisis, interpretasi. Yang akan mempermudah mendapatkan data adalah Triangulasi dari . Wawancara, observasi, studi dokumen. Namun jangan lupa bahwa Informan harus diperhatikan siapa orang yang paling tahu.

 

Mengapa penelitian itu menjadi penting dalam meningkatkan keseimbangan diri? Karena perubahan itu pasti terjadi, tapi bangsa ini sangat lamban melakukan perubahan dan jarang yang survaif dalam menghadapi goncangan dari sebuah perubahan sehingga menjadi manusia yang ”membebek”. Bahkan kelambanan perubahan itu diakibatkan keengganan menerima dampak ketidak pastian. Secara empirik perubahan yang radikal bisa terjadi bila ada revolusi sosial, tapi kalau perubahan budaya harus melalui proses pendidikan yang panjang. Pada umumnya orang takut terhadap perubahan yang spektakuler. Padahal Organisasi bagus bukan dalam keadaan tenang. Tapi bagaimana Dia menghadapi krisis. Bagaimana mengambil keputusan, pimpinan yang tangguh bukan hanya dalam keadaan stabil tapi harus mampu dan mau  ambil keputusan apapun resikonya.”perahu aman bukan yang ada di pelabuhan”. Tetapi ada di tengah samudra, tidak bocor, tidak tenggelam. Melainkan terus melaju mengikuti arus badai gelombang lautan menuju pulau dan benua. Sudah barang tentu dengan perbekalan yang cukup untuk penumpang seisi perahu itu.

 

Istilah Prof. Dedi Mulyasana ”mari kita belajar dari itik yang merasa aman hangat ketika berada dalam relor. Mereka  tidak akan jadi itik bila tidak mampu menembus skat”,. Kenapa keseimbangan diri itu menjadi penting, karena Pemimpin harus berani mengambil keputusan disaat badai sedang dahsat, atau disaat ada skat yang menjadi barier kemajuan organisasi. Namun dalam keadaan tenang harus mampu melakukan bargaining. Tapi disaat terjadinya erosi bhudi pekerti sulit menemukan pemimpin ideal, karena. lebih banyak kepentingan pribadi dari pada kepentingan organisasi. Banyak organisasi yang instan dari pada pertumbuhan jangka panjang. Kadang muncul pertanyaan mengapa organisasi politik rontok sebelum tumbuh dan berkembang?. Apakah Idologinya tidak kuat, sehingga rentan terhadap berbagai  kepentingan. Atau karena  kesejahteraannya belum mapan .

 

Maka disinilah diperlukan keseimbangan diri supaya adil,  proporsional dan profesional. Sehingga Seseorang bisa pintar, bisa ambil keputusan, tangguh, tanpa harus melupakan kepentingan diri. Namun  Prinsip keadilan sudah jadi barang langka. Ketika terpepet akan mementingkan kepentingan diri, anak, dan keluarganya. Makanya menurut Prof. Dedi Mulyasana tanggal 4 juli 2009” di tengah kompetisi dan keberanian, maka  basicnya harus kuat . Bila tidak! akan main dipermukaan dan akan terapung tanpa mesin”. Harus diingat bahwa Tidak ada organisasi yang tidak bersaing dengan yang lain. Lupa dirinya tidak seperti anak itik yang begitu menetas bisa langsung lari dan makan. Jadi tidak bisa memimpin organisasi dengan keinginan dan semangat saja. Tetapi harus ada prinsip dasar yang kuat. Karena  dalam kompetisi  bahwa pimpinan harus selalu ada di depan untuk mencapai garis finish. Jadi disaat Orang berdiri harus sudah lari, di saat orang lari harus sudah sampai, di saat orang jalan dia sudah lari. Harus diingat bahwa pemimpin yang tangguh dan baik adalah yang mampu dan eksis di zaman-nya tanpa mengubah sisi keunggulan para kompetitor. Harus dihindari sikap menyerang, karena orang akan mencari kelemahan. Biasanya pimpinan yang tangguh akan mampu menemukan orang berprestsi. Dan  bukan hanya pandai menghukum orang.Walaupun teori prodktivitas itu bermanfaat untuk “Total Quality Manajemen” tapi harus diingat bahwa manusia itu tidak bisa diperlakukan secara mekanistik, tapi harus humanistik. Saat ini orang sudah terobsesi untuk bersikap efesien untuk instansi tapi tidak efesien untuk  insani. Sehingga muncul ekses “sing bisa, sabisa-bisa kudu bisa”

 

Rupanya lupa bahwa manusia itu ingin diakui kekuasaannya. Ingin ada pengakuan, kekuasaannya. Kesalahan pemimpin yang tidak terasa, ia memimpin melampaui batas kewenangan, kehormatan, harga diri, privasi. Jadi kenapa membangun dan meningkatkan keseimbangan diri itu menjadi penting. Karena ”keseimbangan dan  kekuatan diri serta stabilitas emosi yang tulus dan ikhlas selalu memproduksi sel-sel kekebalan awet muda. Kulit akan lama bertahan 5-7 kali lipat dibanding dengan yang stres”. Yakiniliah bahwa  Perasaan takut didesain oleh diri sendiri. Rasa nyaman didesain oleh diri sendiri keburukan didesain diri sendiri . Orang yang selalu dicurigai tidak akan berubah menjadi baik. Maka yakini yang kita benci pasti pernah berjasa, ”melihat bangkai jangan dicium baunya lihat mungkin giginya masih putih”. Untuk meningkatkan keseimbangan diri harus mengenal Blue ocean (strategi laut biru) yang bergelombang, tapi tidak berdarah-darah. Menyerang, melibas orang akan dicari kelemahannya. Carilah posisi yang terbaik tidak berbenturan dengan orang.

 

Meningkatkan keseimbangan bisa dilakukan dengan ’Kanvas stastegy’ kemampuan orang untuk menghadirkan masa depan ke meja kerja hari ini. Kita akan bisa bersaing tanpa menyakiti. Tidak perlu menggembor-gemborkan kejelekan orang. Otoriter diktator dalam rangka menutupi kelemahan akan menumbuhkan ketidak seimbangan. Jangan proteksi kelemahan tapi harus diperbaiki. Tidak ada manusia normal yang tidak bisa diubah. Pemimpin harus mempunyai peta kepribadian, peta mental. Seburuk buruk orang bila didekati akan berubah. Menurut Prof. Dedi Mulyasana ”harus menyeimbangkan antara logika, hati, iman. latihlah  fisik melakukan amal supaya jadi Insan Kamil”. Lantas bagaimana supaya bisa kembali ada sikap saling pengertian, saling membantu, saling menutupi kekurangan dan kelemahan. dan kerjasama Bila ada yang lemah jangan dimatikan supaya ada keseimbangan baru. Organisasi itu  harus seperti tubuh/Badan        (semua komponen membantu yang sakit supaya ada keseimbangan baru). Ingat bahwa dalam organisasi itu kekuatannya ada pada mata rantai yang lemah, sehingga bila ada bagian lemah bisa jadi organisasi itu semuanya menjadi lemah. Supaya muncul keseimbnagan diri jangan saling hantam dan saling mematikan.

 

Supaya setiap keputusan enak untuk dilaksanakan. Maka setiap penugasan harus diimbangi dengan  pelimpahan kewenangan yang paripurna dan jangan takut dikudeta. Namun prinsip hierarki supaya ada kontrol dan pengendalian. Mengapa keseimbangan itu penting karena bila birokrasi terlalu kuat akan lambat dan tidak lincah. Harus diperhatikan bahwa tanggung jawab atas kegiatan yang dilakukan bawahan. Akan kemabali tanggung jawabnya pada pengambil keputusan. Disinilah diperlukan prinsip span of control supaya ada komunikasi.

 

Jangan sampai terjadi bawahan tidak mau menolak perintah tapi dibalik itu bawahan tidak sanggup untuk melaksankan perintah. Nantinya akan terjadi ketidak seimbangan antara tugas tanggung jawab dan kewenangan. Atasan harus mengetahui kondisi riil dilapangan. Prinsip stabilitas personal  akan mampu menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Stabilitas pemikiran, sikap, emosi. keterampilan, tidak temperamental harus di benahi supaya tidak berpengaruh pada stabilitsas diri. Ingat orang banyak marah cape bahkan kata Prof. Dedi Mulyasana ”hasil riset antara orang marah dengan orang rileks enerji 1 banding 3.

 

Disinilah pentingnya Balance scord card yang merupakan salah satu methoda dalam kontek aplikasi manajemen bisnis  yang diturunkan pada manajemen mutu ke menajemen strategis. Harus ada sadar diri dan sadar kolektif ( self consistent) tentang apa tugas hamba Allah yang  lemah, apa kewajiban yang harus dijalankan, apa tanggung jawab, manusia sebagai kholifah, bisakah menjadi orang sholeh. Kenapa harus ada keseimbangan dan konsistensi. Sebab dunia sekarang pasca aliran positivisme ( saintific, objektif, faktual, empisis) mesti ada angkanya. Kalau tidak ada bukti angka nominal yang ditabulasikan dalam sebuah angka statistik bisa dikatakan bohong. Hal itu bisa dikatakan hanya setengah benar.

 

Untuk menyeimbangkan aliran positivisme maka harus ada analisis habis-habisan, ada  ikhtiar yang kuat. Harus ada Ijtihadi tanamkan sikap mental  yang diajukan tidak bisa main-main . Harus ada pemikiran ruhiyah. Ingat bukan hanya benar yang logis, estetis, rasional, tapi harus bangkit jadi masyarakat madani yang seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat. Bukan hanya kebenaran yang nampak dengan angka yang harus diyakini tapi kebenaran ghoib yang qur’ani harus di imani.

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: