Pemberdayaan Perempuan

Perempuan merupakan sosok manusia yang mampu menjadi perisai perjuangan kaum laki-laki, bahkan umat Islam hapal betul bagaiaman sosok Siti Aminah bertahan hidup paska ditinggalkan suaminya Abdullah. Mampu bertahan hidup dan melahirkan Rosulullah SAW. Bagaimana telatennya Halimatussa’diah menyusui Rosulullan SAW. Bagaimana komunikatifnya Maesyaroh menyambunghkan silaturahmi Rosulullah SAW dengan Siti Khadijah. Dan  bagaimana Siti Khodijah mengorbankan harta, tenaga, pikiran demi perjuangan Rosululloh SAW. Bahkan istri para shahabat sanggup ditinggalkan suaminya untuk berperang  memperjuangkan  agama dan aqidah demi meraih keridhoan Allah SAW. Bagaiman Siti Aisyah dengan kecerdasannya mampu mengungkapakan contoh-contoh pergaulan suami istri yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW dan menjadi pemimpin umat paska wafatnya Rosulullah SAW.

 

Jadi perempuan itu baik secara idividu maupun berkelompok mampu berkiprah dan berperan sesuai dengan kondratnya mempersiapkan tenaga-tenaga potensial sebagai sumber daya manusia yang berkualitas. Secara sistimatis sejak berada dalam rahim sampai anak dewasa dibimbingnya melalui pendidikan informal, nonformal, formal maupun dalam siklus delapan pungsi keluarga. Namun secara factual dalam buku Membangun Keluarga Sehat dan Sakinah dinyatakan  bahwa “ berdasarkan data SDKI 2002-2003, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sebesar 307 per 100.000 kealahiran hidup” (BKKBN, 2008:53). Sedangkan di Kota Sukabumi pada tahun 2008 tercatat 6 orang (Sumber: PWS KIA Seksi Keskom Th.2008)

 

Dengan demikian harus ada upaya-upaya konkrit dalam menurunkan angka kematian Ibu. Mulai dari pendewasaan usia perkawinan, merencanakan kehamilan yang aman, memelihara kesehatan alat reproduksi, pengaturan jarak kelahiran yang ideal, memperhatikan kecukupan gizi seimbang. Kesemuanya itu merupakan tugas pokok dari masing-masing OPD yang perlu dilakukan secara terintegrasi dengan memanfaatkan sumber daya dari masing-masing OPD dan partisipasi masyarakat. Sesuai dengan prinsif good governance (tata kelola pemerintahan yang mensinergikan antara goverment, privat sector dan sosiety).

 

Pendewasaan usia perkawinan masih merupakan kontraversi, karena di dalam UU nomor 1 tahun 1974 dinyatakan bahwa usia perkawinan pertama yang diperbolehkan adalah 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki, tetapi berdasarkan buku Keluarga sejahtera dan Kesehatan reproduksi ”Usia yang ideal dalam pernikahan adalah antara 20-25 tahun bagi perempuan dan usia 25-30 tahun bagi laki-laki” (K.H.Abdullah Hasyim dkk, 2008: 10). Disinilah harus lebih arif dan mempunyai metode KIE yang efektif dalam pendewasaan usia perkawinan dilakukan oleh Departemen Agama dengan jajaran KUA yang tersebar di setiap peloksok dengan bantuan petugas pembantu pencatat nikah yang ada di Desa/Keluarahan.

 

Bila terpaksa harus menikah di usia muda, maka BKKBN harus bekerja ekstra dengan PLKB, FPKB, Pos KB, Sub Pos KB untuk melakukan KIE kepada pasangan pengantin muda supaya masuk menjadi akseptor KB dengan memilih alat kontrasepsi yang diminati dan cocok dengan kondisi fisik dan psikis dari masing-masing. Jika menggunakan non hormonal seperti Kondom, itu bisa dilakukan oleh aparat BKKBN karena tidak perlu membutuhkan bantuan medis. Dan hormonal dalam bentuk PIL  itupun bisa dilakukan oleh BKKBN.

 

Apabila menggunakan alkon hormonal seperti  Inplan, suntik itu perlu mendapatkan layanan dan koordinasi dengan tenaga Kesehatan. Begitu pula bila menggunakan alkon non hormonal dalam bentuk IUD harus menggunakan jasa dan bantuan tenaga medis, baik bidan maupun dokter yang ada dibawah koordinasi dan pembinaan Dinas Kesehatan. Jika Alkon yang digunakan tidak efektif dan mengakibatkan kehamilan maka secara otomatis Aparat Dinas Kesehatan mengambil alih peran untuk memelihara kehamilan sampai melahirkan dengan selamat dan itu masuk dalam program gerakan sayang ibu. Bahkan saat ini sedang digelorakan Kelurahan Siaga dan RW Siaga.

 

Merencanakan kehamilan pertama yang aman masuk dalam program PIK KRR. Untuk pusat informasi dan komunikasinya menjadi tupoksi BKKBN, sedangkan Konseling Reproduksi Remaja menjadi tugas pokok Dinas Kesehatan, sehingga akan lebih efektif bila program pembinaan remaja dilakukan secara terintegrasi dalam wadah PIK KRR dan untuk tingkat kota bisa dikoordinasikan oleh Forum PIK KRR. Untuk itu tutor sebaya diantara para kader perlu dibekali oleh Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat.

 

Kenapa pemberdayaan perempuan harus lebih efektif!

 

Karena berdasarkan hasil pendataan keluarga tahun 2008 bahwa angka penduduk perempuan di Kota Sukabumi mencapai 139.783 berarti 49,72%. Bahkan yang termasuk katagori wanit usia subur mencapai angka 78.340 orang dengan katagori pasangan usia subur 48.699 orang. Baik wanita usai subur atau pasangan usia subur berhimpun dalam organisasi wanita, seperti halnya ; Al-Hidayah, Iwapi, TP PKK, Wirawati catur panca, Aisyiah, IBI, Pasi, IIDI, PWKI, PIVERI, PWRI, IKD, DWP, Perwari, Warakawuri, HWK, BKMM, BKMT, Darmayukti Karini, Bhayangkari, Persit Kartika Chandra, Fatayat NU, Adhiaksa Darma Karini, WKRI, Perip, Bhayangkari Secapa, YTRP, Sekwan PGRI, Perwosi, Kowaveri, AMS Pitaloka. Itu semua ada dalam koordinasi Gabungan Organisasi Wanita Kota Sukabumi.

 

Semuanya itu merupakan potensi bangsa yang mesti diemvoweringkan, baik dalam aspek, keswadayaan, kebersamaan, keaktifan, kecerdasan, kekaryaan, keshalehan, maupun kesejahteraan. Yang memberikan kontribusi konkrit terhadap pencapaian Indek Pembangunan Manusia. Lantas para pembaca mungkin berfikir bagaimana caranya untuk memberdayakan perempuan itu?. Disinilah diperlukan komitmen dari kaum perempuan itu sendiri untuk berpihak pada kegiatan dan aktivitas yang berpihak pada perempuan. Apabila diantara sesama perempuan itu sendiri tidak membangun citra dan tidak membentuk trust. Maka upaya yang telah dilakukan dalam rangka pemberdayaan perempuan hanya sekedar isapan jempol.

 

Setelah semua perempuan mempunyai komitmen, lantas model dan teori mana yang akan dilakukan dalam menuntut kesetaraan gender itu. Apa ala Amerika dengan konsep neo liberalismenya, atau konsep Islami dengan memperhatikan kodrat kewanitaan yang harus diayomi dan dilindungi oleh kaum laki-laki. Atau meramu keduanya sehingga  menjadi abu-abu dan mencari bentuk sendiri yang keberhasilannya harus diuji dan dicoba dalam waktu yang tidak sebentar. Disinilah harus ada konsistensi dan konsekwen terhadap sebuah teori yang diadopsi atau teori yang dikembangkan sendiri. Sebab setiap paham dan teori yang dianut ada resiko yang harus dihadapi.

 

Kalaulah di Amerika para perempuan menuntut kesetaraan dengan laki-laki, karena banyak komunitas singlepern dan free sex. Sehingga pekerjaan apapun bisa dilakukan oleh perempuan, kecuali melahirkan anak. Jadi nilainya berbeda dengan konsep Islam yang menjunjung tinggi perempuan sebagai perisai perjuangan kaum laki-laki. Walaupun perempuan bisa mengerjakan apa saja, tapi ada norma yang harus dipelihara bahwa permpuan itu ada dalam pengampuan suami, sehingga karya dan profesi tidak boleh bertentangan dengan kodratnya perempuan. Bisa dibayangkan bila semua ranah pekerjaan laki-laki dipenuhi oleh perempuan dan laki-laki menjadi pengangguran tak kentara, maka kerawanan sosial dan mungkin kejahatan akan muncul dimana-mana.

 

Kondisi saat ini konsep kesetaraan gender semakin luas, tapi semakin kabur kemana kiblatnya, sehingga muncul korban kekerasan dan kebiadaban, baik yang dilakukan oleh laki-laki ataupun yang dilakukan oleh perempuan itu sendiri. Dalam konsep Islam bahwa talaq ada di laki-laki sehingga tempo dulu wajar bila istri sangat manut ke suami. Dan suami menyadari bahwa yang berkewajiban mencari nafkah adalah laki-laki. Sehingga sebelum menikah mencari dulu pekerjaan yang bisa menafkahi keluarganya. Tapi kondisi saat ini bila salah menerapkan konsep kesetaraan yang dianut Amerika maka perempuan bisa melaporkan kepada aparat untuk menuntut cerai dengan dalih KDRT. Etika Amerika bahwa perempuan bisa bersuami lebih dari satu. Ungkapan itu dimaksudkan agar bangsa Indonesia punya jati diri, jangan bangga dengan teori dan paham bangsa asing dalam pemberdayaan perempuan. Sebab bila tidak konsekwen dan konsisten dengan jati diri bangsa mungkin akan semakin banyak korban pelecehan dari bangsa lain, seperti halnya kasus Manohara ataupun para korban trafiking lainnya.

 

Jadi konsep pemberdayaan perempuan yang pas dengan norma, etika dan budaya bangsa Indonesia adalah mendorong kiprah perempuan sesuai dengan agama dan budaya yang dianut para leluhurnya. Karena bila dipaksakan melakukan perubahan total yang bertentangan dengan jati dirinya, maka sifat dan karakternya akan kabur. Bagaiman supaya perempuan berdaya maka harus peka terhadap kesempatan,  tahu situasi dan kondisi, pandai memanfaatkan momentum, harus mencontoh para tohoh perempuan yang sudah berhasil. Seperti dilansir dalam sebuah koran terbitan Sukabumi tanggal 2 juni di halaman 12 dinyatakan kemunculan perempuan sejak kerajaan Kalingga seperti halnya Ratu Shima, Ratu Suhita dari Majapahit, Ratu Kalinyamat dari Mataram, Cut Nya Dien, Nyi Ageung Serang, Maria Oelfah Soebadio, SK Trimurti, Lasiyah Soetanto, Mien Soegandi, Nani Soedarsono, Tuty Alawiyah, Tuty Hardianti Rukmana, Khofifah Indar Parawansa, Mutia Hatta bahkan Megawati.

 

Kalaulah Pemberdayaan Perempuan itu merupakan salah satu urusan wajib Pemerintah Daerah, maka di setiap daerah telah dibentuk Badan atau Kantor yang menangani pemberdayaan perempuan. Maka marilah kaum perempuan memanfaatkan momentum itu dengan sebaik-baiknya.

Satu Tanggapan

  1. di dunia ini tidak ada program yang bisa dikerjakan sendiri. dan tidak ada kewenangan yang paripurna. disiniliah harus saling menghargai fungsi dan peran dari mitra kerja. apakah ada program yang masuk kemasyarakat tanpa ada pemberdayaan masyarakat. jadi semua OPD saling memerlukan. sebenarnya KB dengan islam sinkron contoh ” wal yahsyalladi lau taroqu min kholfihim durriyyatan diafa”. sedangkan ukuran dewasa dari segi mana memandangnya maka persepsi itu yang harus disamakan, dan harus sepakat dalam perbedaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: